Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berdakwahlah Karena Cinta


Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
(Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)

Dakwah menurut bahasa adalah seruan. Adapun menurut makna syariat dakwah adalah seruan kepada manusia untuk memeluk dan mengamalkan Islam serta melakukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Seperti dalam firman Allah swt :
“Hendaklah ada diantara kalian segolongan umat (kelompok) yang menyeru kepada kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS. Ali Imran : 104)

Dakwah juga dapat didefinisikan sebagai upaya mengubah masyarakat baik pemikiran, perasaan maupun sistem aturannya dari masyarakat jahiliyah ke masyarakat Islam. Terkait dengan dakwah ini Allah swt berfirman :
“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (hujjah) dan pelajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang baik pula” (TQS. An-Nahl 125)

“Kaum mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (TQS. At-Taubah : 71)

Dari ayat-ayat itu jelas bahwa dakwah hukumnya wajib karena Allah berjanji akan memberikan rahmat kepada orang yang berdakwah. Hal ini merupakan indikasi yang menunjukkan ketegasan perintah tersebut. (Materi Dasar Islam, Hal : 172-173)

Banyak orang yang berfikir bahwa menjadi pengemban dakwah itu adalah tugasnya para ustadz, kiyai, ulama dan mereka yang menempuh pendidikan agama diluar sana. Sedangkan kita yang biasa saja tak pantas untuk menyampaikan dakwah karena ilmu kita yang terbatas. Namun hitunglah dengan jari berapa banyak oarnag yang mau berdakwah  tanpa dibayar dengan segepok uang? Bahkan hal ini juga pernah dibuatkan sebuah sinetron di TV yang ditayangkan pada bulan ramadhan. Yang menjelaskan bahwa menjadi seorang ustaz itu adalah sebuah profesi dengan bayaran yang sangat fantastis. Dan sinetron itu tidak mungkin ada, jika bukan kenyataannya berbicara seperti itu. Bukankah itu menandakan bahwa mudah bagi mereka untuk menjual ayat-ayat Allah disebabkan segepok uang. Dan seolah menjelek-jelekkan Islam, meski tidak dipungkiri kenyataan itu ada. Lalu adakah yang masih murni mendakwahkan Islam ini tanpa bayaran apapun selain mencari ridho Allah?

Tentu jawabannya ada, mereka adalah orang-orang pilihan yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Mereka meluangkan waktunya, mengeluarkan harta terbaiknya dan berfikir keras untuk umat memperbaiki kondisi umat. Apa yang mereka lakukan tak lepas dari rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang ikhlas dan sabar menghadapi manusia-manusia yang sudah dicuci otaknya oleh kapitalis ini. Mereka yang tertatih membawa umat ini perlahan untuk sadar bahwa mereka kehilangan ibunya sedari masih dalam kandungan.

Merekalah para manusia pilihan yang luar biasa tak mengenal lelahnya, berdakwah kepelosok negeri menyampaikan risalah suci dari sang Rasul tercinta, meneladaninya hingga mereka juga menyadari yang dibutuhkan umat ini adalah dokter yang bisa menyembuhkan mereka dari segala penyakit duniawi. Mengajak mereka kembali ke habitat kaum muslimim, mereka mengajak umat untuk terus berfikir tanpa mendoktrin. Sehingga yang ditakutkan oleh barat adalah kebangkitan berfikirnya kaum muslimin dari tidur panjangnya, menuntut keadilan atas setiap nyawa yang hilang tak berdaya, yang sengaja mereka musnahkan demi menunda kebangkitan Islam. Ketakutan mereka kaum kufar ketika kalimat Allah tinggi mengangkasa di jagat raya, sorak-sorai kumandang takbir membawa liwa dan roya.

Kecintaan mereka pada Allah dan Rasul-nya diwujudkan dengan dakwah pemikiran yang berbeda dengan aktivitas fisik. Itu juga yang dilakukan oleh Rasulullah pada masa lalu saat Islam datang, Rasul tak pernah letih mendakwahkan Islam pada masyarakat mekkah yang bebal, hingga satu persatu darimereka memeluk Islam. Mereka yang sangat merasakan penyiksaan dari kaum quraisy adalah para budak yang masuk Islam seperti Bilal bin Rabbah, keluarga Yasir dan sang syahidah Sumayyah yang namanya harum mewangi dalam tinta sejarah. Meski demikian tak menyurutkan langkah mereka sedikitpun untuk kembali ke agamanya dahulu. Hingga Rasul mengutus mereka untuk berhijrah menyelamatkan imannya ke negeri Habasyah. Yang tak lama kemudian datanglah nusrah hingga daulah tegak di Madinah Al-Munawarah.

Para sahabat inilah menjadi cikal bakal penerus dari risalah cinta Rasul kepada umatnya, hingga sampai ke negeri ini dan hampir menguasai 2/3 dunia. Maka berdakwah itu menjadi kewajiban setiap kaum muslimin, lihatlah para artis yang mulai hijrah. Mereka tertatih mencari hidayah, namun tak menyurutkan langkah untuk menyampaikan satu ayat kepada umat. Mereka sadar ilmunya hanya secuil, namun apalah gunanya ilmu segunung jika tak menyampaikan risalah cinta dari sang Rasul agar diketahui oleh umat ini.

Tujuan dakwah Islam adalah mengubah keadaan yang tidak Islami menjadi Islami agar dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena itu, dakwah bukan hanya sekedar menyerukan untuk berbuat baik atau melarang berbuat mungkar, melainkan harus disertai dengan usaha untuk melakukan perubahan. Secara rinci perubahan tersebut terlihat pada saat :

• Pertama, untuk menyeru orang kafir agar masuk Islam.
• Kedua, menyeru orang Islam agar melaksanakan hukum Islam secara total.
• Ketiga, menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran baik dilakukan oleh individu, kelompok maupun negara.

Oleh sebab itu, yang memikul amanat dakwah ini pun adalah manusia pilihan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu para nabi dan rasul, kemudian generasi setelahnya dan yang mengikuti mereka dalam hal ilmu dan amal. Kedudukan dai dalam Islam sangatlah agung dan perkataannya pun paling baik dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat: 33)

Karena itu sebaik-baik perkataan adalah yang menyeru kepada kebajikan meski hanya satu ayat yang kita ketahui. Dakwah adalah aplikasi dalam kehidupan, bukan hanya sebuah retorika. Dimana dengan dakwah cinta inilah umat mampu tersadar, sampai kapan kita akan terus ditidurkan oleh dongeng masalalu, bukan hanya dulu kita bisa Berjaya namun sekarang juga kita mampu jika kita semua sadar betul yang kita butuhkan saat ini adalah sebuah naungan yang mampu melindungi kita.

Dan itu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang terus sabar dan ikhlas untuk menyampaikan nasehat cinta berupa dakwah ke tengah-tengah umat yang masih alpa dan buta. Dunia telah membutakan mata mereka melihat indahnya dengan harapan-harapan palsu kelak akan ada dalam gengamannya. Kapitalis tak akan bertahan lama lagi, ia sudah ringkih, sudah tua tak mampu lagi melakukan kejahatan yang sudahterbongkar dimata dunia, saatnya Islam bangkit menunjukkan eksitensinya seperti masa lalu yang gemilang. Wallahu ‘alam. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Berdakwahlah Karena Cinta"