Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kecantikan Hakiki


Oleh: Hafidzah (Santri Ma'had Darul Bayan Sumedang)

Hal yang sangat diinginkan kaum hawa ialah kecantikan yang hakiki, baik dari kalangan remaja maupun dewasa. Namun, kecantikan fisik tidak akan bisa bersifat hakiki, karena ia bisa hilang ditelan masa. Kulit yang kencang dan mulus bisa jadi keriput dan berbintik-bintik, gigi yang berjejer rapih bisa tiba-tiba rontok meninggalkan gusinya, rambut hitam yang menjuntai Indah akan memutih di kemudian hari. Hal ini adalah keniscayaan, karena kita adalah makhluk yang fana, maka kecantikan pun hanyalah sesuatu yang fana.

Alangkah naifnya ketika kita menghabiskan seluruh daya untuk mencegah penuaan demi mengejar cantik fisik, sedangkan kematian sel-sel dalam tubuh kita sudah menjadi ketetapan yang pasti.
Sebetulnya, ada kecantikan yang abadi. Cantik yang tak akan hilang dimakan usia, tetap Lestari hingga melewati batas-batas kematian. Itu lah kecantikan hakiki, kecantikan surgawi yang berasal dari kecantikan ruhani. Inginkah memiliki kecantikan yang satu ini? Mari kira pelajari formulanya.

Kecantikan ruhani berasal dari keluhuran akhlak, keluhuran akhlak bersumber dari kekokohan iman yang menancap kuat dalam dada. Akhlak dan iman adalah dua hal ayng melahirkan kecantikan surgawi, kecantikan abadi yang tidak akan terpancar selain dari keduanya.

Akhlak berarti tindakan alamiah, respons spontan tanpa direkayasa. Jika akhlak dikaitkan dengan kata islam, menjadi akhlaqul islamiyyah atau akhlaqul karimah. Berarti, perbuatan dan tingkah laku yang sesuai pedoman al-qur'an dan as-sunnah (hadits).

Secara garis besar, akhlak terbagi dua, yakni akhlak terhadap khaliq (Allah SWT), dan akhlak terhadap makhluk. Makhluk berarti segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT. Makhluk terbagi menjadi dua bagain, yaitu manusia dan selain manusia. Akhlak terhadap manusia terdiri dari akhlak terhadap Nabi dan Rasul, diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan hubungan antar bangsa. Sementara itu, akhlak kepada selain manusia yaitu akhlak terhadap benda mati, hewan, dan terhadap tumbuhan. (HR. Muslim)

Allah SWT juga tak pernah memandang hamba-Nya dari kecantikan, melainkan dari keimanan, ketakwaan dan akhlak yang mulia. Apalagi dalam kondisi wabah seperti ini, bukannya mendekatkan diri kepada Allah dan berdo'a semoga wabah ini cepat berakhir, malah perawatan kesana-kesini demi kecantikan fisik yang diinginkan. Padahal, dari pada uang dibuang sia-sia, mending dipakai untuk sedekah.
Maka, jadilah wanita yang berakhlaqul karimah, yang peduli kepada sesama tanpa mementingkan diri sendiri. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Kecantikan Hakiki"