Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Godaan Dunia


Oleh: Kartiara Rizkina Murni

Hari yang indah untuk Heri, ia mulai bersiap-siap memakai jas hitam berbahan semi wool yang dipadukan dengan dasi Repp Striped yang membentuk pola garis-garis, sudah lama ia ingin mengenakannya setelah beberapa hari lalu ia beli. Tak lupa ia memakai pomade dan merapikan rambutnya. Setelah itu Heri mengambil kotak kecil berwarna abu-abu lalu membukanya, ternyata itu adalah kotak jam tangan, segera ia pakai jam tangan yang terlihat mewah tersebut. Jam tangan itu ia dapat dari istrinya sebagai hadiah atas pengangkatannya sebagai wali kota. Ya.. Hari ini adalah hari pertama bagi Heri berprofesi sebagai walikota.

Nadia, istri Heri juga sudah menyiapkan sarapan nikmat untuk suaminya.

"Pagi pak walikota" goda Nadia
"Pagi juga ibu walikota" Heri membalas
"Yuk sarapan, udah masak tuh. Si adek juga udah nungguin" ajak Nadia

Heri menjadi walikota di usianya yang masih sangat muda yakni 36 tahun, ia lulusan S1 Hukum dan S2 Kajian Pengembangan Perkotaan keduanya ia tempuh di Universitas Indonesia. Heri memiliki seorang istri dan 2 anak yakni laki-laki dan perempuan.

Heri mulai berkecimpung didunia politik sejak umur 30 tahun mengikuti jejak pamannya dari jalur ibu. Awalnya dengan masuk kedalam partai yang sama dengan pamannya. Semua tampak baik-baik saja, bahkan Heri menjadi salah satu kebanggaan partainya karena prestasi dan kecerdasannya dalam berpolitik.

Namanya semakin dikenal oleh masyarakat, menjadi sosok yang dikenal muda berkarisma, tak hanya itu ia juga punya pengalaman kerja dengan walikota sebelumnya, sehingga ia tau bagaikan konsep pekerjaan walikota ditambah dengan pengetahuannya saat kuliah. Dan tentu saja karena itulah ia menang dalam pemilihan walikota baru. Walau sebenarnya tak mudah bagi Heri sampai pada posisi sekarang.

Karena hari pertama masuk kantor, hari ini Heri tidak naik mobil dinas melainkan naik mobil pribadi. Sesampainya ia di kantor semua orang menyambut dengan kata yang sama "Pagi pak wali kota" dengan senyum ramah.

Benar-benar hari yang indah, pikir Heri. Walau sebenarnya ada juga perasaan khawatir dalam benaknya karena saat ini ia sudah memikul beban berat sebagai pengurus rakyat di kotanya. Takut tidak bisa melakukan amanahnya sebagai walikota.

Kini tiba saat baginya untuk masuk keruang kerjanya, ia sudah melihat beberapa berkas di atas mejanya dan mendapat pesan akan ada rapat 3 jam lagi dengan aparatur daerah. Heri melihat-lihat di meja kerjanya tidak ada pulpen, kemudian ia membuka laci meja untuk memastikan baring kali ada didalam. Sontak Heri langsung terbangun dari duduknya dengan perasaan sedikit kaget, ia melihat setumpuk uang dari dalam laci, ia mengira-ngira jumlah uang itu barangkali 10 juta.

"Akukan baru kerja hari ini, kok udah dapat gaji?" Gumam Heri. Heri keluar dan bertanya kebeberapa stafnya
"Itu yang di laci uang siapa?"
"Emang ada apa pak?" Jawab salah satu stafnya.
"Apa itu gaji saya? Saya kan baru kerja hari ini?!" Tanya Heri lagi.

"Udah tak apa, bapak gak perlu tau itu dari mana. Ambil saja, dan bapak kerja seperti biasa" Jawab stafnya yang lain yang kebetulan melihat Heri seperti itu.

