Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menikmati Parodi Di Tengah Pendemi


Oleh: Bandibunny

Kelucuan demi kelucuan bermunculan ditengah musibah wabah, bukan kelucuan biasa karena yang melucu bukan pelawak atau komika pada umumnya, tetapi kelucuan ini terjadi oleh mereka yang berprofesi sebagai petinggi negri, Wakil Rakyat, Jaksa Agung, dan para Mentri.

Jika dulu kita dihibur oleh lawakan ala Opra Van Java, hari ini mungkin kita dihibur oleh kebijakan ala Opra Van Norak, norak ketika hukum bepihak sebelah mata, norak ketika merumuskan RUU HIP ditengah bencana, norak ketika tarip listik menghimpit dada, norak disaat ekonomi lemah ada rancangan iuran Tapera.

Diawal masuknya wabah seorang Mentri Perhubungan (Menhub) ditanyai mengenai masuk tidaknya virus covid-19 ke Indonesia, pada waktu itu beliau berkata jenaka bahwa tidak ditemukannya virus covid-19 di Indonesia disebabkan kekebalan tubuh masyarakat lantaran gemar memakan nasi kucing. www.republika.com

Inilah fase pertama sikap pemerintah menanggapi adanya virus covid-19, dengan santai dan tenangnya bahkan sempat berencana menggelontorkan dana Rp 72 miliar untuk mendani infuencer, sebagai upaya menarik wisatawan luar negri masuk ke Indenesia disaat negara lain sudah menutup akses keluar masuk  negaranya. m.detik.com

Mamasuki fase kedua virus covid-19, semenjak kasus pertama ditemukan di Depok, pemerintah gagap gempita menanggapinya tak hanya pemerintah, panic buyingpun terjadi dimasyarakat yang menyebabkan terjadinya penimbunan masker, hand sanitizer, dan sembako, yang berakibat kelanggkaan barang disejumlah tempat.

Difase ini pula dikeluarkanlah kebijakan pembatasan bersekala besar (PSBB), sebagai bentuk upaya memerangi virus covid-19 dengan membatasi pergerakan masyarakat (Physical Distancing), pemberlakuan jarak sosial (Social Distancing), kerja di rumah, ibadah dirumah dan belajar di rumah #StayAtHome taglinenya.

Tentu hal ini diikuti pula dengan adanya bantuan  sosial (Bansos) dari pemerintah untuk meringankan beban ekonomi dalam bentuk uang tunai sebesa Rp 600.000, sekema penyaluran bansospun menjadi seperti lelucon tersendiri karena banyaknya kesipang siuran data antara pemerintah daerah dan pusat.

Akibatnya bansos tidak tersalurkan dengan tepat sasaran, yang menjadi kegaduhan ditengan masyarakat maupun di masyarakat sosial media (netizen) khusunya, bentuk kekecewan itu banyak disuarakan melalui satatus tulisan singkat atau meme yang menyindir para lembaga penyalur bansos.

Setelah teriak lantang menyatakan perang kepada virus yang tak kunjung hilang, akhirnya Presiden menyatakan dengan terbuka mengajak masyarakat untuk berlapang dada, berdamai dan hidup berdampingan dengan virus corona, yang terpenting imunitas dan pola hidup sehat terjaga katanya.

Inilah fase yang mereka sebut New Normal, kehidupan dengan kenormalan baru dimana masyarakat hidup menyesuaikan diri dengan protokol pencegahan virus covid-19, hanya saja setiap negara yang memasuki fase ini mesti mengikuti 6 langkah panduan yang bertahap yang sudah dirilis WHO.

Dikutip dari news.okezone.com berikut 6 syarat memasuki transisi the new normal, Pertama, penularan virus harus sudah dapat dikendalikan. Kedua, kapasitas sistem kesehatan telah tersedia untuk mendeteksi, menguji, mengisolasi dan merawat setiap kasus dan setiap kontak. Ketiga, resiko wabah telah diminimalisir dalam pengaturan khusus seperti fasilitas kesehatan dan rumah perawatan. Keempat, upaya pencegahan telah dilangsungkan di tempat kerja, sekolah dan tempat penting lainnya. Keenam, masyarakat telah teredukasi, terlibat dan terberdayakan untuk menyesuaikan diri ke dalam kondisi new normal secara penuh.

Dari 6 poin di atas menjadi lucu ketika pemerintah Indonesia berencana transisi menuju new normal, dimana dalam jumlah kenaikan kasus saja tiap hari jumlahnya masih tinggi, lalu dalam pengecekat kita masuk peringkat keempat terburuk di bawah Ethiopia, Nigeria, dan Banglades. m.kiblat.net

Kita berharap semoga transisi menuju new normal ini bukan karena pemerintah ingin berlepas tangan dari tuntun PSBB, yaitu  berhentinya penyaluran bansos senilai Rp 600.000/bulan kepada masyarakat, dan bukan pula karena strategi Herd Immunity dimana siapa kuat dia hidup.

Diantara kekisruhan masalah yang ada selalu ada hal lucu yang membuat kita tertawa, meskipun tawa itu sebuah gambaran dari bentuk  rasa kecewa, sebagai negri yang berselara humor tinggi untuk saat ini mentertawakan kebijakan para petinggi negri bisa jadi suplemen peningkat imunitas diri.
Depok.160620 (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Menikmati Parodi Di Tengah Pendemi"