Ilusi Kebahagiaan Idol Kpop
Oleh: Fina Fatimah
Akhir-akhir ini para penggemar kpop atau yang biasa disebut kpopers dihebohkan dengan kasus bullying sesama member idol korea. Diketahui bahwa Shin Jimin, leader girl group Korea AOA (Ace of Angels) telah melakukan bullying terhadap sesama member AOA lainnya yaitu Kwon Mina. Hal ini diketahui setelah Kwon Mina yang sekarang sudah menjadi ex-member AOA membeberkan perilaku buruk Jimin terhadapnya selama menjadi idol kpop di media sosial. Ditambah dengan beberapa foto dan video sebagai bukti dugaan pembullyan yang diunggah oleh fans setelah kasus itu mencuat. Sempat terjadi perseteruan di media sosial antara Mina dengan Jimin dan berakhir dengan dikonfirmasinya Jimin mengundurkan diri dari AOA sekaligus dari industri Kpop oleh FNC Entertainment selaku agensi yang menaunginya pada 4 juni lalu. (Liputan6.com 05/07/2020)
/Depresi Hingga Bunuh Diri/
Kasus pembullyan yang menyebabkan korbannya menderita depresi berat menjadi marak dewasa ini. Penyakit mental ini bisa dirasakan siapapun. Entah itu orang biasa, hingga bintang populer sekalipun. Bahkan tidak sedikit kita dengar adanya kasus bunuh diri karena depresi para Idol Kpop yang fansnya mendunia.
Penyakit ini juga menjangkiti seorang Kwon Mina yang akhir-akhir ini kasus pembullyannya muncul ke publik. Ia mengungkapkan selama menjadi member AOA ia sering mengalami depresi yang membuatnya ketergantungan obat tidur. Hal ini disebabkan adanya tekanan dan ketidakadilan dari Jimin selaku leader girl group tersebut. Bahkan Mina mengaku putus asa dan hendak mengakhiri hidupnya setelah mengalami perundungan selama 10 tahun itu. (Kompas.com 6/07/2020)
Selain Mina, ada banyak kasus dari industri kpop ini yang sudah muncul dan mengejutkan fans di seluruh dunia. Seperti kasus bunuh diri Kim Jonghyun, Choi Sulli, dan menyusul Go Hara yang ketiganya sama-sama mengalami depresi berat.
Kasus-kasus diatas seakan membunuh ekspektasi penggemar akan idolanya yang bergelimang harta dan popularitas yang melangit. Bahwa hal tersebut tidak menjauhkan dari perbuatan buruk dan depresi. Banyak sekali penggemar yang berharap menjadi seperti idol kpop, tak terkecuali remaja muslim di dunia yang berlomba-lomba menjadikan dirinya tampak seperti sang idola. Namun realitanya tidak semanis ekspektasi yang mereka harapkan.
/Materi Sebagai Orientasi/
Korea Selatan merupakan salah satu negara yang menerapkan sistem kapitalis-liberal dalam kehidupannya. Wajar sekali saat kita melihat rakyat dan penguasanya berlomba-lomba mengejar kekuasaan, kekayaan, dan popularitas. Perlu kita akui bahwa Korea Selatan mempunyai etos kerja yang tinggi. Disiplin selalu mereka terapkan dalam kehidupannya. Seperti Jepang yang selalu tepat waktu dalam segala hal, Korea Selatan yang juga negara maju saat ini pun menerapkan hal yang sama. Terlihat jelas istilah ‘Time is money’ di negara tersebut diterapkan.
Kapitalisasi dalam industri kpop pun sangat kental. Dilihat dari tuntutan agar para idol kpop memiliki tubuh yang sempurna, wajah yang rupawan, hingga ketatnya jadwal latihan yang harus dilakukan oleh para idol. Semua hal tersebut mau tak mau dilewati oleh para idol demi tujuan yang jelas, yaitu kekayaan, kekuasaan, dan popularitas. Tanpa mengenal lelah mereka terus berusaha agar bisa debut menjadi seorang idol. Meski proses yang mereka tempuh membuat tubuh mereka harus banjir keringat dan air mata.
Hal ini juga yang mendasari banyaknya kasus perundungan di Korea Selatan. Timbul dari adanya naluri mempertahankan diri dan cara menyalurkan naluri tersebut yang salah sehingga harus saling menjatuhkan agar dirinya terlihat lebih kuat. Dalam industri hiburan Korea, perlu diakui bahwa untuk mencapai posisi sebagai Idol Kpop sangat sulit sekali. Namun untuk menjatuhkannya sangatlah mudah. Sehingga meski tujuan mereka sudah tercapai, tetap saja terdapat persaingan sengit untuk mempertahankan posisinya.
