Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ilmu Ibarat Permata, Apa Wadah Terbaiknya?


Oleh: Yuyun Rumiwati

Ilmu itu cahaya. Ilmu itu pelita. Ilmu itu berharga bak permata. Tentu suatu yang istimewa butuh wadah yang serupa yaitu istimewa.

Itu artinya sang penuntut ilmu butuh menyiapkan pikiran terjernihnya. Hati terbersihnya sebagai wadah bersemayamnya permata ilmu.

Memang tak ada manusia sempurna. Bahkan, merasa jernih pikiran dan bersih hati bisa jadi tanda kesombongan yang syaitan bisikkan.  Namun dari gambaran ilmu laksana permata, kita lebih serius dan bersungguh-sungguh mempersiapkan ketika kita akan menimba ilmu. Entah di majelis ilmu, yang Allah sebut taman-taman surga atau di tempat lain yang memungkinkan kita mengambil ilmu dari sarana lain.

Mungkin suatu ketika kita tak sadar mengotori wadah tempat bersarangnya ilmu. Bisa karena kesombongan kita. Memandang rendah sang penebar ilmu. Merasa paling lebih dulu mengkaji. Merasa lebih dulu tahu. Merasa paling lama di tempat  ternama. Tak sadar ketika kita dengarkan permata ilmu yang tidak selevel dengan kita seolah lebih rendah. Dampsknya wadah pun enggan untuk membuka kucuran ilmu darinya.

Sobat, para pencari ilmu.  Rendah hatilag pada guru adalah akhlak mulia. Bisa jadi guru kita ada kurang sana-kurang sini. Tentu tak layak murid mengecilkan potensinya. Bahkan berakhir malas untuk mengkaji bersamanya.

Selain itu, wadah yang cocok untuk permata adalah hati yang terjaga dari maksiyat kepada Allah bahkan termasuk pada perkara yang syubhat. Syaikh Sholih Al-Ushoimi menggambarkan ilmu dan wadahnya sebagai berikut,

فالعلم جوهر لطيف لا يصلح الا للقلب النظيف

“Ilmu adalah permata mulia. Tidak akan cocok bertempat kecuali di hati yang bersih.”
(Syaikh Sholih Al-Ushoimi)

Karena ilmu itu bukan sekedar bergantung usaha kita hingga ilmu itu mudah kita pahami. Maka istighfar dan Istiqomah adalahlah penjaga ruh iman kita. Mulailah saat ini, kita ingat siapa pun guru kita. Dari manapun ilmu itu tiba. Selama itu kebenaran maka tak patut kita menutup darinya. Jika tidak kita akan kehilangan keberkahannya.

Tentu tak mudah kita di era kapitalis sekuler menempatkan ilmu sebagaimana masa khilafah jaya. Dimana ilmu dan ulama' disegani. Karena keilmuwan ya. Ketakwaan dan keteladanan menjadi magnet tersendiri bagi para murid-muridnya.

Sedang sekarang, oreantasi ilmu justru untuk kenikmatan dunia. Hingga tak jarang kian ilmu yang di dapat tak sebanding dengan tingginya adab yang dimiliki. Semoga atas izin Allah, peradaban Islam yang menghargai ilmu dan guru secara terwujud. Agar para penuntut ilmu pun kian bersemangat mengkaji, mengamalkan dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.  Allahu a'lam bi shawab. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Ilmu Ibarat Permata, Apa Wadah Terbaiknya?"