Memantaskan Diri dalam Dakwah, Bukan Berhenti Berdakwah!
Oleh: Mochamad Efendi
Gaes.. Dakwah, menyampaikan kebenaran Islam adalah kewajiban bagi seorang Muslim sejati namun sering kita belum merasa pantas untuk melakukannya karena merasa pengetahuan agama masih kurang. Niat ingin berdakwah tapi merasa tidak punya kemampuan. Apalagi target dakwah kita mempunyai pengetahuan agamanya lebih dan bisa membaca al-Qur'an dengan baik dan benar. Kemudian kita merasa minder dan memutuskan berhenti berdakwah. Gaes, jangan berkecil hati jika kamu belum merasa mampu dan tsaqofah keislamanmu masih kurang. Bukan alasan untuk berhenti berdakwah tapi itu harusnya memacu kita untuk belajar dan memantaskan diri dalam berdakwah.
Berdakwah bukan harus menunggu hebat dengan tsaqofah keislamannya yang luas dan mantap. Tidak juga menunggu bisa baca al-Qur'an dengan baik dan benar. Tidak pula harus menguasai bahasa Arab dan mampu berkomunikasi yang meyakinkan. Memang akan lebih afdhol jika kamu punya kemampuan yang diperlukan dalam berdakwah namun kita tidak boleh berhenti hanya karena merasa belum pantas. Kamu harus memantaskan diri dengan terus belajar dan terus meningkatkan kemampuan agar semakin meyakinkan.
Sampaikan kebenaran Islam meskipun hanya mengetahui satu ayat. Berdakwah harus dimulai meskipun kau baru mengetahui sedikit dan merasa belum marasa pantas dengan kemampuan. Kita memang tidak boleh merasa puas dalam mencari ilmu dan terus upgrading kemampuan agar lebih baik dalam berdakwah. Tapi, bukan berarti kita menunggu hebat dengan kemampuan yang mantab baru kita berdakwah.
Gaes, tugasmu hanya menyampaikan dalam berdakwah. Tidak perlu berfikir hasil, tapi gunakan kemampuan terbaikmu untuk menyampaikan kebenaran Islam dan terus tingkatkan tsaqofah keislamanmu dan kemampuanmu dengan terus belajar. Membaca buku, mengikuti pengajian, berdiskusi dan banyak bertanya pada para guru kita yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan lebih. Jangan berhenti belajar dalam usaha untuk memantaskan diri dalam berdakwah agar lebih banyak orang yang tersadarkan dan terinspirasi oleh lisan dan tulisan kita.
Menyampaikan kebenaran Islam, berdakwah memang tidak harus menunggu sampai kita merasa mampu. Namun bukan berarti kita puas dengan kemampuan kita tanpa mau belajar. Orang yang paling mulia dihadapan Allah adalah mereka yang berilmu, ulil albab, kemudian mampu menyampaikan kebenaran Islam dengan hikmah sehingga mereka bisa tersentuh kesadarannya dan mau berubah karena pemahamannya yang tercerahan. Merubah pemahamannya dengan hikmah akan lebih menancap kokoh dan tidak mudah goyah meskipun ujian materi berupa perhiasan dunia tidak berhenti menggoda.
Tapi jangan berkecil hati jika ilmumu masih rendah dan kemampuan berdakwahmu masih dirasa kurang. Tidak sedikit orang tersadarkan karena kesabaran dalam menyampaikan kebenaran Islam. Pernah suatu ketika ada seorang pemuda lugu yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik mencoba berdakwah. Dan yang luar biasa adalah yang didakwahi itu gurunya.
Karena rasa sayang ke gurunya, tak mungkin kebenaran itu ia pendam sendiri. Iapun ingin sampaikan kebenaran itu pada guru yang selama ini mandidiknya. Meski pengetahuan dan kemampuannya jauh daripada orang yang akan didakwahi. Tapi dia tidak surut dan mundur untuk menyampaikan kebenaran yang diyakini benar.
Dengan membawa Buliten Islam kaffah, dia menemui sang guru. Ia mencari uslub, cara terbaik agar kebenaran itu tersampaikan dengan baik kepada sang guru. Dan akhirnya, ia menemukan cara paling baik agar tak menyinggung gurunya. Yang notabenenya lebih tua dan lebih banyak ilmunya. Agar tak terkesan menggurui. Iapun tidak lantas mengajak berdiskusi, tapi lebih banyak bertanya tentang isi buletin yang dibawa. Dan perlahan tapi pasti, sang guru akhirnya mau membacanya. Beliau menemukan hikmah dari apa yang dibaca. Hingga akhirnya, sang guru berubah dan menerima untuk berislam kaffah. Karena kesabaran dan keistiqomahan Sang Murid dalam berdakwah. Meskipun kemampuan dan pengetahuannya jauh dibawah Sang Guru, orang yang didakwahi. Akhirnya, hidayah itupun datang.
Dan satu hikmah lagi bagi si murid. Dengan berdakwah, iapun terpacu untuk belajar agama dan kemampuan. Hingga akhirnya, berdakwahnyapun semakin meningkat. Jadi, pelajarannya ialah tak perlu berhenti berdakwah hanya karena merasa diri belum pantas. Tapi teruslah berdakwah sembari terus memantaskan dirimu dengan terus belajar agar tsaqofah keislamanmu bertambah dan kemampuanmu terus meningkat dalam berdakwah. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Memantaskan Diri dalam Dakwah, Bukan Berhenti Berdakwah!"