Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Its that Normal?


Oleh: Azizah Huurun'iin (Pelajar SMAIT Al-Amri)

Sudah beberapa bulan berlalu sejak wabah corona yang muncul pertama kali di Wuhan itu, melanda dunia. Dunia seperti di sering dari dua sudut menyempitkan. Ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Seperti di Indonesia sendiri telah tercatat lebih dari 25 ribu orang yang telah terinfeksi di 34 provinsinya. Dan di kondisi rentan ini ekonomi pun berimbas. Masyarakat kurang mampu akhirnya ngeyel melawan kebijakan pemerintah untuk tetap dirumah, memilih berjuang melawan arus wabah yang mengganas demi mencari sesuap nasi berharga untuk keluarga.

Belum lagi orang-orang yang mengabaikan karantina mandiri. Empati mereka kesampingkan demi ego sendiri, semata ingin bersenang-senang seperti biasa.

Akhirnya PSBB yang hendak dijalankan terhenti ditengah jalan. Tepat di saat kurva positif corona semakin naik.

Dunia yang sejak awal dicengkeram sistem kapital pun menyarankan solusi ekstrem. Pernah dicetuskan namun ditolak dari berbagai pihak. Yaitu herd immunity. Dan diulas dengan kata lebih keren lagi, New Normal, dikarenakan desakan kurva ekonomi yang menurun drastis semenjak wabah melanda.

New Normal yang artinya semua kembali normal meski dalam kondisi wabah kian ganas. Anak-anak akan tetap berangkat sekolah dan para pegawai kembali bekerja, tempat-tempat umum kembali dibuka namun dengan protokol kesehatan yang ada.

Namun tetap saja. Apakah ini 'normal'?

Tentu saja tidak. Sama saja dengan tindakan bunuh diri massal. Meski dikatakan pada akhirnya manusia akan kebal dengan virus, hidup berdampingan atau apa. Tetap saja akan memakan korban jauh lebih banyak. Alih-alih memikirkan itu mereka malah menunjuk ekonomi masyarakat yang juga mencekam.

Dalam Islam satu nyawa seorang muslim lebih berharga dari satu dunia. Daripada memikirkan masalah perekonomian. Ya, karena didalam Islam tidak terdapat lagi masalah perekonomian seperti sekrang. Tidak susah untuk seorang Khalifah memberikan bantuan kepada rakyatnya yang tidak mampu karena negara sudah punya Baitul Mal.

Bahkan dalam kondisi wabah pun. Seperti di masa Umar bin Khattab. Mereka tidak memikirkan bagaimana cara memberi makan rakyat, karena solusi itu sudah terpecahkan sejak awal dan tanpa basa-basi. Dan ekonomi negara tetap baik-baik saja, sampai wabah selesai. Solusi wabah di masa Khalifah Umar kala itu adalah penerapan lockdown syar'i. Yang benar-benar mengunci wilayah penyebarannya di masa itu, namun Khalifah Umar tetap memantau dari jauh akan perkembangan rakyatnya.

Tidak pernah ada penerapan herd immunity dalam masa kejayaan Islam. Karena lockdown yang diterapkan berhasil. Rakyat aman-aman saja tinggal dirumah tanpa perlu khawatir kelaparan karena negara akan segera bertindak untuk mereka. Penyelesaian wabah pun tak menunggu apa-apa lagi. Fokus pada pengobatan dan pencegahan.

Islam lah solusi atas wabah ini. Tidak akan ada berita seorang meninggal dikarenakan kelaparan ditengah wabah. Atau orang-orang berkeliaran karena bekerja. Negara Islam akan segera bertindak untuk orang-orang tidak mampu menghadapi masa pandemi. Semoga cahaya Islam segera kembali menyinari dunia ini. Wallahu a'lam bisshowab. (reper/rmn)

Posting Komentar untuk "Its that Normal?"