Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Netijen Kepo? Salah siapa?


Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Hari ini televisi, surat kabar maupun media sosial dipenuhi dengan berita tentang pernikahan artis, stay at home ala artis, percekcokan artis, membongkar tas hingga membedah rumah artis, koleksi tas, sepatu, jam tangan, topi dan lain sebagainya. Tayangan ini sukses membuat para netijen betah duduk berlama lama didepan layar kaca.

Ada sebuah fenomena yang sangat membahayakan ketika masyarakat terus di banjiri dengan tayangan-tayangan sejenisnya. Kalau dulu tayangan itu hanya membongkar isi tas seorang public figure kini sudah lebih jauh lagi yakni melihat isi rumah bahkan isi kamar. Mulai lemari hingga laci tak luput dari ke-kepoan netijen. Mereka rela menggunakan kuota internet selama berjam jam hanya demi menuruti yang namanya kepo.

Bahkan bukan hanya artis yang ingin diketahui kehidupan pribadinya. Orang nomor satu di negeri ini pun terus dibongkar bagaimana kehidupan pribadinya terlebih saat beliau ngevlog bareng sang cucu.

Ada sebuah fenomena yang  ukup mengkhawatirkan yang disebut dengan  FOMO (fear of missing out). Di era media sosial hari ini orang takut kehilangan informasi tentang kehidupan pribadi tokoh-tokohnya. Mereka juga merasa takut tidak diterima oleh masyarakatnya, oleh lingkungannya ketika tidak tahu ataupun tidak mengikuti kehidupan pribadi orang-orang yang diidolakannya.

Kenapa fenomena ini terjadi?

Karena hari ini kita hidup dalam sistem sekuler. Sistem yang tidak menjadikan aturan dari Allah subhanahu wa ta'ala sebagai  pijakan.

Kita hidup dalam sistem kapitalistik di mana apa saja yang bisa menghasilkan keuntungan dan manfaat akan dikapitalisasi supaya menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Maka tayangan-tayangan yang mungkin disukai oleh publik seperti membongkar kehidupan pribadi artis, tayangan dengan menampilkan perseteruan antar public figure, tayangan dengan menghadirkan kisah-kisah cinta di antara artis bahkan dengan mengumbar kehidupan suami istri itu bisa menghasilkan keuntungan maka itu pun akan dilakukan.

Media yang menulis dan membuat video gosip bisa menghasilkan keuntungan milyaran dalam setahun. Belum terhitung keuntungan yang diperoleh oleh sekian ratus bahkan sekian ribu akun-akun gosip yang hari ini semakin menjamur.

Namun sampai detik ini kita belum melihat bahwa negara mempunyai peranan kontrol yang signifikan bahkan negara melalui beberapa pejabat hanya berbicara soal pajak yang dimungkinkan untuk ditarik dari aktivitas kreatif semacam ini

Ini adalah sebuah kondisi buruk yang menimpa umat. Kalau kita melihat lebih jauh lagi bahwa di dalam tayangan-tayangan yang berisi kehidupan pribadi public figure ini sangat kental atau sangat potensial melanggar hukum syariat yakni adanya ghibah dan gosip.

Ghibah (menggunjing) adalah musibah besar yang menimpa masyarakat. Ia memberikan pengaruh yang luar biasa pada hati dan jiwa. Ia menimbulkan dampak yang sangat buruk dan aneh pada keluarga dan masyarakat. Ia bekerja seperti api yang melahap ranting-ranting yang kering.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda:

أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: ذكرك أخاك بما يكره. قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول قال: إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat buhtan terhadapnya.” [HR Muslim (2589)]

Lalu bagaimana kalau ada yang berpendapat bahwa tayangan-tayangan semacam ini adalah tayangan yang memang dikehendaki masyarakat karena kehidupan yang serba sulit terlebih dimasa pandemi covid19 ini yang memaksa manusia menghabiskan sebagian besar waktunya berada didalam rumah mereka. Memilih menonton acara gosip demi mengusir kebosanan dan stress yang mereka alami.

Harus disadari bahwa kehidupan yang serba sulit hari ini yang menjadi stressor pada banyak hal itu adalah kehidupan yang lahir dari sistem sekuler. Dampak diterapkannya sistem kapitalis ini menimbulkan beragam persoalan. Seperti persoalan ekonomi, persoalan sosial, persoalan hubungan antar individu-individu di tengah masyarakat dan lain sebagainya.

Maka kalau kita tidak mengubah sistem hari ini dengan sistem yang menghasilkan kebaikan. Persoalan-persoalan itu akan terus muncul sedemikian rupa.

Islam menuntun negara seharusnya memastikan media menghadirkan produk-produk yang bisa mencerdaskan publik. Tayangan yang akan memberikan nutrisi untuk akal rakyatnya, tayangan yang dapat melembutkan jiwa yang kemudian mencerahkan pemahaman rakyatnya bahwa hidup ini harus senantiasa bersandar kepada Al-quran dan as sunnah sehingga masyarakat akan mudah taat kepada aturan aturan Allah.

Demikian juga media seharusnya menjadi sarana untuk melakukan kontrol sosial,  untuk peduli terhadap persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya dan memberikan alternatif penyelesaian dengan persoalan yang ada disekitarnya. Inilah fungsi media.

Karenanya di dalam Islam negara harus memastikan bahwa media tidak boleh menghasilkan tayangan yang melenakan publik bahkan berpotensi membawa publik kepada pelanggaran hukum syariat. Tapi media justru menjadi sarana untuk mencerdaskan masyarakat dan sarana untuk melakukan kritik yang muncul dari kepedulian.

Sungguh kita sangat merindukan kembali berlakunya sistem islam yang diterapkan oleh negara. Supaya kita tidak lagi dibombardir dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik, tayangan yang melenakan, tayangan yang menumpulkan akal dan perasaan dan tayangan yang membawa kita melanggar kepada aturan-aturan Allah. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Netijen Kepo? Salah siapa?"