The Sweetest Sins (Dosa Paling Manis). Masuk Neraka Kok Enak?
Oleh: Fathimah Nurul Afifah
Wajar dan indah rasanya saat jatuh cinta. Seluruh pikiran semua tentang dirinya.
Hati terasa bergetar
Setiap kali bertemu dengan dirinya
Hariku terasa cerah penuh warna
Melihat kehadirannya penuh pesona
Gelora perasaan tumbuh berkembang
Setiap kali menatap wajahnya
Hati yang terkunci bisikan harapan
Tentang obrolan mendalam sangat berkesan
Bayanganmu selalu hiasi hari-hariku
Tak bertemu seperti neraka bagiku
Pilu dalam sendiri ditemani kenangan
Cahaya cinta datang menyapaku
Semoga ini bukan kisah kelam
Seperti yang terjadi di masa lalu
Walau kita sekarang jauh
Perasaan cinta masih tumbuh
Terus berkembang dalam penantian
Bersama harapan akan cinta yang sejati. (Puisi dikutip dari seuntaipuisi.blogspot.com)
Ma syaa Allah, manis kan rasanya. Lebih manis dari madu.
Jatuh cinta adalah sebuah fitrah
Teman-teman jatuh cinta bukanlah sebuah dosa melainkan sebuah fitrah manusia yang Allah berikan sebagai bekal untuk beribadah dan menjalani kehidupan manusia di bumi.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali-Imran : 14)
Cinta termasuk ke dalam gharizah nau'. Apa sih gharizah nau' itu?
Gharizah nau' artinya adalah naluri untuk melestarikan keturunan. Naluri ini diciptakan untuk seluruh manusia, baik itu wanita ataupun lelaki. Tujuannya adalah untuk melestarikan keturunan dan menciptakan kemashlahatan dalam kehidupan manusia itu sendiri.
Penciptaan dari gharizah nau’ ini hanya untuk melestarikan keturunan, jika efeknya adalah adanya rasa kenikmatan didalamnya yaitu efek secara alamiahnya saja, bukan tujuan dari penciptaan gharizah nau’ itu sendiri.
Gharizah nau' itu akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya stimulus (rangsangan). Makin intens pertemuan, percakapan, candaan, sentuhan, kebersamaan, maka akan semakin meningkat gharizah-nya.
"Cinta akan suci jika dibingkai dalam sesuatu yang halal, namun akan kotor jika dibingkai dalam sesuatu yang haram."
Jatuh cinta bisa bikin buta mata dan hati? Masa iya?
Pernah denger ini?
Dalam kitab al-Maqashid al -Hasanah karangan al-Sakhawi, terdapat sebuah hadis yang mashur tentang cinta.
“Cintamu pada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli”. (HR. Abu Dawud & Ahmad)
Menukil penjelasan al-‘Askhary, menurut al-Sakhawi dalam hadis ini Nabi ingin memberikan penjelasan bahwa cinta terkadang bisa membutakan seseorang dari jalan yang penuh dengan petunjuk Allah, serta dapat menulikannya untuk mendengar kalam kebenaran.
Maka, lanjut al-Sakhawi, seseorang yang mengalami cinta yang hebat dalam hatinya terhadap orang yang ia kasihi namun tidak dikendalikan oleh akal dan agamanya, maka cinta itu akan membuat ia tuli dan buta.
Makanya sering kita temukan banyak orang yang khilaf saat jatuh cinta sehingga terjerumus ke dalam perzinahan. Mengapa bisa begitu? Karena dia tidak mengendalikan cinta dengan akal dan agamanya.
Orang yang jatuh cinta sulit mengendalikan hawa nafsunya kecuali dibentengi dengan rasa takut kepada Allah.
Jatuh cinta jadi dosa ketika...
Ketika diluapkan belum pada waktunya yaitu dengan pacaran.
"Kan wajar kak pacaran. Buktinya banyak ortu yang nyuruh anaknya pacaran"
"Kan jatuh cinta fitrah, masa rasa cintanya dibunuh. Sama aja menyalahi fitrah"
Ingatlah bahwa "Pacaran membukakan pintu selebar-lebarnya jalan menuju perzinahan".
Pacaran mempersilahkan kita untuk melampiaskan sepuasnya gharizah nau' di dalam diri. Pacaran membiarkan kita terbiasa dengan bermaksiat atas nama sayang, yaitu berkhalwat bahkan berzina.
Semakin tinggi intensitas interaksi maka semakin tinggi gharizah nau'. Pacaran sudah pasti meningkatkan intensitas interaksi, maka pasti keinginan untuk berzina semakin menjadi-jadi.
Anekdot dari Ustadz Aam Amiruddin
"Pacaran tiga minggu udah pegangan tangan. Pacaran 8 tahun... haaah, sagala dicagap (semua dipegang)"
Serem kan?
Solusi dari Islam
Mari pahami bahwa Allah menciptakan kita dan membekali kita dengan syariat untuk menjalankan kehidupan.
Untuk apa sih syariat Islam itu? Untuk menyelamatkan kita dari kehancuran di dunia dan azab di akhirat.
Kita diberi oleh Allah hawa nafsu diantaranya adalah cinta kepada lawan jenis. Allah pula ciptakan akal agar kita bisa mengendalikan diri.
Hawa nafsu bukan untuk dihapus dalam diri, tidak pula untuk dilampiaskan seenak seperti hewan. Syariat menjadikan berada diantara keduanya.
Islam tidak mengharamkan jatuh cinta, tidak pula memperbolehkan untuk melampiaskannya hingga akhirnya berzina. Jatuh cinta boleh dilampiaskan yaitu saat setelah menikah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
" Saya belum pernah melihat solusi untuk dua orang yang saling jatuh cinta, selain nikah ". (HR. Ibnu Majah 1847, Mushannaf Ibn Abi Syaibah 15915 dan dishahihkan Al-Albani).
Jika belum bisa, maka berpuasalah.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,
“Barangsiapa mampu membiayai pernikahan hendaklah menikah, karena nikah lebih menahan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah wija’ (mengendurkan gejolak syahwat) baginya,” (HR. Bukhari).
Selain berpuasa, agar dapat mengendalikan hawa nafsu adalah dengan mengokohkan akidah serta mempertebal rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Caranya? Mengkaji ilmu syar'i untuk mengenal perkara iman. Karena dengan itu akidah dan iman akan semakin kokoh. Sehingga lebih mudah untuk mengendalikan hawa nafsu.
Allahu a'lam bish shawwab. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "The Sweetest Sins (Dosa Paling Manis). Masuk Neraka Kok Enak?"