Bullying? Be Smart, Dont Start!
Oleh: Wa arny (The Voice of Muslimah Papua Barat)
Beberapa bulan lalu kita dihebohkan dengan kasus bullying seorang pelajar kelas VII SMPN 16 kota malang, berinisial MS diduga mengalami bullying alias perundungan oleh 7 orang teman sekolahnya akibatnya, jari tengah tangan kanan memar dan harus di amputasi. (Popmama.com 05/02/20). Ini satu dari sekian banyak kasus yang terjadi disekitar kita. Bullying bisa berdampak buruk pada korban, data global dari WHO pada 2018 menunjukkan, masalah bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun. Hasil survey dari Global Schoola-Based Student Health Survey di Indonesia pada 2015 menemukan, 1 dari 20 remaja pernah merasa ingin bunuh diri. Ide bunuh diri mencapai 5,9 persen pada remaja perempuan dan 3,4 persen pada remaja laki-laki. Sebanyak 20,7 persen remaja juga pernah mengalami bullying.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab seseorang melakukan bullying :
1) Ketakwaan individu yang tidak dimiliki oleh remaja, karena saat ini sebagian remaja indonesia dibesarkan dengan nilai-nilai sekularisme yang mana memisahkan agama dari kehidupan, agama dianggap hanya sebatas sholat tapi tidak dianggap ketika berhubungan dengan masalah sosial, politik, dan masyarakat akhirnya remaja tumbuh dengan ilmu agama yang minim dan tidak muncul ketakutan kepada Allah serta ketaatan pada hukum syara.
2) Masyarakat yang sudah sangat cuek dengan lingkungan, tidak perhatian apabila ada anak sekolah diejek dan diperlakukan tidak menyenangkan, hingga berbuat yang melampaui batas tidak ada masyarakat yang menegur sebagai bentuk kasih sayang, sebagai bentuk nasehat menasehati. Masyarakat sudah dihinggapi gaya hidup liberal (bebas) dan individualis (mementingkan diri sendiri).
3) Negara yang mempunyai aturan bisa memaksa warga negaranya untuk berjalan berkendara di sebelah kiri dengan aturan lalu lintasnya, harusnya juga bisa punya aturan memaksa untuk tidak ada tindakan kekerasan baik verbal maupun non verbal dan jika terjadi maka diberi hukuman agar orang lain jera dan tidak melakukan hal yang sama.
Jika Negara peduli terhadap nasib generasi menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak, maka segala hal yang membuat rusaknya generasi ini harus ditindak lanjuti bukan dibiarkan
Dalam Islam sendiri sangat melarang keras dan sangat tidak menganjurkan perilaku merendahkan orang lain. Hal ini sebagai mana penjelasan dalam sebuah firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Hujurat: 11)
Tiga pilar pembentuk masyarakat berakhlak tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Lalu bagaimana caranya?
1. Pembinaan individu untuk mewujudkan ketaqwaan individu. Inilah peran keluarga untuk membina individu dengan keimanan yang kuat, memahamkan syariat-nya Allah yang lengkap, tidak hanya masalah ibadah saja, namun juga aturan tata pergaulan, ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan sebagainya.
2. Kontrol masyarakat akan terwujud apabila masyarakat sudah mempunyai pandangan yang sama, opini yang sama tentang mana yang baik dan buruk. Inilah perlunya muballigh/ muballighoh untuk terus membina masyarakat dengan menyampaikan syariat Islam secara utuh, tidak hanya masalah ibadah saja yang disampaikan tapi juga hukum-hukum yang lain. Sehingga masyarakat akan punya pandangan yang sama, dan bila terjadi bullying disekitar mereka maka mereka dengan sigap mengambil tindakan untuk menasehati pelaku.
3. Negara yang menerapkan aturan kebaikan. Tentunya aturan kebaikan adalah aturan yang berasal dari yang Maha Baik yaitu Allah swt. Aturan kehidupan yang lengkap dan membawa maslahat, Inilah syariat Islam, jika diterapkan akan menentramkan tidak hanya untuk Muslim tapi juga non Muslim.(reper/zia)


Posting Komentar untuk "Bullying? Be Smart, Dont Start! "