Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pernah Merasa Tulisan Kita "Recehan"?


Oleh: Yuyun Rumiwati

Sobat, barangkali di antara kita pernah merasa karya kita recehan, g' bermutu, pasaran dan sebagainya. Jika itu sekedar penilaian pribadi untuk dalam rangka evaluasi dan perbaikan sih bagus saja  Tapi yang fatal jika perasaan kita tadi berujung pada ketidakberanian kita untuk berkarya. Minder untuk menulis. Minder untuk memposting ke akun kita. Dan segudang efek yang membuat kita jalan di tempat bahkan mundur dalam dunia tulis menulis.

Jika hal itu muncul lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Barangkali beberapa catatan berikut bisa menjadi pelecut  kita untuk kembali bangkit menulis, terkhusus bagi pemula atau pun penulis lama yang tidak mustahil merasakan hal tersebut karena suatu hal

• Pertama: Kita cari sebabnya mengapa kita merasa tulisan kita recehan? Karena topiknya?  misal. Banyak yang sudah nulis, tidak up-to-date. Atau apa?

Jika hal itu penyebabnya, maka yang perlu kita lakukan menengok kembali apa tujuan kita menulis? Jenis tulisan apa yang kita ambil? Dan kalangan pembaca apa yang akan kita bidik?

Tentu hal ini butuh jelas, ketika yang kita bidik adalah kalangan audience ibu-ibu melek politik. Tentu tulisan yang kita pilih sesuai sasaran audience. Berarti konten politik yang segar dan hangat itu sebuah sajian yang dinantikan.

Sebaliknya ketika yang kita bidik remaja tentu konten dan bahasa yang kita pilih sesuai kapasitas dan selera audience.

Jadi, g perlu kita merasa tulisan kita recehan karena bahas seputar dunia percintaan dan Korean atau  "gharizah nau'. Yang terpenting  konten dan pesannya tidak bertentangan dengan panduan hidup kita sebagai seorang.  muslim.

Tak perlu berkecil hati jika tulisan kita belum setajam silet para penulis politikus. Karena mereka menulis sesuai audience. Pun jangan khawatir bisa juga mencerdaskan politik dengan gaya bahasa meremaja. Gaya bahasa emak-emak gaul.
Bahkan untuk berbicara politik bisa juga disajikan puisi, novel, cerpen dan lainnya. Jadi tulis saja sesuai pasion kita.

Ada juga mungkin, yang merasa tulisan kita recehan karena sudah banyak yang bahas. Jadi terkesan pasaran. Khawatir tidak ada yang meminati.  Jangan khawatir juga. InsyAllah dengan sudut pandang yang khas. Yang beda dengan penulis lain. Tulisan kita tetap cantik dan menarik.
Terlebih dengan khas bahasa kita. Insyallah beda dengan  yang lain meski tema besarnya sama.  Dan jangan khawatir tiap tulisan ada jodoh pembaca masing-masing.

• Kedua: Fokus Apa countain yang kita sampaikan.

Sebagai seorang mukmin. Sudah jelas yang kita tulis harapannya adalah yang berujung pada Ridha Allah. Karenanya inspirasi teristimewa yang tak kan lekang oleh masa. Adalah insoirasi Sumber dari segala sumber hidup seorang mukmin yaitu Al-quran dan Sunah (Hadist).

Bukankah, Allah sang Maha mulia. Yang telah memberikan janji dan
apresiasi terbaik bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh dan mengatakan saya adalah seorang muslim. Sebagaimana dalam Qs  Fushilat ayat 33, _" Siapakah yang terbaik ucapannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, dan berkata, "sungguh aku termasuk orang muslim"_

Dengan spirit karena dorongan iman dan Islam, insyAllah akan mengurangi "keminderan"  kita dalam menyampaikan pesan Islam baik lisan pun tulis. 

Hakikatnya kita menulis bukan cari eksis pribadi. Tapi mengeksiskan kalimat yang layak ditinggikan dialah kalimatul hak dari sang pemilik dan pengatur jagat raya beserta isinya.

• Ketiga: Tersampainya hidayah bukan semata karena kualitas tulisan kita.

Memang secara ikhtiyar kita berikan terbaik dalam beramal termasuk menyampaikan pesan Islam secara lisan pun tulis. Tentu kondisi terbaik tersebut sesuai tuntunan Syara'.

Namun, apa arti goresan tulis dan rentetan petuah kita tanpa sang maha kuasa yang mengikatkan kebenaran Islam itu ke dalam hati hamba-Nya. Yaitu para pembaca dan pendengar.

Terlalu sombong jika sampai kita metasa karena kelihaian bahasa kita. Karena kemantapan analisis kita seorang hamba tersentuh hidayah. Dari sini, akhirnya kita benar-benar bermohon pada Allah bahwa ikhotiyar kecil kita untuk menyiarkan Islam tercinta dimudahkan oleh Allah. Allah lancarkan sebagaimana kita belajar dari doa dan permohonan nabi Musa

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

 [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

• Keempat: Terus Belajar dan berlatih.

Tak ada karya baik tanpa sebuah proses. Karenanya dengan rajin belajar dan berkumpul dengan komunitas menulis insyAllah kemsmpuan tulisan kita bisa meningkat. Bukankah energi orang di sekitar kita cukup berpengaruh bagi. Tak kata berhenti belajar, bertanya, membaca dan menimba ilmu dari mereka yang Allah berikan kelebihan di dunia tulis menulis maupun hak yang betkait dengan konten tulisan kita.

Demikian, semoga kita tetap berusaha semampu kita amar ma'ruf nahi Munkar. Dan dihindarkan dari rasa was-was bisikan syaitan yang membuat kita mendur menyampaikan.

Terlebih ketika Kapitalisme merajalela. Kedzaliman dimana-mana tentu tak perlu banyak pertimbangan dan menunda dalam kebaikan. Karena kebutuhan terhadap kembalinya sistem khilafah ala min hajji Nubuwah adalah urgent untuk menjaga peradaban manusia tetap sesuai fitrah-Nya. Allahu a'lam bi shawab. (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Pernah Merasa Tulisan Kita "Recehan"?"