Oppa, Aku Dilema Cinta
Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Kom
Saban hari ku lihat negeri petro dollar digelayuti awan gelap, istilah mendung tak berarti hujan sepertinya sedang gak berlaku dalam kamusnya. Panas terik disiang hari menjelang sore hujan turun kadang deras, kadang hanya gerimis. Hujan itu enaknya nonton drakor mungkin, sayangnya sejak si blue koma stok drakor pun terdelete semua. Ku ambil memorynya kulihat apa saja yang tersimpan didalamnya… ternyata sebelum koma sempat juga ku download drakor ya.
Nonton drakor itu asyiknya apa ya? Terbawa dalam cerita itu, dimana itu berhasil membuatku penasaran secara kalo ku perhatikan didunia perfileman Indonesia itu sangat membosankan, gak tau endingnya kemana, ceritanya apa semakin melebar dan gak konsisten. Tapi beda dengan drakor buktinya mak-mak pun candu juga drakor bahkan para pria. Wah…parah ini virusnya, ku lihat ada seorang anak yang datang ketempaku bekerja, mungkin masih SD. Kulihat dengan santai lincahnya dengan badan bongsor mengikuti alunan lagu BlackPink. Haduh… tu urat malu mana ya, bajunya pendek lagi… mau tegur takut mak bapaknya marah.
Malah ketika sang ayah mengganggunya dia marah, secara logikanya ngapain dia ngedance di toko. Anak jaman now makin di larang makin jadi tingkahnya.
“Eh… kak, anak itu kenapa?” kata Alma
“Em…entah kesurupan mungkin” jawabku ngasal
“Is.. kakak ini lah!, mana bajunya pendek lagi, apa gak diajarin cara berpakaian yang bener kalo keluar rumah sama maknya” Tanyanya
“Au ah…aku bukan maknya…lagian menurut maknya itu wajar dia masih SD” jawabku
“SD…gak liat itu badannya ngalahin kita” katanya lagi
“Hus…denger mak bapaknya nanti” kataku padanya
“Eh.., tapi kog Pede amat dia ya ngedance disini?” Tanya Alma
“Entah… gak daiajarin maknya kali, atau mau pamer ke kita biar kita puji” jawabku cuek
“Dah tau sempit pake acara ngedance disini lagi” katanya kesal
“Udah…kerja sana” kataku menyuruhnya kembali ke asalnya
Ku buka laptop dan kucari lagu yang sama sedang di putar oleh anak itu setelah dia pergi. “Oh…ini black pink, em.. pantes aku kan dah lama gak denger lagu korea, dah insaf ” batinku
Kubuka lagi ada beberapa parody yang sama namun lebih menggila, ampun dah anak-anak jaman now. Ku lanjutkan pekerjaanku, hari semakin sore waktunya beres-beres untuk pulang. Hari yang melelahkan, disaat senggang ku habiskan untuk menonton drakor seperti biasa membuat resensi. Aku bertanya dalam hati boleh gak ya? Bekerja menerjemahkan ini, apa kira-kira hukumnya?
Ku lihat dibeberapa majalah remaja, ada contoh resensi film yang kemudian diterangkan kenapa harus nonton film itu. Yah kalo membawa manfaat gak apa, tapi kalo mudharat dibanyak adegan itu bisa dosa juga kan. Ah…dosa andai mampu terlihat sungguh kotornya manusia ini dengan debunya.
Syukurnya aku tak menggila, tak mengenal istilah BIAS tah makluk apa itu. Tak juga aku menjerit dan menangis minta dipeluk mereka. Pada dasarnya tipe manusia yang cepat bosan sepertiku tidak mudah menyukai manusia manapun, termasuk “Oppa-oppa” itu.
Ganteng sih tapi sayangnya bukan Islam kalo Islam pun kemudian dia berperilaku seperti itu… ih… menjijikan. Lagian gantengnya itu loh dah ngalahin cantiknya aku, tar bingung siapa yang harus dipanggil cantik… selain itu memang kalo untuk makeupnya aku suka belajar, tapi kalo difikir lagi kan Islam gak bolehin tabaruj ya? Belajar untuk nanti yang menghalalkan aja dan suka melihat mereka masak tapi kan mereka makannya yang haram dan senang mabok…ah..dilema tingkat dewa lah.
Pernah suatu hari aku diprotes mereka, karena selalu melarang mereka mendengarkan yang tidak bermanfaat. Dalam bekerja pun tetap saja aku berdakwah, didengar atau tidak bagiku itu gak penting. Yang penting aku sudah menyampaikannya dengan baik, pro kontra itukan hal biasa. Terlebih pakaianku yang tetap syari juga gak pernah ganti membuat menjadi banyak perbedaannya. Kulihat Alma sedang sibuk merepack makanan sambil sesekali mendendangkan music kesukaannya. Biasa yang kuputar itu instrument, murotal atau nasyid.
“Ma…kamu denger itu tau artinya gak?” tanyaku padanya
“Taulah kak…ini ka nada artinya” jawabnya tanpa melihatku
“Kak sendiri kenapa gak pernah dengar music kegini, asyik tau?” tanyanya
“Aku gak terlalu suka, takut hafalanku hilang” jawabku tetap focus ke laptop
“Terus kenapa kak nangis kalo dengar nasyid apalagi ada namanya Rasulullah” tanyanya
“Entahlah…” jawabku sambil mengingat kejadian itu
Ya.. beberapa kali aku sempat menangis ketika mendengar nasyid dengan nama Rasulullah tercinta. Ada rasa haru dan rindu disana, apakah aku mampu bertemu dengan beliau nantinya? Berbeda dengan nonton drakor aku biasa saja, jika pun aku punya hatiyang sensitive bayanganku itu berbeda. Selalu yang ku bawa itu perasaan Islam. Ah…banyaknya maksiat yang kulakukan ini, rasa membuatku malu berjumpa beliau. Namun aku ingin melihat wajahnya, yang katanya seperti bulan tanggal 14. Sebenarnya aku gak mengerti dengan istilah seperti itu. Yang ku tau aku sangat rindu “Rasulullah… terlalu rindu padamu…tuntunan jiwa” lagu dari bang hamid yang sangat menyentuh kalbu.
Ada yang bilang mendengarkan music itu haram hukumnya. Namun ada dua pendapat dimana ada yang membolehkan dan mengharamkan, kita bisa memilihnya. Kalau aku sendiri mengambil yang membolehkan karena unsur dakwah tadi, dengan syarat music itu tidak mengarah kepada sesuatu yang mengharamkan. Kalo hanya sekedar untuk menyemangati dakwah, mengingat Rasulullah dan perjuangan para sahabat itu dibolehkan. Yang penting bukan sesuatu seperti “Oppa dan Onnie” yang membuka aurat dan mempertontonkan gerakan erotis, kadang aku lihatnya hampir muntah juga. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Oppa, Aku Dilema Cinta"