Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hujan Doa Yang Melangit


Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Alhamdulilah masih bisa menikmati udara pagi ini, udaranya lembab karena hujan semalaman. Masyallah nikmat mana lagi yang kudustakan dipagi hari ketika menuju rumah seorang teman aku melihat barisan gunung yang terasa dekat sekali dengan negeri petro dollar, terlihat jelas garis dan kawah juga ketinggiannya. Rasanya ingin mendakinya, negeri petro dollar ini dikelilingi lautan, saban hari panas sangat menyengat. Namun Ramadan kali ini Allah selalu mencurahkan hujan, mungkin karena doa penduduk yang merasa sangat kering hingga merindukan hujan. Sama sepertiku, aku selalu rindu hujan dikala malam datang, atau dikala sore hari sengaja ku buka jendela tak berkaca itu dan kuulurkan tangan menampung tetesan hujan.

Dulu… kala hujan aku sering menangis, menyanyikan lagu rindu penuh galau. Aku berteriak dikamar, hujan deras meredam semua suaraku dan mereka tidak pun tahu. Ah… kenapa aku menangis saat itu ya? Sekarang kala hujan aku berdoa untuk mereka yang sakit, dilanda musibah dan yang melupakanku. Aku mendoakan mereka semua, karna aku juga ingin malaikat mengaminkannya untukku. Sepanjang jalan jika ku temui siapapun hatiku berdoa untuknya, yang sakit semoga Allah sembuhkan. Yang cacat semoga Allah ganti dengan kesempurnaanya di surga, dan yang jualan semoga laris. Mendoakan mereka adalah bagian dari diri seorang muslim, tak perlu banyak hanya mendoakan agar Allah memudahkan semua urusan mereka.

“Mereka jahatin kita perlu juga didoakan kak?” Tanya Tri
“Iya…doakan semoga mereka mendapatkan hidayah” jawabku
“Tapi kak… apa kak gak marah kalo disakiti dan mendoakan mereka lagi” tanyanya
“Ya… pasti marah kan kakak juga manusia, dan mendoakan mereka ketika dizhalimi akan cepat dikabulkan. Maka harus mendoakan yang baik, agar doa itu mantul kekita lagi” jawabku
“Em… apa resepnya biar bisa kaya kakak strong bener menghadapi orang seperti itu” tanyanya serius
“Cuekin aja, gak perlu ditanggapi atau dimasukin ke hati. Kalo pun marah diam aja gak perlu mencaci maki” jawabku tersenyum
“Gampang banget hidup kakak ya, serasa gak punya masalah gitu” katanya
“Hehe..semua orang punya masalah selama dia hidup, tapi jangan memperumit masalah nanti kamu gak bisa menikmati hidup yang sebentar ini” jawabku
“Em..prakteknya susah kayaknya kak, tapi tar dicobalah” jawabnya sambil tersenyum

Hidup kita layaknya drama, tidak semua orang menyukai kita. Yang benci pasti ada, pada merekalah ini kita belajar. Belajar sabar, meminta pada Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Kita berusaha semaksimal mungkin berbuat baik pun tetap aja salah dimata manusia ini, maka kita harus selalu yakin semua kita lakukan karena mencari ridho Allah. Bahagia itu cara sederhana yang mudah kita dapat, namun pada kenyataannya sering terlupakan, namanya juga manusia kan.

Ketika hati mulai keras dan membantu, juga tak peka pada orang lain maka aku mulai berdoa pada Rabbku. Sekarang malah kebalikannya, apa-apa langsung berderaian airmata, sensitive banget. Sama kaya hari ini aku mendengar sebuah lagu kata mereka sedang booming, biasalah aku tidak terlalu peduli dengan lagu. Terlalu sibuk dengan aktivitas yang menyitaku, namun ada seseorang di grup yang mengirimkan lagu itu, ku download dan kudengar. Duh…mutiara mengalir dipipi, bait lagu itu membuatku semakin rindu padamu ya Rasulullah dan sungguh beruntung mereka yang bisa melihatmu, aku merasa seperti Uwais ya.

“Kak…udahlah jangan diulang-ulang lagu itu” kata Ovi
“Kenapa…aku suka kok” kataku padanya
“Iya..tapi liat kakak nangis itu buatku gak tahan, dikira orang tar kakak putus cinta lagi” katanya
“Entah…rasanya sedih aja kefikiran anak palestina dan suriah” kataku
“Iya…tapi kita lagi kerja kak…aku jadi ikut sedih ne” katanya lalu meninggalkan aku dikasir

Perasaan apa ini tiba-tiba rindu itu menyeruak, dan tiba-tiba aku merasa lebih beruntung dari mereka. Insyaallah surge itu dekat dengan kalian yang membuatku semakin iri pada kalian. Kalian yang kuat maka diberi ujian seperti itu, sedangkan kami lemah hingga Allah memberikan kami ujian yang hanya menguras tenaga dan fikiran. Nikmat mana lagi yang ku dustai, punya keluarga yang utuh meski tanpa ayah, meski beliau tak meninggalkan harta warisan yang beliau tinggalkan hanya sebuah kenangan tentang betapa cintanya beliau pada Aceh. Tentang bagaimana beliau menyusuri setiap jejak sejarah yang kemudian kuteruskan hal itu. Tentang kebanggaan sebagai seorang muslim yang didalam darahnya tertulis menjadi syuhada yang dinanti surga. Tentang hubungan samudra pasai dengan khilafah yang terlupakan oleh masyarakatnya.

Wahai rindu sampaikanlah salamku padanya… wahai cinta tiada seindah dirinya, ketika semua makhluk bersujud pada Adam… dan ketika selawat dan salam hanya untuk sang Rasul tercinta menjadi penutup para nabi dan rasul…jika bukan karena cintanya tak kan sampai Islam ke bumi serambi mekkah ini. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Hujan Doa Yang Melangit"