Dibalik Dukungan Berbagai Korporasi Internasional Pada Kaum Pelangi
Oleh: Qonita Husna Zahida (Siswi SMPIT Al-Amri)
Peryataan dukungan salah satu korporasi multinasional atas gerakan kaum pelangi, pada beberapa waktu lalu melalui unggahannya di akun Instagram, seketika menimbulkan kehebohan di kancah global. Serta mengundang banyak kecaman dari berbagai pihak, terutama warganet dari Indonesia yang notabene mayoritas beragama Islam. Bahkan, tak sedikit pula warganet yang secara terang-terangan mengumumkan pemboikotan atas berbagai produk Unilever.
Azrul tanjung, Ketua Komisi Ekonomi MUI, menegaskan himbauannya pada masyarakat, agar beralih pada produk lainnya. “Saya selaku Ketua Komisi Ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” Kata Azrul pada Republika, 28/6/2020 (https://republika.co.id/berita/qcmvdb396/mui-serukan-akan-boikot-unilever-karena-pro-lgbt)
Pemboikotan ini tentu bukanlah hal yang mudah. Misalnya saja, saat kita berkunjung ke pasar maupun supermarket, tersedia berbagai macam produk milik Unilever. Mulai dari sabun, makanan, hingga produk rumah tangga nyaris seluruhnya berlebel Unilever. Dampak yang ditimbulkan dari pemboikotan ini pun, tak cukup besar. Penurunan saham mereka atas pemboikotan hanya sebesar 2,71% di pasar modal. Jelas saja, performa sebuah perusahaan multinasional takkan runtuh begitu saja dengan mudah, begitupun bibit penyakit kaum pelangi yang telah mengakar kuat, sulit dihilangkan.
Mirisnya, dukungan dari berbagai korporasi multinasional kepada kaum pelangi membuat mereka makin besar kepala. Kaum pelangi yang senantiasa gigih menggemakan isu HAM dimana-mana demi memperoleh pengakuan internasional.
Nampaknya, kini usaha mereka mulai membuahkan hasil. Atas nama Hak asasi yang lahir dari rahim kapitalisme, saat ini tercatat 20 korporasi internasional yang telah mendukung penuh gerakan elgebete. Beberapa diantaranya seperti Microsoft Corp, Walt Disney, Apple Inc, Google, Facebook, Yahoo, Youtube, Chevron, Symantec, Nike, Mastercard. Disusul oleh Unilever, serta Instagram.
Tampaknya, Lagi-lagi pepatah itu benar. Ada udang dibalik batu. Ada maksud dibalik dukungan-dukungan penuh mereka. Yang tak lain ternyata, kaum pelangi merupakan ceruk pasar yang cukup menggiurkan untuk mereka. Dilansir dari Witeck, pada tahun 2016, kemampuan membeli komunitas kaum pelangi di pasar Amerika sebesar 917 dolar. Angka yang cukup besar, untuk kemudian menjadi sebuah alasan datangnya dukungan dari berbagai korporasi internasional. Sebab ada untung yang dituju. Khas watak kapitalisme.
Gerakan kaum pelangi ini, jelas menyimpang. Kendati kita tak mengaitkannya dengan hal agama sekalipun. Karena telah keluar dari jalur kodrat sebagai manusia secara umum.
Saat ini langkah yang harus kita ambil, bukan hanya sekadar memboikot produk Unilever. Namun juga boikot pada gerakan serta asal muasal sistem. Sebab melawan masalah yang muncul akibat kapitalisme global, tak mampu jika hanya diatasi dengan skala lokal. Harus dengan ide global, disertai dengan gerakan global. Tentunya, dengan Ideologi Islam yang mampu mengatasi segala problematika ummat hingga ke akar-akarnya. Wallahu’alam. (reper/zia)


Posting Komentar untuk "Dibalik Dukungan Berbagai Korporasi Internasional Pada Kaum Pelangi"