Marah
Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)
Marah itu mudah, tidak perlu sekolah untuk bisa marah, tidak perlu ada syarat apapun untuk bisa marah, tidak perlu ada pelatihan khusus untuk bisa marah. Marah itu emosi yang wajar, dan pasti dimiliki oleh semua mahkluk hidup. Jadi, semua yang hidup pasti bisa marah. Apakah dia Presiden, Mentri, Gubernur, Walikota, Bupati, Pak Camat, Pak Lurah bahkan pedagang kaki lima dan satpol PP semua bisa marah.
Diri yang sedang marah adalah diri yang sedang kalah dengan realitas yang dihadapinya. Jadi, marah itu ekspresi dari diri yang sedang kehilangan ketenangan dan ketegasan saat menghadapi kenyataan hidup. Bisa jadi marah karena merasa diri tidak mampu memberi kesejahteraan, merasa dikhianati golongannya, merasa dipaksa melakukan sesuatu padahal dirinya sudah tidak mau. Maka, marah dan mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain adalah pilihan terbaik demi menutupi ketidakmampuan dan kelemahannya dalam memanajemen sesuatu.
Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan akan mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mencaci maki, mengucapkan kalimat buruk, bercerai, saling sikut, saling intimidasi bahkan saling membunuh. Marah adalah luapan emosi yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya.
Sebagai seorang muslim tentu saja teladan kehidupan kita adalah Rasulullah Saw. Berbeda dengan mereka yang tidak mempercayai hari akhir, takkan pernah mereka bisa mengendalikan marah yang ada justru sruduk sana sruduk sini malah menambah masalah baru.
Berikut pesan Rasulullah Saw. Untuk mengendalikan amarah
1. Mengingat Allah SWT
Marah adalah gejolak emosi yang berasal dari setan. Untuk itu, tindakan terbaik adalah mencari perlindungan kepada Allah Swt. Bisa dengan melantunkan nama-Nya atau mengingat Allah Swt. Dengan mengingat Allah akan membawa terang dan kesejukan di hati, yang dapat mengurangi emosi.
Rasulullah bersabda: "Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta'awudz: A-'uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2. Berusaha Diam dan Jaga Lisan.
Diam merupakan perbuatan mulia dan salah satu cara untuk mengantisipasi muncul luapan amarah. Jangan pernah sekali-kali mencari kambing hitam atas kesalahanmu sendiri.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: "Jika kalian marah, diamlah." (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
3. Ubah posisi
Rasulullah bersabda: "Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur." (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
4. Berwudhu dan Segeralah mandi
Dari Urwah As-Sa'di, Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Orang-orang yang cerdas emosi pasti menyadari bahaya dari emosi marah. Apalagi marah itu emosi yang sangat mudah terekspresikan, dan secara pasti menimbulkan dampak negatif lebih lebih dia adalah seorang pemimpin, baik pemimpin negara ataupun pemimpin rumah tangga.
Perlu latihan yang sifatnya seumur hidup untuk menenangkan diri agar tidak mudah mengekspresikan marah. Bila marah itu dipelihara, maka dia akan menjadi emosi yang membahayakan diri sendiri, keluarga dan masyarakat, termasuk menjadikan diri sendiri sulit menikmati damai dan bahagia.
Dalam kondisi sedang marah sangatlah sulit untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih. Emosi marah akan menanggapi segala sesuatu dengan pikiran ego, sehingga berpotensi memperumit persoalan dan membuat situasi menjadi lebih buruk.
Buat kalian para pemimpin, bersikaplah secara profesional dan redakan situasi emosional dengan emosi kalian yang cerdas. Stop saling menyalahkan. Instrospeksi diri sendiri, apa yang salah dengan kebijakanmu, sistem apa yang sedang kalian pakai untuk negeri ini? Sudahkah berhasil mensejahterakan rakyatmu atau justru menambah beban mereka. Pahamilah kenapa rakyatmu menghujatmu. Jika mereka sudah sejahtera tidak mungkin mereka mengkritisimu. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Marah"