Hal tersebut terjadi apabila kita menjadikan materi sebagai tujuan. Jika tak tercapai, maka depresi adalah dampaknya. Dan untuk mempertahankan diri, berbagai cara dilakukan tanpa mengenal baik buruk maupun halal-haram yang ada dalam islam. Karena jika sumber kebahagiaan manusia adalah materi, yang menjadi standarnya adalah hawa nafsu manusia yang tak kenal rasa puas. Maka sangat salah jika kita berasumsi bahwa bahagia adalah saat kita memiliki materi. Jika materi adalah sumber kebahagiaan, bagaimana mungkin kasus-kasus bullying dan bunuh diri para idol K-pop bisa terjadi?
/Bahagianya Seorang Muslim/
Melihat fenomena gelombang hallyu atau Korean wave di dunia, banyak sekali para remaja bahkan remaja muslimah khususnya yang menginginkan kehidupannya bak Idol Kpop. Rumah mewah, perhiasan mahal, popularitas tinggi, wajah yang menawan dan segala macam hal bersifat duniawi lainnya. Namun, realita yang harus kita ketahui bahwa segala hal tersebut tidak selalu mendatangkan kebahagiaan.
Banyak sekali remaja muslimah yang keliru dalam memilih role model dalam hidupnya. Sistem kapitalis dan sekularisme yang menelusup ke dalam kehidupan yang membuat banyak remaja terlena akan kebahagiaan semu dunia dan membuatnya sulit dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Bahagianya seorang muslim sejatinya adalah bahagia dalam kehidupan kekal kelak, yaitu kehidupan di akhirat.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerah kan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash: 77)
Untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, maka yang seorang muslim perlukan adalah Ridha Allah semata. Seperti halnya orang-orang kapitalis dalam mencapai kebahagiaannya, maka seorang muslim pun harus berjuang lebih giat daripada mereka yang menginginkan kebahagiaan semu.
Bahagianya seorang muslim tidak terletak pada materi. Jika materi membuat bahagia, lantas mengapa Qarun dengan hartanya yang berlimpah, Allah tenggelamkan ia dan seluruh hartanya ke dalam perut bumi? Dan mengapa Allah berikan azab kepada Firaun yang bangga akan kekuasaannya di dunia? Lalu, bagaimana dengan wajah rupawan para idol yang nasibnya berakhir dengan menghabisi nyawa mereka sendiri. Apakah hal tersebut yang disebut dengan bahagia?
Perjuangan seorang muslim dalam menggapai ridha Allah adalah dengan mentaati segala yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya. Juga mengoptimalkan apa yang ada di dunia untuk bekal di akhirat kelak. Bukannya malah mengingkari bahwa Allah yang mengatur segala lini kehidupan ini.
/Islamlah Solusi Segala Problematika/
Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini sifat Allah sebagai Al-Khaliq dan Al-Mudabbir, yaitu pencipta dan pengatur manusia, kehidupan, dan alam semesta. Karena Allah adalah pencipta kita, maka hanya Dialah yang mengetahui solusi apa yang benar-benar manusia butuhkan dalam menyelesaikan masalah mereka. Solusi yang Allah berikan ada dalam Islam melalui wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah S.A.W. yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits.
Islam tidak hanya mengatur soal ibadah saja, namun juga mengatur muamalah, pendidikan, kesehatan, pergaulan, dan segala sesuatunya telah diatur oleh Allah. Islam mengatur manusia dari mulai bangun tidur, hingga bangun negara. Bahkan untuk menyelesaikan kasus bullying dan depresi pun ada solusinya dalam islam.
Dalam kasus bullying ini naluri mempertahankan dirilah yang mendominasi. Hal ini fitrah, namun apa yang manusia perbuat dalam menyalurkan nalurinya adalah pilihan setiap manusia. Darinya bisa menimbulkan pahala maupun dosa.
Jika manusia menjadikan islam sebagai pengatur kehidupannya, maka kasus bullying tersebut tidak akan terjadi. Karena islam pun mengatur adab bergaul antar sesama yang melarang berbuat dzalim terhadap oranglain dengan melakukan bullying.
“Janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak karena melihat siksa.” (Q.S. Ibrahim: 42)
Maka, diperlukan peran negara dalam mengatur adab bergaul, tidak bebas namun diatur dalam bingkai negara. Kelak, sebagai warga negara yang patuh kita harus taat dengan aturan Allah yakni Islam. Namun hari ini, kita kehilangan Islam sebagai aturan kehidupan kita, bahkan untuk pergaulan dianggap sebagai ranah pribadi yang tidak sembarang orang berhak ikut campur, apalagi negara tidak berhak mengatur ranah tersebut. Namun perlu disadari, jika Islam meberikan aturan dalam ranah pergaulan sejatinya untuk menyalamatkan manusia dari dosa-dosa didalam pergaulan. Karebna kita mengathui bahwa Islam adalah fitrah manusia, maka kita sejatinya memerlukan pengaturan yang kaffah menyeluruh didalam naungan Islam. Walllohu’alam bi ash shawab. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Ilusi Kebahagiaan Idol Kpop"