Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memang Katanya, Tapi Harusnya


Oleh: Keysa Neva N (Tim Jurnalistik NDM Ska)

Imam Syafi'i berkata :
"Pengetahuan itu ibarat binatang buruan, yang jika ditangkap lekas diikat erat-erat.
Suatu kebodohan bagi seorang pemburu jika berburu rusa di hutan, setelah didapatinya buruan tersebut, lalu dilepaskan,”

Memang jumlah ulama banyak, baik ulama jaman dulu maupun ulama kontemporer tapi tak sebanding dengan banyaknya umat manusia. Mereka mengerahkan daya upaya untuk berkontribusi penuh untuk umat. Nama mereka selalu terukir tak terlupa termakan oleh zaman.

Kira-kira apa ya penyebab nama ulama selalu terkenang?

Ternyata oh ternyata karya merekalah yang membuat nama mereka selalu dikenang sepanjang masa.
Para ulama menggeluti dunia literasi sejak muda menggambarkan betapa pentingnya dunia literasi. Semua tadi sesuai banget nih dengan sebuah qoute :

"Jika kau ingin mengenal dunia maka membacalah dan jika kau ingin dikenal dunia maka menulislah" (Anonim).

Karya-karya mereka abadi, karya yang mereka buat untuk khidmat kepada umat sebagai wasilah menuju kehidupan abadi. Tak secuil pun rasa ujub sekadar mencari ketenaran semu. Mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi menyelami lautan aksara surga serta mencicipi madu manisnya ilmu.

Ada Imam Syafii dengan kitabnya Al-umm ada Imam Malik dengan kitabnya Al-muwatta' ada ada Ibnu Hajar Al-Asqolani dengan fathul bari ada Imam As-Suyithi dengan tarikh khulafa' ada Syaikh Ibnu Utsaimin dengan ushul fiqhnya ada Syekh Wahbah al-Zuhaili sang ahli tafsir dan fikih kontemporer. Dan masih banyak lagi ulama yang luar biasa besar hidmat mereka terhadap ilmu.
Kesuksesan para ulama terjadi tak semudah membuat mie instant. Penanaman tsaqofah sejak dini, keluarga yang beriman serta ada institusi negara yang beriman pula kepada Allah. Semangat thalabul ilmi serta niat lillah juga menjadi faktornya.

Katanya banyak pemuda pemudi yang kagum dengan keilmuan para ulama. Mungkin kamu juga termasuk dari pengagumnya. Banyak yang ingin menjadi ulama besar, hafal Al-qur'an sejak dini. Banyak yang ingin berkutat dengan aksara surga tak lupa juga menghafalnya.

Tapi masih diam terlenena magnet kasur. Ada waktu luang dipakai untuk nonton film. Ada kesempatan ikut kajian dipakai untuk nge-game.  Waktu belajarpun hanya sekedar formalitas pelajar, apalagi di waktu pandemi seperti ini yang mengharuskan kbm dilaksanakan secara online, ah, betapa membosankan. Waktu pun melayang sia-sia.

Harusnya jika memang ingin menjadi seperti para alim ulama dan berhidmat sepenuhnya untuk umat kita harus melakukan jurus sakti nih. Apa ya jurusnya?  Jurusnya yaitu DUIT (Doa Usaha Ikhtiar Tawakkal). Jadi, kalau mau sukses dunia akhirat ya harus take the action dong. Karena Kesuksesan para ulama tidak didapat dalam waktu singkat dan tak semudah memasak mie instan. Sukses adalah kata kerja, oleh karena itu untuk mencapainya haruslah bergerak.

Sebagai generasi milenial yang semangatnya membara, bahkan kobaran api semangatnya tak terhingga. Harus nih kesempatan untuk menuntut ilmu dan menambah wawasan digunakan dengan sebaik mungkin. Selalu mencatat ilmu-ilmu yang didapat. Bangunlah dari buaian, keluar dari zona nyaman. Take the action, let's move!. (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Memang Katanya, Tapi Harusnya "