Lathi Challenge, What's?
Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd.
"Kowe ra iso mlayu saka kesalahan. Ajining diri Ana ing lathi"
Kalimat di atas adalah potongan lagu dari Lathi yang artinya kamu tidak bisa lari dari kesalahan. Harga diri seseorang ada pada lidahnya. Pepatah Jawa yang dimasukan dalam lirik lagu ini menjadikannya unik. Karena tak sedikit orang yang pertama kali mendengar lagu kolaborasi Weird Genius dan Sara Fajira ini tak menyangka bahwa ini hasil karya anak Indonesia.
Lagu yang masuk top chart di aplikasi musik ini pun kian viral karena challenge nya. Lathi challenge. Jharna Bhagwani, seorang beauty vlogger berumur 17 tahun ini berperan besar membuat lagu Lathi viral. Pasalnya, ialah yang pertama membuat konten make up dengan latar lagu Lathi disertai tagar #LathiChallenge.
Dengan riasan adat Jawa yang lama kelamaan berubah seperti penampakan setan, menyeramkan. Bahkan, viral juga di instagram, anak kecil yang diikutkan challenge ini. Ia menangis histeris melihat penampakannya. Takut sendiri jadinya. Dan semakin banyaklah yang kini ikut melakukan Lathi Challenge. Mengubah riasan wajah dari yang cantik ke riasan seperti setan. Apalagi lagunya memang bernuansa "dark". Karena mengisahkan toxic relationship.
Anti mainstream, unik, mungkin itu yang jadi alasan kenapa banyak orang yang akhirnya mencoba melakukan challenge ini. Biasanya konten riasan berisi transformasi dari biasa aja menuju cantik dengan riasan optimal. Sesuatu gang baru dan fresh untuk diikuti.
Tapi, mari renungkan kembali. Apakah semua yang anti mainstream, yang unik dan beda harus kita apresiasi? Harus kita ikuti?
Untuk apa? Sekedar seru-seruan? Tak cukup, kawan. Karena hidup bukan hanya kehidupan dunia saja. Ada kehidupan di akhirat sana. Yang sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan di dunia ini. Surga dan nerakanya kita tergantung oleh tingkah laku kita di dunia yang sebentar ini. Sebentar, hanya sekitar 60 tahun. Karena umur umat kebanyakan tak akan jauh dari nabinya.
Lantas, tanyakanlah lagi. Apakah ikut challenge yang penuh effort ini akan menambah kemungkinan kita masuk surga atau tidak? Kalau tidak, untuk apa dilakukan? Bukankah masih banyak kegiatan yang lebih berfaedah. Yang lebih jelas pahalanya. Pahala tuk menabung 'tiket' kita masuk surga.
Fenomena ini jadi bukti, walaupun Indonesia jadi negara muslim terbanyak seluruh dunia. Tapi, penduduknya justru masih belum paham tentang ahsanul amal, tentang prioritas. Kenapa hal ini bisa terjadi? Apalagi kalau bukan karena sekulerisme yang bercokol dalam benak?
Paham memisahkan antara agama dari kehidupan telah sukses membuat muslim kebingungan akan agamanya sendiri. Membuat muslim gagap akan ahsanul amal. Membuat muslim latah terhadap fenomena yang ada. Membuat muslim kesulitan meletakkan prioritas.
"Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.
Astagfirullahal'adziem. Mari tinggalkan yang bukan berasal dari Allah dan Rasul. Mari tinggalkan kesiaan. Mari kembali pada pangkuan Islam kaffah. Islamlah yang akan menyelamatkan nasib akhir kita di hari kiamat kelak. Wallahu'alam bish shawab. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Lathi Challenge, What's?"