Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lelah Dalam Dakwah


Oleh: Yuyun Rumiwati

Sobat, yang Haq dan yang batil secara alami akan terus bergesekan. Terlebih jika sistem dan kekuasaan melindungi kebatilan. Maka ujian demi ujian akan silih berganti menerpa pembawa kebenaran.

Lelah adalah kesekuensi dari perjuagan. Entah perjuangan yang Haq, maupun yang bathil. Namun, yang membedakan lelah dalam kebenaran ada Allah sang Maha kuat sebagai sandaran. Sedang pembawa kebathilan tak punya itu.

Berbeda dalam niat dan dasar. Tentu ada konsekuensi beda dari perjuangan. Yang pejuang kebenaran lelahnya bermakna selama niat dan jalan-Nya seiring dengan tuntunan Rabb-Nya.

Sedang pembawa kebathilan lelahnya tak ada sandaran. Selain sandaran rapuh pads mahkluk. Entah penguasa dengan segala pirantinya. Mulai lembaga dan medianya. Lalu, apa arti semua. Jika Allah sang Maha Pencipta hendak mencerai-beraikannya.

Sejenak kita tengok, bagaimana para nabi dan Rasul bersama orang yang berada dibarisannya. Beragam halangan dan rintangan menyertai. Mulai dari ragam fitnahan. Bagaimana sosok Rosulullah yang bergelar Al-Amin. Pun difitnah tukang sihir. Beliau dengan kemuliaan nasab dan keluarganya di boikot agar menghentikan risalah-Nya.

Begitu pun di era ini. Berbagai cara dilakukan penegak kebatilan menghalangi langkah pengemban dakwah. Jika tak berhasil menghentikan pengembangannya. Akan dikriminalisasi ajaran Islam yang di bawanya. Hingga masyarakat menjauhinya.

Lelah, gemes manusiawi bagi para pengemban dakwah. Ketika melihat segala tipu daya mereka. Semakin pengemban kebatilan berbusa menyampaikan segala tipu daya dan fitnah. Justru tanpa disadari Allah kian buka segala kerendahan berfikirnya. Karena dengan sengaja menolak bahkan menghalangi cahaya yang benar-banar cemerlang kebenarannya.

Ingalah  sobat, betapa Allah kabarkan jika kita lelah, sakit, para pengemban kebathilan pun lelah dan sakit. Sebagaimana firman Allah berikut,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS An-Nisa’ [4]:104).

Dari ayat di atas kita bisa belajar. Jika para pengemban kebathilan tanpa henti, meski mereka lelah dan kesakitan. Padahal mereka tak punya kekuatan ruhiyah. Kita punya sandaran Allah, sedang mereka tidak.  Lalu layakkah jika pengemban kebenaran lelah dan diam?

Jika pihak kebatilan tekun, tentu pembawa kebenaran yang layak untuk lebih tekun. Jika mereka kreatif dan masif  dalam menyebar kebathilan. Tentu pembawa kebenaran yang lebih berhak masif dan kreatif menyebar sinar Islam. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Lelah Dalam Dakwah"