Ilmu Sumber Kebaikan, Masihkah Enggan Menimbanya?
Oleh: Yuyun Rumiwati
Ilmu ibarat lampu menyinari saat kegelapan menyelimuti. Tetesan air saat kita dahaga. Ibarat kompas saat kita kebingungan di hutan. Mungkin terlalu banyak pengibaratan untuk mewakili pentingnya ilmu.
Namun, secara fakta malas dan enggan tak bisa hilang dari dunia persilatan terlebih ketika sistem kapitalis memenjarakan daya kritisi pemikiran. Saat pertama menentukan sekolah dalam benak sebagian manusia di era kapitalis, setelah lulus kerja apa? Peluang kerja ada tidak? Tak heran jika kenikmatan mencari ilmu dan efek dari keutamaan ilmu tak lagi membekas dalam jiwa dan pikiran. Karena orientasinya adalah kerja dan gaji.
Terlebih saat program sekolah keahlian digencarkan, dengan pemikiran yang masih mengental, "ah untuk apa sekolah tinggi, jika akhirnya di dunia kerja tak berarti?"
Di era ketika intelektual dan hasil karya anak bangsa kurang mendapat peluang untuk dikembangkan oleh negara hingga mudah tersebar dan terasakan oleh umat. Iya tak jauh jauh apa kabar mobil esemka?
Dalam kondisi inilah kita semua, terlebih generasi kita butuh booster agar kembali ingat keutamaan ilmu. Dengannya kekuatan untuk fokus menuntut ilmu karena Allah dan berupaya bisa berdaya guna untuk kemajuan umat dan generasi bisa kembali memimpin pikir dan jiwa.
/Pertama: Allah angkat derajat orang-orang berilmu/
Jika orang beriman saja Allah muliakan keimanannya. Namun, lebih dari itu Allah angkat derajat orang berilmu di antara orang-orang beriman. Ini mengindikasikan bahwa iman dan ilmu adalah dua saudara kembar yang tak terpisahkan.
Dengan iman ilmu akan terarah menuju kebenaran. Dan dengan ilmu iman akan berdaya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Betapa keutamaan orang berilmu yang beriman Allah sampaikan dalam Qs. Al-Mujadalah ayat 11
"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
/Kedua: Allah mudahkan jalan menuju ke surga/
Betapa Allah wajibkan menuntut ilmu "Tsaqofah Islam" dengan hukum fardhu ain. Sebagaimana wajibnya shalat lima waktu. Tidak bisa diwakilkan. Ini mengindikasikan bahwa ilmu adalah peta dan kompas penujuk arah yang memudahkan lokasi ke surga.
Jika di surga ada surga royan untuk ahli puasa tentu kita butuh ilmu puasa untuk meraihnya. Jika Allah siapkan segala pintu bagi wanita shalihah untuk memasukinya. Tentu butuh ilmu bagaimana untuk menjadi wanita shalihah. Karena gambaran wanita shalihah adalah wanita yang taat pada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tak berada di sisinya Tentu butuh ilmu akidah kokoh agar hanya satu-satunya yang ditakuti.
Bahkan salah satu ciri orang beimu (ulama')adalah mereka yang hanya takut pada Allah.
Jika demikian istri shalihah adalah wania yang berilmu. Tidak cukup sekedar wanita "nurut" dan taat atas segala titah suami. Karena adakalanya tidak ada ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan. Jika tanpa ilmu tentu kita tak bisa membedakan.
/Ketiga: Didoakan penduduk Langit bahkan ikan-ikan di lautan/
Betapa mulianya Allah anugerahkan kepada sang pencinta ilmu. Yang khusyu' dalam majelis pengingat dan pencari ilmu Allah. Hingga Allah gerakkan makhluk Allah di langit yaitu para malaikat mendoakan dengan Rahmad ketika sesat dalam majelis ilmu.
Pun ikan-ikan di lautan turut berdoa untuk para pencari ilmu Allah. Bayangkan jika sahabat kita di dunia saja ada kemungkinan lupa mendoakan kita. Maka, tak ada lupa atas makhluk Allah dan lautnya yang setia mendoakan para penuntut ilmu. Lalu kurang apa lagi jika kita masih enggan mendahidiri majelis ilmu?
/Keempat: Ilmu Sumber Kebaikan/
Karena ilmu adalah sinar yang mampu menunjukkan arah mana yang benar dan yang bathil. Maka dengannya sumber kebaikan muncul. Selama kita memahami ilmu tersebut.
