Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadhan Goal: Bertakwa Every Time and Everywhere


Oleh: Airin Elkhanza

Ramadhan. Pada bulan ini umat muslim menjalankan rukun islam ketiga, yakni berpuasa. Yang mana hukumnya wajib dalam Islam (Lihat QS Al-Baqarah: 183).

Bulan yang banyak ditunggu-tunggu umat Islam karena banyaknya keutamaan akhirat yang akan Allah berikan, yaitu ampunan-Nya dan membentuk ketakwaan. Namun, kini justru bulan Ramadhan telah melambai pergi meninggalkan.

Pada bulan inilah, orang semangat-semangat mengerjakan taat. Walaupun di tengah pandemi, taat di rumah aja tidak kalah disemarakkan oleh orang-orang yang mengharap keutamaannya, yaitu makin taat mendekatkan diri kepada Allah menjadi pribadi yang bertakwa.

Yang gak berhijab, jadi berhijab, atau minimal berpakaian tertutup. Yang pacaran, saling menjauh dulu. Yang suka bohong atau marah-marah di tahan dulu. Yang suka drama atau nonton oppa korea tidak usah dulu, begitu juga yang nonton India, film Amerika, baca novel cinta, ataupun baca wattpad. Katanya, ingin fokus ibadah dulu atau menghormati bulan suci Ramadhan.

Di bulan suci ini pemerintah juga melarang tempat hiburan malam (THM) beroperasi. Sesuai dengan Perda Kota Banjarmasin No. 13 Tahun 2003 Tentang Larangan Kegiatan Pada Bulan Ramadhan. Ini semua dalam rangka menghormati dan menghargai kepada orang-orang yang sedang berpuasa. (Banjarmasinpost.co.id, 26/04/2020)

Jika dipantau dengan seksama sesungguhnya ini semua hanya berlaku pada saat Ramadhan saja. Setelah Ramadhan ini semua bisa normal seperti sedia kala. Yang sudah berhijab saat Ramadhan, kembali membuka hijabnya. Yang tadinya pacarannya dibatasi kayak PSBB, lengket kembali. Rutinitas nonton dan baca-baca unfaedah-nya diputar ulang kembali.

THM kembali beroperasi. Minuman keras pun bahkan saat Ramadhan tak dilarang, apalagi saat di luar Ramadhan. Dan mencengangkannya lagi, ada yang di bulan Ramadhan saja masih tetap beraksi bejat. Salah satu beritanya, aksi bejat yang dilakukan seoarang ayah tiri di Bukit Tinggi, Sumbar yang tega memperkosa anak tirinya di pukul 15.30 WIB (yang artinya masih jam-jam puasa) dan dilakukan di dalam rumah, astaghfirullah.. (Suara.com, 04/05/30)

Mengapa ini semua dapat terjadi? Inilah akibat dari paham sekularisasi. Yang mana paham ini memisahkan agama dari kehidupan. Seolah surga-neraka hanya persoalan sholat, puasa, zakat, naik haji. Seolah-olah bulan Ramadhan yang hadir dalam sebulan di 24 bulan lebih dihormati dan takut untuk bermaksiat (bahkan tetap ada yang bermaksiat) dari pada kehadiran Allah Swt yang selalu mengawasi.

Padahal taat tidak hanya diperintahkan Allah Swt. saat puasa saja. Diluar puasa pun juga wajib, kudu, dan harus. Seperti menurut tafsir Ibnu Katsir, takwa adalah menaati Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala hal yang tidak disukai Allah.

Takwa itu juga bisa diartikan rasa takut akan azab dan murka Allah. Seperti kata Umar bin Khattab, “Takwa ialah seperti kita berjalan di jalan yang berduri. Maka saya akan menggulung lengan baju dan berjalan dengan hati-hati melewatinya”.

Dan juga ciri amal puasa diterima adalah ketakwaan yang terus-menerus. Keadaan diri yang justru tetap takwa, bahkan lebih bertakwa seelah Ramadhan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (TQS Al-Baqarah: 183)

Di ayat itu, Allah memakai kata ‘la'alla’, yang bermakna ada harapan akan sesuatu yang itu sangat mungkin terjadi. Disitu, Allah ingin sekali hamba-Nya jadi pribadi yang bertakwa dengan berpuasa. Dengan catatan, benar-benar berpuasa karena Allah, maka Allah akan kasih garansi orang itu akan jadi pribadi yang bertakwa.

Dan takwa itu tidak hanya masalah ibadah ritual (mahdoh: seperti sholat dan puasa). Namun juga betul-betul totalitas, setiap apa yang Allah perintah dikerjakan dan yang Allah larang ditinggalkan. Yang belum nutup aurat, ditutup auratnya. Yang pacaran, udah putusin aja. Yang menghabiskan waktunya dalam kelalaian, yuk tinggalkan walau pelan-pelan. THM ditutup selamanya, miras betul-betul dilarang, riba jangan pernah ada diantara kita, zina betul-betul dicegah agar terjadi, dan hukum-hukum Allah jangan ditelantarkan, tegakkan seluruhnya.

Nah, dilihat dari makna taat yang mana harus betul-betul totalitas, maka ini perlu penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh). Karena ini memang sudah konsekuensi keimanan dan wajib dilakukan, juga sejalan dengan makna ketakwaan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS Al-Baqarah: 208)

Untuk itu, perlu kiranya di bulan Syawal ini, bukannya mikir tentang perkara perjodohan. Tapi, berpikir, gimana sih dapat predikat takwa secara totalitas? Sudahkah kita menjadi pribadi yang bertakwa? Semakin mudah melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Karena itu tanda Ramadhan berhasil, terlihat seusai Ramadhan. Makin dekat ke Allah atau menjauh?

Maka, yuk kita melangkah menjadi muslim yang bertakwa dengan ketakwaan yang hakiki. Dimulai dari mengkaji Islam secara intens dan rutin agar memahami Islam dengan detail juga sebagai sebuah konsekuensi iman serta wajib hukumnya (lihat HR Ibnu Majah No. 224) yang mengharuskan kita tau yang mana Allah perintah dan larang.

Bertakwalah kepada Allah, dengan sebenar-benar takwa. Dimanapun dan kapan pun kita berada. Bukan hanya di masjid, majelis ilmu, atau Ramadhan saja. Tapi pagi siang malam, bertakwa 24 jam.

Ingat, Allah punya CCTV ibaratnya, yang mengawasi kita nonstop 24 jam dimanapun. Jangan sampai di hari akhir kelak. Tabir dibuka, layar menyala, film kehidupan isinya menegangkan (banyak maksiat), mudah-mudahan isinya sweet (amal sholeh, tunduk patuh perintah Allah). Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

Sekarang terserah pada diri masing-masing. Apakah mau ending yang “happy” atau “horror”? Itu pilihan.
Muda hanya satu kali, alangkah beruntungnya habis dalam ketaatan. Dunia hanya tempat persinggahan, akhiratlah yang kekal.

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditana tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR At-Tirmidzi)
“Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” (TQS An-Nazi’at: 46). Wallahu ’alam  biashshawab. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Ramadhan Goal: Bertakwa Every Time and Everywhere"