Mutiara Ummah
Oleh: Layyina Mujahida Fillah (Aktivis Dakwah Millenial)
Laut itu terbentang luas. Isinya macam-macam. Ada yang kita ketahui, ada pula yang tersembunyi. Ada yang memberikan manfaat bagi sekitar, tapi ada juga yang hanya bisa merusak pemandangan. Ada yang membuat lautan makin indah bersamaan dengan ada yang mengotorinya. Semua berjuang sangat keras, ada yang untuk kebaikan dan ada yang untuk keburukan.
Begitu pula dengan dunia ini. Setiap orang berbeda. Setiap orang tak akan pernah bisa sama. Antara anak dan orang tua, meski mirip pun tak akan sama. Pun dengan dua anak kembar, lahir secara bersamaan tak akan membuat mereka memiliki perilaku yang sama. Apalagi hanya antarsahabat, di antaranya pasti pernah memiliki perselisihan dan perbedaan pendapat.
Karena saat manusia lahir di muka bumi ini, kita memiliki hidup masing-masing. Kita memiliki pilihan-pilihan hidup kita sendiri. Tak ada yang bisa memaksakan jalan hidup seseorang, kecuali itulah kehendak Allah. Meski manusia lain memaksa, tetapi sejatinya pilihan itu tetap ada pada kita. Kitalah yang memutuskan. Kitalah yang menentukan.
Hal itulah yang akhirnya membuat lautan memiliki isi kandungan yang beragam. Dan perbedaan yang sangat besar. Antara haq dan bathil memang tak akan pernah bisa bersatu, bahkan hingga kiamat datang. Sebagian dari kita berjuang menegakkan kebenaran, dan sebagian yang lain bersikeras menebar keburukan hanya untuk keuntungan individual.
Dan sayangnya, saat ini dunia didominasi oleh manusia kelompok kedua, sehingga segala kerusakan dan keburukan akibat ulah tangan manusia tak bisa terhindarkan. SDA dan SDM dieksploitasi besar-besaran hanya untuk mereka yang punya modal. New normal sekarang mulai diterapkan agar sang pengusaha dan ekonomi tetap berjalan dan uang mengalir kepada mereka sang pemilik kekuasaan, tak peduli pada keselamatan rakyat ditengah wabah yang masih menyebar. Pengadilan dan hukum tak lagi bisa menjadi penegak kebenaran dan keadilan, karena mereka sudah dikendalikan. Akhirnya, meski telah melukai dan merusak tubuh orang lain, sang pelaku hanya berkata tidak sengaja dan memberikan seribu satu alasan, ia pun dibebaskan. Hanya hukuman ringan yang tak setimpal.
Dan di tengah masyarakat pun tak ketinggalan. Tawuran di antara pelajar hanya karena hal sepele bukan lagi menjadi hal baru. Ibu yang tega pada anaknya, anak yang durhaka kepada orangtuanya, dan sang bapak yang tak peduli melakukan perselingkuhan sering sekali terjadi. Entah itu terekspoks maupun tidak. Minuman keras juga di mana-mana, tempat prostitusi pun tersedia. Dan entah berapa kali polisi telah menggebrak ketahuan beberapa remaja yang sedang melakukan pesta seks dan narkoba.
Begitulah keadaan lautan kita sekarang. Keruh dan kotor. Ditambah miris sekali, bahwa kelompok kedua ini juga terdapat banyak saudara kita, saudara seiman yang beragama Islam. Begitulah pilihan mereka.
Setiap orang memang berbeda, setiap orang memang tak akan pernah bisa sama. Kita punya pilihan masing-masing. Tapi hal tersebut bukan berarti manusia tak bisa bersatu. Saat kita memeluk agama Islam inilah sejatinya kita telah di satukan dengan Rasulullah, dan seluruh umat Islam di dunia. Hidup memang pilihan, namun tak ada pilihan bagi orang beriman, kecuali selalu dalam ketaatan.
Orang Islam yang berimanlah yang akan menjadi muslim sejati bagaikan mutiara, bukan orang yang Islam tapi tidak beriman. Karena itu artinya ia hanya sedang menjadi serigala berbulu domba. Hanya bisa berbicara tanpa pembuktian.
Maka, di dunia yang serba salah ini, tetaplah jadi mutiara. Yang sedap dipandang dan selalu menebar manfaat dan kebaikan. Mutiara itu, tak peduli seberapa hitamnya lautan, ia akan tetap bercahaya dan menjadi pemandangan yang indah.
Jadi, gigitlah agama Islam kuat-kuat, jangan sampai biarkan ia menghilang dari diri kita dan dari semua orang orang yang kita cintai. Jikapun tak bisa melakukan kebaikan, jangan ikut melakukan kerusakan. Tetapi, jangan pernah menyerah menjadi orang yang bertakwa dan menebar kebaikan dan kebenaran.
Ingatlah, Allah bersama orang orang yang beriman. Tetaplah jadi mutiara ummah. Jangan pernah ragu memperjuangkan agama Islam dan menegakkan kebenaran. Wallahu a'lam bishowab. (reper/yuni)


Posting Komentar untuk "Mutiara Ummah"