Bahkan bagaimana keahlian kota terhadap suatu hal bisa menjadi ukuran tingkat keilmuwan kita atas keahlian tersebut. Walau bisa jadi keahlian terbentuk karena kebiasaan. Tapi dasar kebiasaan itu pun butuh ilmu.
Dan pola membiasakan itu pun butuh teknik ilmu.
/Kelima: Menjadikan ahli ilmu semakin takut pada Allah/
Jika Allah sendiri telah menunjukkan satu karakter ulama' (orang yang berilmu) adalah takut pada Allah. Maka kontroling dan evaluasi dari para pencinta ilmu adalah sejauh mana rasa takutnya pada Allah, hingga terbentuk karakter sejauh mungkin melakukan tindakan yang dilarang Allah. Bahkan, terhadap hal yang subhat pun dijauhkan. Maka sungguh aneh jika ada yang bergelar ulama' tapi membolehkan riba. Bahkan anti khilafah sebagai ajaran Islam yang bersumber dari Allah.
/Keenam: Ilmu Meningkatkan pemikiran dan peradaban Umat Manusia/
Hakikat pencari ilmu. Bukan sekedar untuk penikmat ilmu. Tapi berharap ilmunya bermanfaat bagi umat manusia. Dengannya ilmu itu akan hidup dan lestari. Tidak mandul sebatas teori. Jadi layak jika dalam Islam muncul banyak ilmuwan dengan segadang prestasi yang karyanya masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Mulai dari ilmu dasar matematika hingga ilmu terapan di bidang kedokteran dan lainnya.
/Ketujuh: Ilmu Adalah Investasi Abadi/
Jika saat ini kita banting tulang, menetas pikiran untuk mendapatkan omset terbanyak. Namun, kita tak boleh lupa ada adalah investasi yang tak kan merugi. Dan terus kita panen meski jasad dan nyawa telah berpisah. Itukan ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bisa tularkan dan diradakan kebaikannya bagi umat.
Jika dirinci tentu banyak keutamaan lainnya. Namun, dari ketujuk tadi semiga bisa membangkitkan kembali semangat kita untuk cinta ilmu. Mencari majelis dan guru untuk memenuhi kewajiban sang pencipta kita. Sungguh Eman jika pada prestasi ilmu dunia kita mampu bersusah payah tanpa ngenal lelah untuk meraih kesuksesan. Namun, kita tidak iringi pula dengan semangat mengenal lebih dekat Tentang Islam yang sudah kita pilih dengan penuh kesadaran.
Bukankah dalam Islam tak mengenal dicotomi ilmu? Hanya efek sekulerisme lah uang membuat kita mencukupkan berilmu di salah satu sisi (ilmu umum), lalu abai dengan ilmu Tsaqofah Islam sebagai kewajiban utama? atau sebaliknya mencukupkan ilmu agama dan enggan belajar ilmu kehidupan? Saatnya kita padukan dengan semangat iman. Dan cinta karena Allah, untuk memantapkan hati mengenal ilmu sebagai sumber kebaikan.
sapa kita bisa berbagi info misalnya ada lowongan pekerjaan atau bisnis. Atau berbagi ilmu dan sebagainya. Di sinilah perekat persaudaraan kian kokoh.
/Kedelapan: Hindari Pamer/
Memang antara syukur berbagi kebahagiaan dengan pamer atau bangga diri bisa jadi tipis batasannya. Tapi sebelum kita posting kita bisa tanyakan pada diri kita masing-masing apa niat saya memosting hasil masakan yang beragam? Apa tujuan saya sering memosting perjalanan, murni Karena Allah kah? Murni karena ingin berbagi kebagian karena Allah-lah atau bangga diri. Masalah tujuan dan niat ini kita dan diri kita yang tahu.
Untuk menghindari dari pamer yang berefek memicu rasa iri, dengki atau sedih bagi saudara atau sesama. Bisa kita kembalikan pada diri kita andai kita dalam posisi keterbatasan dan kekurangan, jujur apa uang ada di hati kita? Andai memungkinkan bisa, giat berbagi tanpa diketahui itu lebih terjaga dari riya' dan lainya.
Semoga delapan hal diatas bisa kita renungkan. Sehingga ilmu yang kita peroleh bisa semakin berkah dan kian mengokohkan persaudaraan di antara kita. Menghindarkan kita dari rasa saling iri, dengki yang merusak cinta pada saudara dan sesama manusia. Allahu a'lam bi shawab. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Ilmu Sumber Kebaikan, Masihkah Enggan Menimbanya?"