Stempel (Cuma 'Saya') Yang Layak Bicara Agama
Oleh: Ust. Irfan Abu Naveed
Dakwah mengajak masyarakat luas termasuk selebritas mengkaji Islam itu patut diapresiasi, ia tanggung jawab bersama kaum Muslim, terutama para da'i yang bisa mengakses dunia mereka semisal Akhuna Felix Siauw dan Ust Fatih Karim.
Jangan dicibir hanya karena bukan 'anda' yang tampil di publik mendakwahi mereka berbekal gelar semata (gelar doktor misalnya), dan "perasaan" punya ilmu (padahal sama-sama thullab al-'ilm yang perlu banyak belajar ilmu dan adab, memangnya sudah "merasa" berilmu adalah dalil bolehnya sombong?).
Dakwah, mengajak masyarakat pada Islam dan kajian-kajian Islam itu tanggung jawab kaum Muslim, tidak dilihat ahli agama atau yang baru belajar agama.Terlebih tidak, jika yang "merasa" sebagai ahli agama dan "merasa" punya stempel bicara agama, malah menjadi perpanjangan lisan para pecinta dunia yang terpedaya dengan kekuasaan fana.
Ada tidak oknum bertitel bicara agama, namun sesat menyesatkan? Khilafah dikatakannya "virus", dan yang semisalnya, wal 'iyadzu billah, model begitu yang seharusnya dilarang tak boleh bicara agama (bab Khilafah khususnya), wajib bertaubat dan belajar lagi ilmu agama kepada ulama bersanad.
Kalau 'anda' merasa punya ilmu, coba kaji tafsir dan balaghah ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabawiyyah yang berbicara tentang tanggung jawab dakwah, memangnya itu semua berbicara tentang kewenangan 'anda' saja? Kalau 'anda' sulit memahami tafsir dan balaghahnya, bisa belajar bersama, in sya Allah saya ajari, majjan[an].
Bukankah Allah berfirman dalam ayat-Nya yang agung:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Kalimat إن تنصروا الله yang menisbatkan pertolongan pada Allah sebenarnya dalam ilmu balaghah termasuk bentuk majazi, seakan menisbatkan langsung pada Allah ’Azza wa Jalla, ini sudah cukup menunjukkan besarnya kedudukan perbuatan dalam ayat di atas, padahal Allah Maha Kuasa, tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya sedikit pun, karena konotasi sebenarnya: yakni:
(1) Menolong Din Allah dan jalan-Nya,
(2) Menolong hizbullâh (kelompok pembela Dinullah)
(3) Menolong Rasul-Nya.
Jadi, mari bahu membahu membela Islam, itu tanggung bersama.
Imam al-Marwazi (w. 294 H) dalam al-Sunnah mengetengahkan nasihat Imam al-Awza'i:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ إِلَّا وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى ثَغْرَةٍ مِنْ ثُغَرِ الْإِسْلَامِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَلَّا يُؤْتَى الْإِسْلَامُ مِنْ ثَغْرَتِهِ فَلْيَفْعَلْ
"Tidaklah setiap muslim itu, kecuali ia harus berdiri di depan benteng pertahanan dari benteng-benteng pertahanan Islam, maka siapa saja yang mampu agar Islam tidak didatangi (dihancurkan musuh) datang dari arah bentengnya, maka lakukanlah!"
وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه
Note:
Hasad rasa nasihat itu tidak baik untuk kesehatan jiwa. (reper/ian)


Posting Komentar untuk "Stempel (Cuma 'Saya') Yang Layak Bicara Agama"