Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

New Normal: Cinta Sebatas di Bibir


Oleh: Keni Rahayu, S.Pd (Founder Kajian Online Mini SWI)

Pada tau kelakuan cowok playboy? Atau cowok "se-ti-a" yang artinya "se"tiap "ti"kungan "a"da? Kelihatannya dia sayang banget di hadapan kekasih tercinta, tapi sebenarnya itu hanya menutupi kesalahan bahwa ia tak setia.

Kira-kira, gini nih gambaran New Normal yang berlaku hari ini. Penyelenggara negara menghembuskan narasi New Normal; "hidup damai dengan Corona" sebagai tanda kita beraktivitas seperti biasa (seperti sebelum ada pandemi) namun tetap memenuhi protokol kesehatan.

Padahal, tahu gak sih, New Normal adalah bagian dari tren mode internasional. Artinya, gak cuma Indonesia loh yang mengambil kebijakan ini. Di antaranya ada Prancis, Vietnam, Malaysia, Italia, Korea dan masih banyak lagi. Itu berarti New Normal bukan kebijakan inisiatif pemerintah, melainkan ikut-ikutan negara lain. Namanya juga tren.

Yang gak kalah seru buat teman-teman tahu, sebenarnya New Normal digadang sebagai solusi karena ambruknya ekonomi. Kebayang gak kalau para pekerja baik kantoran maupun pabrik kalau semua harus #dirumahaja, terus yang menjalankan roda ekonomi siapa? Apalagi, hutang Indonesia meroket guys jadi 5.258,57 Triliun Rupiah (per Mei 2020). Triliun loh guys, bisa ngitung jumlah nolnya berapa?

Dari APBN, sebesar Rp.646 Triliun harus dibayarkan ke hutang tersebut (utang Rp.351T + bunga Rp.295T). Faktanya, anggaran untuk bayar hutang lebih besar daripada untuk biaya pendidikan infrastruktur (source: https://youtu.be/V-WM_GW4B1E). Apalagi sumber APBN itu gak sedikit loh yang dari sektor pajak. Iya pajak. Palak yang atas nama kepentingan rakyat itu. Kalau banyak rakyat yang gak bekerja dan gak punya penghasilan, darimana kira-kira negara memalak (eh maksudnya memajaki) rakyat? Uang pungutan pajak ini yang banyak jadi pijakan APBN negara kita. Sedih kan guys? Inilah kenapa negara kita ngotot mengambil langkah New Normal.

Protokol kesehatan seperti pakai masker keluar rumah, rajin cuci tangan, social distancing dan sebagainya cuma pelengkap manisnya cinta di bibir aja. Berkali-kali disampaikan hanya karena menutupi kesalahan. Faktanya, kalau bener kekasihmu mencintaimu, seharusnya dia jagain kamu dong? Kamu akan dijaga dan disayang untuk selalu #dirumahaja dibandingkan dibolehkan keluyuran asal pakai masker. Gak relate banget gitu. Kalau beneran sayang, doi akan rela mengucurkan dana yang luar biasa demi menjaga nyawa seluruh rakyat tercinta. Bukan malah dijadikan tumbal ke mbak Coro seperti hari ini. Ngakunya cinta ke rakyat, tapi pada pada pemilik modal hatinya terpikat.

Yang perlu kita sadar juga guys, New Normal bukan masa balas dendam ya. Corona itu bahaya. Sekali lagi, bahaya. Udah dia gak kelihatan, terus kita gak tahu daya tahan tubuh kita sampai seberapa. Apakah imun kita kita bisa bertahan atau kalah lalu kita "ditumbangkan"? Kita gak mau kan mati muda gegara kita menyepelekan virus Corona? Atau bisa saja kita sehat, padahal kita jadi pembawa virus yang bisa menularkan kepada orang rentan di sekitar kita? Naudzubillahi min dzalik.

Kalau selama tiga bulan #dirumahaja jumlah pasien positif Corona gak turun-turun gimana kalau PSBB? Apalagi New Normal? Gak kebayang deh berapa tahun lagi kita nunggu mbak Corona pergi. Hiks.

Padahal Islam sudah kasih jawaban loh atas masalah pandemi ini. Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Lockdown satu-satunya kondisi yang bisa menghentikan laju penyebaran pandemi. Butuh biaya yang sangat banyak, memang. Tapi di situlah peran negara. Tersebab cara pandang kapitalisme lah yang menjadi  landasan negara kita hari ini, sehingga sangat kentara negara tak mau rugi.

Berbeda dengan syariat Islam, Khalifah bersungguh-sungguh menjaga rakyat dengan mengerahkan segala tenaga. Negara memisahkan yang sehat dengan yang sakit dalam upaya lockdown sejak awal. Tracing orang-orang dalam wilayah wabah, dan dilarang keluar sama sekali dari daerahnya. Sehingga warga negara di luar wabah bisa beraktivitas seperti biasa. Di sisi lain, negara menggenjot para ahli demi menemukan antivirus.
Sungguh mulia Islam sempurna mengatur kehidupan manusia. Sekarang tinggal peran kita, sudahi atau halalkan? *lah? Wallahua'lambishowab. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "New Normal: Cinta Sebatas di Bibir"