Karena Rasisme, Negeri Paman Sam Terancam
Oleh: Hanna Salsabila AR (Anggota Komunitas Setajam Pena)
Amerika tiba-tiba memanas, rupanya hal ini disebabkan terjadinya kerusuhan dan demo beberapa pekan terakhir. Demo dilakukan karena kasus kematian terduga pembunuhan karena Rasisme yang menimpa seorang kulit hitam, George Floyd. Tak hanya demo, sosial media juga menjadi ramai karena tagar #BlackLivesMatter, yang juga merupakan bentuk pembelaan terhadap kematian George Floyd. Sebenarnya apa yang terjadi?
Dilaporkan BBC, kasus George Floyd, 46 tahun, bermula saat ia membeli rokok di sebuah toko klontong di Minneapolis, negara bagian Minnesota, pada 25 Mei lalu. Penjaga toko melaporkan ke polisi bahwa uang Floyd diduga palsu. Polisi lalu menangkap Floyd yang saat itu masih berada di sekitar toko. Dia akan dibawa ke dalam mobil tapi menolak. Seorang polisi bernama Derek Chauvin akhirnya menindih leher Floyd dengan lutut. Pada saat itu, Floyd berteriak “aku tidak bisa bernapas" dan meminta tolong. Tak lama kemudian nadinya berhenti. Ia dilarikan ke rumah sakit tapi tak tertolong. Autopsi independen menyebutkan penyebab kematian adalah karena sesak napas, sedangkan dilaporkan The Guardian, pemeriksaan medis di Minneapolis menyebutkan ‘jantungnya berhenti’. Mereka menegaskan Floyd dibunuh. Chauvin saat ini dituntut atas pembunuhan Floyd. Tiga petugas lain yang turut menangkapnya belum ditahan (tirto.id, 5/6/2020).
Jika disimak kembali memang kasus yang menimpa mendiang George Floyd terkesan seperti tindak kriminal. Namun disisi lain, George Floyd juga melakukan kesalahan. Tapi bukan hal itu yang menjadi sorotan, akan tetapi problem rasial. Benar, kasus Rasisme di Amerika memang menjadi problem masif. Sebagaimana kasus George Floyd, dalam sebuah penelitian disebutkan hukum di Amerika cenderung bersifat rasial. Dan George Floyd bukanlah yang pertama, sebelumnya ada Breonna Taylor, Eric Garner, Michael Brown, Tamir Rice. Mereka juga merupakan korban kekerasan polisi, dan parahnya lagi polisi tersebut sama sekali tidak ditindak karena dilindungi oleh hukum.
Amerika, negara yang adidaya pun ternyata tidak sebaik dimata dunia. Banyak pula masalah yang terjadi, bahkan berulang seperti Rasisme. Negara induk Kapitalisme pun tak sanggup mewujudkan keamanan dan kedamaian di negaranya sendiri, meski mereka yang saat ini berkuasa dimana-mana, mengambil alih semua negara dibawah kakinya. Dan kini, ia mengalami keadaan yang teramat kritis karena hampir terjadi demo setiap harinya hingga dikecam seluruh dunia. Negeri Paman Sam pun terancam.
Begitulah cara sistem kapitalisme sekuler memamdang manusia. Meski slogan kebebasan mereka dengungkan, tapi kembali lagi asas manfaat yang mereka utamakan. Bagi Amerika, kulit hitam hanya pendatang, parasit, dan mempunyai jejak buruk dan lain-lain. Meski tak semua seperti itu, tapi doktrin tersebut yelah melekat dalam benak mereka.
Hal ini sangat jauh sekali dari realita apabila Islam yang menjadi negara adidaya. Islam tak pernah memandang perbedaan ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan lain-lain. Dalam Islam, semua dianggap sama. Hanya keimanan dan ketaqwaan lah yang menjadi pembeda. Sebagaimana dalam firman Allah SWT QS. Al- hujurat: 13 yang artinya :
"Wahai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal."
Demikianlah Islam mengatur kedamaian dalam negaranya. Kemanan setiap individu negara dilindungi tanpa memandang ras maupun agama. Contohlah kisah arsitektur dimasa kekhalifahan Sultan Muhammad al-Fatih. Konon arsitek ini adalah seorang Yunani yang bekerja pada khalifah, namun ia merasa terdzalimi karena gaji yang diberikan tak sesuai. Awalnya ia ragu untuk mengadu pada hakim, karena ia mengira hakim pasti berpihak pada Sultan. Namun, apa yang terjadi? Justru hakim berpihak pada dia dan menegur sang Khalifah.
Kisah tersebut menjadi gambaran hukum dalam Islam. Bahwa keadilan harus ditegakkan sesuai dengan hukum syariat, tanpa peduli agama, ras atau yang lainnya. Dan masih banyak kisah-kisah yang hampir senada dengan cerita diatas seperti Bilal bin Rabah, dan lain sebagainya. Maka jelas dari sini dapat disimpulkan, bahwa tak ada sistem kepemimpinan lain yang lebih baik daripada sistem Islam. Wallahua'lam bish-showab. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Karena Rasisme, Negeri Paman Sam Terancam"