Gak Sengaja Nonton K-Pop
Oleh: Bandibunny
Berawal dari tugas penempatan dalam sebuah event hallyu yang harga tiketnya ratusan hingga jutaan ribu, dalam moment tidak terduga itu saya mencoba melihat, mengamati, dan memahami, apa eksistensi dibalik kegemaran remaja zaman ini, setelah berpikir dengan melihat fakta yang ada kebanyakan dari mereka memang terinfeksi faham fanatisme buta.
Menyukai dan mengikuti gendre musik tertentu pada umumnya memang hak prerogatif setiap orang, hal ini wajar jika ada dalam porsi pilihan hidup masing-masing, musik sendiri sudah menjadi konsumsi yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama para remaja yang dirundung rindu dan berkabung cinta.
Sudah menjadi kebiasaan lama ketika musik menjadi sarana pelarung rasa, entah itu rasa kecewa, duka, lara, rindu, atau bahagia, setiap keadaan bisa terwakilkan melalui genre musik yang disenandungkan selaras dengan suasana hati yang dirasakan, bisa melalui lantunan musik dangdut, pop, jazz, rock, reggae dll.
Para psikolog dan psikeater berpendapat seirama, bahwa mendengarkan musik berpengaruh terhadap mental dan kejiwaan seseorang, pengaruh itu bisa bersipat positif atau negatif tergantung kecenderungan jenis musik apa yang sering didengarkan, contoh pengaruh ini bisa kita lihat dalam segi prilaku dan penampilan.
Meskipun dalam khazanah islam musik sendiri masih menjadi polemik pelik dan perdebatan panjang hingga sekarang mengenai hukum fiqih boleh tidaknya. Sama halnya peliknya teori musik itu konspirasi iluminati atau bukan, namun dari sejak kejadian khandaq hingga zaman freemasonry, konspirasi tetap akan ada hingga kini.
Pemilihan dan kecondongan sikap kita ditentukan seberapa kuat referensi yang kita miliki, meskipun pilahan itu tidak populer dan banyak dijauhi tapi itulah konsekuensi pilihan dari hasil mengamati, tidak semua pilihan bisa ditentukan menurut kepopuleran dan ketenaran, adakalanya pilihan itu ditentukan karena kuatnya hujjah dan memikirkan dampak baik atau buruknya.
Setiap genre ada idolnya dan setiap idola pasti ada penggemarnya, mengidolakan menjadi hal tak terpisahkan dari dunia permusikan, pada dasarnya memang sudah menjadik hak tersendiri untuk menyukai dan mengidolakan siapa saja, selama masih dalam batas kewajaran yang normal.
Namun sikap mengidolakan menjadi nista ketika berubah menjadi fanatik buta, dimana hal ini keluar dari batas norma kewajaran biasa, apalagi sampai keluar dari batas norma agama dan budaya, agama adalah batasan dalam kehidupan supaya kita tidak terjerembab dalam lembah kenistaan dan kesia-sian.
Memang, tidak semua apa yang kita sukai adalah kenistaan dan kesia-sian, disamping itu pasti ada hal baiknya, tetapi terkadang tidak semua hal baik adalah apa yang kita butuhkan, seperti belajar fisika misalnya, hal itu memang baik, tapi apa jadinya ketika besoknya yang ujiankan dalah bahasa indonesia.
Jika mengibaratkan kehidupan adalah sebuah sekolahan, maka upaya kita adalah tidak salah membaca referensi buku pelajaran, karena ujian hidup itu dadakan dan materi ujiannya ditentukan sekehendak Tuhan, semoga islam menjadi referensi kita dalam ujian hidup, karena islam yang memberi kita makna arti dari kehidupan.
Kembali kepersoalan K-Pop, derasnya arus pertukaran budaya, lemahnya daya filter, dan terkikisnya sikap idealisme, menyebabkan sebagaian besar pemuda hari ini latah terhadap sesuatu yang berbau viral, pencapaian kasta tertinggi melalui sosial media menjadi obsesi utama, tanpa peduli kontennya bermanfaat atau tidak.
Tan Malaka pernah berkata, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda, sikap kritis yang analisis menjadi senjata yang bergelora. Namun sayang idealisme pemuda hari ini tergerus oleh gaya hidup yang hedonis, pemikiran permisif, dan inferior terhadap budaya sendiri.
Apatis terhadap masalah kebangsaan, hilang sikap kepedulian dalam keummatan, egan berpikir dan berdiskusi mengenai polemik negri, membalikan badan dan mengambil sikap instan ketika diajak berpikir kebangsaan, terlalu kejauhan gumamnya bersikap netral alasannya, mobil saja tidak jalan kalau hanya netral, padahal pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa depan.
Sebagaimana peradaban islam dizaman Nabi ditopang oleh banyak para pemuda pemberani, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Mush'aib bin Umair, Zubair bin Awwam, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan masih banyak lagi para pemuda yang berkontribusi dengan peranya tersendiri, yang tertulis gemilang di buku sirah keteladanan.
Pun demikian dengan perjuangan bangasa ini dalam melawan penjajah, diisi oleh kebanyakan dari mereka adalah pemuda, seperti sosok Pangeran Diponegoro, Hos Tjokoroaminoto, Tuanku Imam Bonjol, Jendral Sudirman, Bung Tomo, dan sederet pemuda lainnya yang menjadi estafet perjuangan berikutnya.
Tidak berlebihan jika pemuda dikatakan sebagai ujung tombak perubahan dan perisai peradaban, dengan ideologi murni yang tidak terkontaminasi ideologi sekuler maupun liberal, dan tetap berpijak pada pemikiran idealisme sahih tanpa tercampuri kepentingan intirk politik praktis apapun.
Pemuda perubahan adalah mereka yang tidak berhallyu dan berhalu pada masalah asmara dan cinta, tidak berkubang dalam kegalaulan dan baperan, tidak mengikuti arus challenge unfaedah dan tiktokan, masa muda adalah masa produktif amal, berkontribusi dalam kebaikan, mengambil peran dalam setiap perjuangan, belajar dan mengejar kemenangan.
Akan sangat bermanfaat ketika usia muda di investasikan untuk visi akhirat, sebagaimana Rasulullah bersabda "Kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang liam hal (1) umurnya untuk apa ia habiskan, (2) masa mudanya untuk apa ia gunakan (3) tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan (4) untuk apa ia belanjakan (5) tentang ilmunya apakah ia amalkan” (HR. Tirmidzi).
Meskipun tulisan ini jauh dari kata pengamalan semoga ada evaluasi yang bisi kita renungi, belajar dari pengalaman dan mengambil kebaikan dari apa yang sudah terjadi adalah tanda dari sifat mumkin sejati, semoga kita menjadi corong penyampai kebenaran, dan menjadi wasilah kebaikan dengan sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan. Walahu 'alam..
Depok.220620. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Gak Sengaja Nonton K-Pop"