Duh... Susahnya Melawan Wabah, ditengah Sistem Yang Salah
Oleh: Azizah Huurun'ii (Siswi SMAIT Al-Amri)
Dunia sedang berduka, semau tau itu. Dan ditengah duka itu pula kita tetap harus berjuang melawan. Seolah ditamoar oleh kenyataan dunia sedang dipojokkan oleh virus ini.
Pandemi COVID-19 di Indonesia tak menunjukkan penurunan akhir-akhir ini, bahkan satu hari orang yang terpapar virus corona hingga tataran positif bertambah bisa sampai 1.000, bahkan diambil dari satu provinsi saja.
Virus corona yang telah menyerang Indonesia sejak bulan Februari lalu, dan hingga kini kurva pasien sudah naik drastis, ibarat gelombang pasang yang belum diprediksi kapan akan surut.
Melihat kegiatan sosial di Indonesia kini sudah jauh dari kata lockdown, yang seharusnya diterapkan dengan ketat guna mencegah penyebaran langsungnya. PSBB yang diharap-harap pun akhirnya ambyar seketika akibat perekonimian menurun. Padahal akibat yang ditanggung terlalu beresiko untuk masyarakat.
Belum lagi anggaran negara untuk COVID-19 yang melenjit ditengah kemelut ekonomi negara.
Rincian alokasi anggaran kesehatan penanganan Covid-19 yang sebesar Rp87,55 triliun tersebut antara lain untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp65,8 triliun, insentif tenaga medis Rp5,9 triliun, santunan kematian Rp0,3 triliun, bantuan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) Rp3 triliun, anggaran Gugus Tugas Covid-19 Rp3,5 triliun, dan insentif perpajakan di bidang kesehatan Rp9,05 triliun.(www.aa.com/tr/id)
Pemerintah mengatakan jumlah anggaran tidak akan bertambah, meski jumlah kasus positif corona terus bertambah. Dan parahnya beberapa rumah sakit sudah angkat tangan dengan pasien yang membludak tiap hari, dan disisi lain peralatan untuk menangani mereka kurang memadai, dan kalah jumlah dengan pasien.
PSBB yang diharapkan tak menunjukkan harapan untuk menurunnya kurva. Indonesia terpojokkan oleh wabah ini.
Apapun resiko dari sisi ekonomi seharusnya pemerintah menjalankan lockdown yang benar-benar lock. Bukan setengah-setengah seperti PSBB. Karena solusi satu-satunya dari wabah menyebar adalah dengan mengunci wilayah merah, dan meletakkan mereka yang sehat di wilayah hijau, dengan wilayah merah tak boleh didekati sama sekali sampai benar-benar terkondisikan.
Seperti pada zaman Khilafah Islam. Bahkan ada tempat yang didirikan khusus untuk penyakit menular; sehingga tidak melibatkan masyarakat sekitar dengan mengasingkan tempat itu.
Di masa Islam pula pertama kali tercipta sistem lockdown dan berhasil. Pemerintah terlalu abai akan ini. Seolah menganggap kejayaan Islam hanyalah sejarah lama, yang berdebu. Padahal pada masanya, hingga sekarang pun hanya sistem Islam yang berhasil menangani berbagai persoalan.
Bahkan saat kondisi yang memojokkan saat ini, aturan Islam dapat menanganinya dengan tenang. Karena sistem yang dibuat oleh Sang Pecipta Dunia serta alam semesta, yang Maha Mengetahui apa yang manusia tak dapat menjangkau. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Duh... Susahnya Melawan Wabah, ditengah Sistem Yang Salah"