Islamic Trip
Oleh: Pay Jarot Sujarwo
Jika traveling sudah menjelma menjadi cita-cita bagi sebagian besar manusia modern, benarkah cita-cita itu diridhoi yang maha kuasa? Faktanya, banyak sekali manusia yang memiliki cita-cita bisa traveling, lalu berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut, kemudian merasa sudah menang, berjaya, untuk selanjutnya melakukan aktivitas perjalanan dengan gaya terserah-terserah saja.
Dulu, Agustinus Wibowo pernah protes dengan Lonely Planet. Buku panduan perjalanan itu telah membuat gaya orang traveling menjadi seragam. Merasa percaya diri berpegian tanpa guide, sebab sudah punya buku suci. Menjadi backpacker. Bertemu orang baru. Becakap-cakap dengan bahasa asing, keren rasanya. Tapi apa yang terjadi?
Ternyata “buku panduan perjalanan” tak hanya membuat orang lebih mudah mengunjungi suatu tempat, tetapi apalah artinya traveling jika tak punya pengalaman lebih. Inilah yang dicari. Sharing experience antar traveler sering dijadikan alasan. Akibatnya, terbentuklah komunitas traveler. Offline dan online. Dibikanlah berbagai kegiatan. Kumpul. Kongkow. Antar kota, antar provinsi, antar negara. Berbagai interaksi terjadi. Bolehkah?
Boleh-boleh saja selama semua itu tak melanggar peraturan yang sudah dibuat Allah SWT. Tapi silakan cek sendiri aktivitas para traveler ini. Sebut saja misalnya Asia Tenggara. Di beberapa kota seperti Bangkok, Phnom Penh, Ho Chi Minh, Bali, Siem Reap, Pattaya, dan masih banyak lagi, hari ini secara terang-terangan memperlihatkan berbagai macam kemungkaran. Dan amat sangat disayangkan, berbagai aktivitas kemungkaran itu terselenggara demi memanjakan para traveler. Simbiosis mutualisme katanya. Para traveler bisa menikmati kondisi suatu negara, sedangkan negara diuntungkan dengan terjadinya berbagai macam transaksi dari para taveler. Yang amat sangat disayangkan, sebagian besar transaksi yang terjadi tidak dilandasi dengan iman.
Orang barat ingin ke Thailand agar bisa naik gajah, masuk hutan, berinteraksi dengan alam. Naik gajah selesai, lalu mereka kongkow di kota. Orang barat ingin bisa merasakan eksotisme Angkor Wat di Kamboja, menjelajahi Angkor Wat selesai, lalu mereka kongkow di kota. Orang barat ingin berjemur di pantai Bali, berjemur selesai, mereka kongkow di kota. Orang barat ingin ini ingin itu di negeri-negeri timur, setelahnya mereka kongkow di kota.
Orang barat suka alkohol, maka orang timur menyediakan alkohol. Maka menjamurlah cafe, diskotik, restoran, hotel untuk memanjakan orang barat. Selanjutnya terjadi interaksi dengan orang timur. Selanjutnya terjadi tukar pemikiran. Terjadi tukar gaya hidup. Orang barat ke timur ada yang ingin pakai sarung, orang timur bertemu orang barat ada yang pengen telanjang di pantai. Selamat datang di industri bisnis yang begitu menjanjikan materi di dunia. Pariwisata. Traveling. Tapi bagaimana dengan hari akhir?
Tak banyak orang cerita tentang hari akhir dalam aktivitas traveling di era sekarang. Betapa tidak, hari ini berbagai macam aktivitas kita sudah dihegemoni dengan sebuah kekuatan besar bernama sekulerisme, mengandalkan penopang ekonomi kapitalis, bervisi liberalis. Hari ini adalah hari ini. Tak ada urusannya dengan hari akhir. Naudzubillah.
Ini beda cerita ketika tatanan dunia dijalankan dengan sepenuh jiwa karena Allah ta’ala. Seluruhnya. Individu, masyarakat, ekonomi, gaya hidup, pendidikan, kenegaraan, semuanya dijalankan dengan peraturan yang berlandaskan pada aturan Allah. Seluruh aktivitas serta merta menjadi aktivitas yang bervisi ilahiah. Penyimpangan terjadi? Ada. Tapi segera tertangani. Apakah ada maksiat? Bisa jadi, tapi betapa minim jumlahnya. Negara juga punya rule yang tegas. Base on kitabullah dan sunnah. Dan itu pernah terjadi.
Saksikanlah Ibn Batuttah, Laksamana Cheng Ho, Sa’ad bin Abu Waqqas, Muhammad Al Idrisi, Ibnu Madjid dan masih banyak lainnya. Orang-orang ini menyandang gelar traveler.Tak sekadar bikin bekas jejak, tapi menjadi inspirasi tak putus bagi generasi setelahnya. Dan yang terpenting, perjalanan demi perjalanan dilakukan mereka dalam rangka merealisasikan misi hidup. Misi seorang makhluk yang sudah diciptakan. Apa misi itu?
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Inilah sesungguhnya misi hakiki manusia dan jin. Beribadah. Termasuk saat melakukan perjalanan kemanapun. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Islamic Trip"