Ikanku Sayang, Ikanku Malang
Oleh: Usyratin *)
"Ibuk, belikan ikan kuning, merah, hitam, sama putih!", rengek Sakinah sambil menunjuk deretan ikan hias yang dijual di pasar.
"Ya, nanti kalau pulang, Ibu belanja dulu." Sakinah pun tenang dengan jawaban ibunya.
Selesai belanja, ibunya Sakinah segera memenuhi janji untuk membelikan permintaan Sakinah. Ikan warna merah, kuning, hitam, dan putih yang berada dalam kantong plastik kecil berisi air ditenteng Sakinah dengan bahagia.
Sesampai di rumah, gadis kecil berumur empat tahun ini segera mengambil ember. "Ibuk, isikan air!", pintanya sambil memberikan ember kepada ibunya.
Bu Nastiti, ibunya Sakinah segera mengisi ember dengan air, lalu memindahkan ikan-ikan kecil ke dalam ember. Empat ikan berenang gesit dan riang, begitu pula hati Sakina yang menyaksikan ikan-ikannya.
"Ayo, ikan belajar ngaji, ya!", ajak Sakinah yang siap jadi gurunya. "A'udzu billahiminasy syaithonirrojim", Sakinah memulai membaca ta'awudz seakan-akan ia guru dan ikan-ikan itu santrinya.
Bu Nastiti yang sedang memasak di dapur sesekali mengintip anaknya. Ia tersenyum menyaksikan anaknya berperan sebagai guru dan sekaligus santri itu. Terdengar Sakinah memuji ikan kuning, "pinter, kuning, anak sholihah". Gayanya mengajar meniru ibunya ketika mengajar ngaji Sakinah.
"Ibuk, hug,hug, hmmmm, hug, hug...", isak Sakinah sambil memeluk ibunya yang sedang mencuci piring. Dengan kaget Bu Nastiti membalikkan badan dan memeluk Sakinah, "Ada apa sayang?", dielusnya punggung Sakina. Bu Nastiti mencoba menenangkan Sakinah yang masih terisak.
Sakinah mulai tenang, "Ayo, cerita ke Ibuk, ada apa?", bujuk Bu Nastiti.
"Ikannya diam, tidak bergerak, mati...kuning mati..hug...hug...", cerita Sakina sambil menangis.
"Tadi kuning aku ambil, aku gendong, aku elus-elus, aku sayang-sayang", sambung Sakinah.
"Terus, aku masukkan air lagi,...hu...hu...hu...nggak bergerak...mati..."
"O..., begitu! Nak, ikan itu hidupnya di air. Kalau ikan dikeluarkan dari air, ia tidak bisa bernafas dan akan mati". Bu Nastiti mulai menjelaskan kepada Sakinah. Ia pun terdiam seakan menyesali perbuatannya.
"Sekarang minta maaf sama ikan geh!"
"Lalu beristigfar kepada Allah, dan jangan mengulangi lagi ya!"
"Sayangi ikan, beri makan, ganti airnya, dan lihat saja!, jangan diambil dari air". Sakinah menganggukkan kepalanya sambil mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata.
"Kuning, maafkan Sakinah ya!"...Ya, Allah aku mohon ampun, astaghfirullah!". (reper/toriq)
*)Penulis adalah pendidik pada Sekolah Dasar di Kabupaten Gresik


Posting Komentar untuk "Ikanku Sayang, Ikanku Malang"