Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membaca dan Menulis


Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Setiap penulis, pasti pembaca. Semua pembaca, belum tentu penulis. Untuk menjadi pembaca yang baik, menulislah. Walau baru belajar, demikianlah sebuah tulisan yang sekelebat lewat di beranda fb, bener juga ya.

Seorang dosen pernah mengatakan, “Saya pusing kalau sehari tidak membaca buku.” Baginya buku ibarat makanan. Ia membaca buku setiap hari.  Membaca buku setiap hari masuk dalam kamus hidupnya. Dan ia menulis banyak buku. Dengan demikian, menulis tanpa banyak membaca buku adalah mustahil.

Seorang penulis adalah seorang pembaca sejati. Ia rajin membaca buku atau berita-berita di media sosial, dia pun pandai membaca tanda-tanda zaman, apapun perkembangan perpolitikan di negaranya ataupun di negara lain sangat wajib dia ikuti demi mandapatkan informasi, fakta dan data terbaru.

Dengan semakin sering membaca, kita akan terbantu untuk menemukan ide utama dari setiap tulisan yang kita baca. Menemukan ide utama penting agar kita mengetahui maksud si penulis. Kejelihan kita menemukan ide utama akhirnya membantu kita merancang ide pokok setiap tulisan kita.

"Saya ingin menulis tapi tak tau harus mulai darimana?"

"Saya ingin menulis tapi gak pede karena wawasan saya kurang"

"Saya ingin menulis tapi bingung gimana bisa menulis dengan bagus"

Berbagai pertanyaan yang sering saya dengar saat ini sebenarnya adalah apa yang pernah saya rasakan dulu.

Mulailah saya kepo membaca berbagai judul tulisan para senior, lalu mengamati dari awal hingga akhir model tulisan mereka. Pelan-pelan saya mulai menirunya, yah semua berawal dari niat dan kemauan untuk membaca.

Selain membaca, jangan ragu untuk bertanya walaupun pertanyaan remeh temeh sekalipun, jangan malu, la wong faktanya emang gak ngerti.

Setelah menulis, sudah bisa dipastikan penulis akan membaca berulang-ulang hasil tulisannya. Proses pengeditan pun terjadi saat membaca hasil tulisan.Tak jarang penulis akan mengganti tulisan yang dirasa kurang pas. Sekali lagi proses membaca terjadi.

Begitulah proses menulis, menulisnya sekali tetapi membacanya bisa berulang-ulang kali. Minimal membaca hasil tulisan sendiri, bisa bikin happy.

Dan yang lebih happy lagi, menulis membuatmu dikenang. Tulisan akan selalu hidup walau raga sang penulis telah tiada, penulis khususnya tulisan dakwah akan selalu dicintai umat walau mereka telah lama pergi. Karena tulisan mereka telah mengubah sejarah, menginspirasi jutaan orang di dunia.

Di sisi lain, menulis memberikan kita kesempatan sebesar-besarnya untuk meraih pahala dan memenangkan opini Islam di jagat maya. Di dunia nyata kita butuh proses yang panjang dalam mendakwahkan dan memahamkan seseorang dengan ide Islam. Namun, dengan menulis, siapapun bisa membaca tulisan kita, jangkauannya juga lebih luas, opini Islam mudah tersebar. Jadi, jangan ragu untuk memulai bergerilya di dunia kepenulisan.

Jika para pengemban kebatilan begitu getol menyebarkan pemikiran sesat, lantas mengapa kita masih enggan melawan pemikiran mereka dengan ideologi Islam yang kita punya? Yakni, lawanlah dengan pemikiran juga, dari goresan pena kita, yang mampu kita lakukan.

Cobalah memberi tanda di alam semesta. Apa tanda itu? Prestasi dan karya. Iya, berkarya agar kelak kita memiliki jejak amal kebaikan walau nyawa terlepas dari badan.

Ajal boleh datang, raga boleh berpulang, tapi tulisan akan dikenang sepanjang kehidupan. Sampaikan kebenaran alquran walau hanya sepenggal ayat. Dakwahkan Islam agar umat makin paham Islam sebagai solusi kehidupan.

Karena itu mulailah menulis. Mulailah dengan menulis hal-hal sederhana yang kamu ketahui dan yang ada di sekitarmu. Apa pun profesi kamu saat ini, jangan berhenti untuk menulis. Karena dengan tulisan kita dikenang, sebab tulisan itu sifatnya kekal. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Membaca dan Menulis"