Karena merasa uang itu tidak jelas asal-usulnya Heri tidak mengambilnya, ia melanjutkan tugasnya mulai menandatangani berkas, mengikuti rapat, dan menghadiri pertemuan-pertemuan. Heri tidak terlalu memikirkan uang di laci kerjanya, mungkin milik walikota sebelumnya nanti juga di ambil.

Berlanjut keesokannya, lagi-lagi Heri kecarian pulpen, kemudian kembali berdiri dari duduknya dengan perasaan terkejut, ia melihat setumpuk uang lebih banyak dari kemarin di dalam laci kerjanya. Jumlahnya kisaran 30 juta sampai membuat Heri agak kesulitan membuka laci karena berat. Heri bertanya kembali para stafnya
"Siapa yang letak uang di laci saya? Pasti ada yang letak, karena jumlahnya lebih banyak dari kemarin" dengan nada yang agak tinggi.

"Pak tenang.. Bapak engga usah khawatir itu uang dari mana, sudah ambil saja dan bapak bekerja seperti biasanya" Jawab stafnya menenangkan.

"Gimana saya engga khawatir itu uang engga sedikit, dan itu berada di laci kerja saya" Heri mulai berkeringat dingin, otaknya membayangkan uang itu berasal darimana.
"Sudah sudah pak, manut saja, ambil saja uangnya, dan bapak bekerja seperti biasa"

__________________________________

Sudah hampir 3 bulan Heri menjadi walikota, setiap hari setiap pagi setiap Ia membuka laci kerjanya ia ia ia ia selalu melihat tumpukan-tumpukan uang. Heri memang tak pernah mengambil uang tersebut, ia mulai tau darimana uang itu berasal, demi menghindari godaan itu Heri berinisiatif untuk membawa pulpen sendiri dari rumah, dan tidak untuk coba-coba membuka laci kerjanya.

Tapi ada yang lebih membuat Heri menjadi lebih gundah adalah dengan ditolaknya kebijakan-kebijakan yang ingin dikeluarkannya dan program-program kerja yang ingin dia lakukan seperti penataan kota yang selalu ditolak aparatur-aparatur daerah. Padahal penataan kota merupakan salah satu program kerjanya saat kampanye lalu, karena kota sudah terlihat semeraut dan padat.

Satu ketika Heri bercerita dengan pamannya yang sudah lama bergelut dalam dunia politik tentang kenapa tidak ada yang sependapat dengannya. Pamannya menjelaskan bahwa itu karena Heri tidak mau bekerjasama. Heri bingung dengan maksud pamannya. Pamannya menyuruh Heri untuk mengambil uangnya dan melakukan tugasnya. Ternyata pamannya tau tentang perihal uang di laci kerjanya.

"Makanya manut, biar mulus. Emang kamu butuh berapa?" Sambil menyedot rokok
"Ya Allah paman, itu haram, dosa besar, belum lagi nanti kalau saya ketangkap gimana, sekeluarga bisa malu. Pokoknya sampai kapanpun saya engga akan ambil uang itu" Dengan nada tegas lalu beranjak pergi.

Esoknya Heri menyerahkan surat pengunduran diri, padahal hari itu laci Heri tidak ada lagi tumpukan uang. Tapi bukan membuat Heri aman ia justru tambah merasa takut, hingga akhirnya dia memutuskan mengundurkan diri. Namun karena adanya wanita cantik yang berpakaian seksi duduk di kursinya dengan menaikan kaki ke atas meja sehingga terlihat bagian paha wanita itu. Wanita itu sempat menahan Heri yang hendak pergi dengan memeluknya. Tapi keputusan Heri sudah bulat, kini ia paham bagaimana dalam ruang politik negeri ini, jadi yang selama ini ia lihat dipartai hanyalah luarnya saja yang dipoles merakyat. Heri tidak perduli konsekwensi nantinya karena ia mengundurkan diri setelah beberapa bulan menjadi walikota.(reper/baim)

Posting Komentar untuk "Godaan Dunia"