Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tenda Beratap Langit



Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Saat itu bulan ramadhan. Ramadhan ceria, disambut suka cita dan yang paling bahagia itu anak-anak khususnya. Ramadhan moment dimana kita semakin dekat kepada Allah, begitu juga anak-anak. Mereka gak tau apapun tentang ramadhan kecuali hanya berpuasa oleh mamaknya. Moment lainnya adalah ketika terawih mereka datang bergerombol mengambil tempat di shaf belakang dan jangan Tanya saat terawih mereka paling riuh mengucapkan “Aamiin” sambil nanti mencolek dan cekikikan dibelakang. Memang berisik namun tak ada mereka pun seperti kecarian, dari kecil mereka diajarkan mencintai masjid dan ibadah sunah juga ukhwah.

Malam ramadhan paling ditunggu manusia, terutamanya kami para pasukan kecil yang siap beraksi membuat gaduh dimesjid. Kulihat malam pekat dengan berapa bintang menghiasi angkasa, “oke cerah malam ini” batinku, kuambil mukena dan bersiap da berkumpul bersama pasukan kecil, “oke lengkap” aku mengabsen semua, berangkat. Pasukan kecil berisi anak-anak cewek ini berjalan gembira memecah sunyinya malam dengan berlari pelan takut telat sampai di masjid. Kami berdiri dihalaman belakang masjid yang berumput hijau telah digelari tikar tanpa tenda beratap langit.

Sepulang terawih anak-anak ini sepanjang jalan gaduh, berteriak, bernyanyi dan main petasan. Begitu juga asmara subuh, pasukan kecil ini mengikuti jejak kakaknya ke mesjid lalu bermain sepulangnya. Permainan klasik tanpa android, agar tak lelah dan tak ngantuk juga bosan. Kami bermainlah monopoly, dari siapa lagi kami tau hal itu kalo bukan masternya para pendahulu kami. Sangking bosan kali mamak dan nenek pun bilang “Gak bosan-bosan kalian main itu ya”. Ah… pasukan kecil ini open dodol ajalah, cara have fun nunggu buka puasa. Kalau lelah datang dan bosan pasukan bubar dan rehat sejenak besok lanjut lagi.

Masa yang paling indah kukenang ramadhan bersama mereka, pasukan kecilku. Dan kalau bukan ramadhan pun kami sering solat berjamaah ke masjid. Para ortu gak khawatir kami kemana dan main dengan siapa. Karena kami main hanya seputaran lingkungan rumah saja sepulang mengaji dimalam hari. Merindukan hari-hari itu rasanya tak bisa dilukiskan bahagianya anak kampong ini. Jelas bukan karena suku yang memisahkan kami tapi sebuah tragedi dimana konflik terjadi.

Sejak itu ramadhan jadi tak seindah biasanya, bisanya sanggup kami berjalan kaki menuju masjid. Sekarang rasanya malasnya, karna melihat anak-anak itu justru membuat ku semakin dilanda rindu ingin bertemu pasukan kecil itu. Apalagi sejak beranjak dewasa dan mulai berpindah-pindah tempat tinggal, maklum keluargaku hanya mampu menyewa lahan saja. Meski diterjang banjir berulang kali tak mengapa, asal bisa tidur saja.

“Ayo May…terawih?” ajak mamak
“Malas lah mak, orang disini aneh semua… gak seramah tempat kita dulu” kataku sambil menolak.
“Ya… kita mau terawih gak butuh teman, ini ibadah loh setahun sekali datangnya” kata mamak
“Malas mak, terawih dirumah aja, boleh kan?” tanyaku pada mamak
“Ya terserah kamu ajalah” jawab mamak berlalu

Kulihat pun para pemuda disini tak seperti tempat tinggalku, mereka lebih suka mabok dari pada terawih. Begitu juga para wanitanya, sepulang terawih jalan-jalan dengan pacarnya, ramadhan maksiat juga gak berhenti. Aku pulang berjalan kaki pulang terawih dibalai dekat rumah. Pemukiman ini rame tapi entahlah rasaku tetap saja sepi, dan hanya 10 ramadhan saja aku bertahan ke mesjid selanjutnya ku teruskan semua itu dirumah. Maka ketika lockdown seperti ini tak membuatku resah, karena semua ibadah itu sudah biasa kulakukan dirumah dengan maksimal dan banyak waktu untuk muhasabah diri lagi.

“Kak… terawih dimana semalam?” Tanya Ita
“Gak ada dek, dirumah aja” jawabku tersenyum
“Iya ya…lagi kondisi gini, khawatir juga kita” katanya

Ramadhan bagiku tetap sama, ibadahku dirumah saja seperti tahun lalu juga. Aku gak kemesjid buat meramaikan tapi buat ibadah dan ukhwah. Entah apa kabar pasukan kecil itu, masihkan kita bisa bertemu nanti? Dan ramadhan kali ini pun beda, biasanya dari tempat kajian itu ada bukber, ada terawih dan sahur bersama. Dilanjutkan asmara subuh ke pantai buat muhasabah diri. Rindu mereka, moga Allah melindungimu soleha

Ujian kita berat diramadhan ini, tanda betapa Allah sayangi kita. Tugas kita sebagai hamba menjadi semakin bertakwa ditengah musibah dan bencana global. Kalau bulan penuh ampunan ini tidak kita gunakan untuk bertobat dan semakin dekat padanya. Entah gimana lagi bulan selanjutnya, semakin parahkah maksiat kita. Jika ramadhan ini pemimpin kita masih juga ngeyel dengan prinsipnya, maka Allahlah yang akan membalikkan keadaan kita menjadi aman sentosa. Kapan itu tunggu saja tanggal mainnya dan pasti tidak ada dibioskop kesayangan anda, trilernya pun akan segera rilis. (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Tenda Beratap Langit"