Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Politik Orang Aceh Tak Pernah Receh


Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
(Muslimah Aceh dan Peradaban)

Politik adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut. Kesadaran politik bukan berarti kesadaran akan situasi politik, kontelasi internasional, peristiwa-peristiwa politik mengikuti politik internasional atau mengikuti aktivitas-aktivitas politik. Itu semua adalah hal-hal yang melengkapi kesempurnaan saja. Kesadaran politik tidak lain adalah pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang khusus. Bagi kita kau muslim sudut pandang itu adalah akidah Islam yaitu “Laa illaha illa Allah Muhammad Rasulullah” Rasulullah Saw bersabda :

“Aku perintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata Laa illaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Jika mereka mengucapkannya berarti mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar”. (Mafahim Siyasi Hizb hal : 7 & 227)

Namun yang kita fahami sekarang ini adalah politik yang punya citra buruk, sehingga banyak orang yang menanggap bahwa politik itu kotor dan jahat. Padahal politik dalam Islam adalah mengurusi umat. Mengurusi umat bukanlah pekerjaan yang mudah untuk itu butuh suatu sistem yang tepat agar umat juga tak terabaikan seperti saat ini. Dimana kondisi umat semakin terpuruk karena sistem yang salah. Dimana semua kebebasan itu menjadi jaminan tanpa sebuah ikatan, yang membuat orang semakin menggila tanpa arah jelas kehidupannya.

Itulah yang menjadi landasan mengapa Aceh menerima Muslim Rohingya dengan tangan terbuka, bukan hanya ikatan akidah namun karena selama ini tidak ada yang mengurusi mereka. Aceh kembali disorot karena menolong Muslim Rohingya yang terlunta-lunta dilautan tanpa arah dan tujuan. Bagi Aceh sesama muslim itu saudara, maka yang terjadi pada muslim rohingya hari ini tidak lain karena ikatan akidahnya. Bukan hanya itu saja, saat negeri lain menolak kedatangan muslim Rohingya, Aceh membuka tangannya untuk mereka bahkan membuat sebuah kampung dengan nama mereka. Setiap kali muslim rohingya melarikan diri, Aceh selalu terdepan menolongnya dan itu bukan sekali.

Negeri yang dijuluki serambi mekkah ini sangat kental dengan kereligiusannya, itu terlihat saat Aceh mencoba menerapkan syariat Islam. Meski banyak disorot oleh media dari seluruh dunia, karena bertentangan dengan sistem yang diterapkan saat ini. Namun, Aceh tetap menjalankan hal itu karena menganggap syariat Islam adalah hukum yang berasal dari sang Khaliq. Meski terjadi pro dan kontra beberapa tahun bahkan sempat membuat takut wisatawan yang hendak mengujungi Aceh. Ketika mereka harus memakai pakaian menutup aurat, tidak boleh melakukan maksiat dan pasti hukumannya ditempat terbuka disaksikan banyak orang.

Aceh yang sangat kaya raya dimasa lalunya, sangat murah hati dan senantiasa selalu siap menolong. Itu terlihat ketika Aceh menjadi donator untuk kemerdekaan Indonesia, masyarakatnya berkumpul dan menyumbangkan semua harta benda yang mereka miliki untuk satu tujuan, yaitu terlepas dari penjajahan. Uang pemberian ini digunakan untuk membeli pesawat dan alusista untuk berperang, belum lagi kita berbicara tentang  bongkahan emas yang diberikan Teuku Markam seberat 28 Kg yang sekarang menjadi ikon kota Jakarta yaitu tugu monas. Maka peran Aceh untuk Indonesia sendiri sangat luar biasa, itu tak dapat di pungkiri lagi.

Bukankah yang dilakukan rakyat Aceh sama persis seperti yang terjadi di Turki Utsmani?, dimana khalifah Abdul Hamid II meminta kepada rakyatnya untuk memberikan harta terbaik mereka untuk membuat kereta api yang bisa menuju ke mekkah dengan tujuan memudahkan mereka untuk beribadah haji nantinya. Inilah cerminan kepemimpinan sejati yang kemudian ditiru rakyat Aceh, Aceh patut berbangga karena hubungannya dengan Daulah Utsamani saat itu masih terjalin mersa hingga saat ini.

Maka jangan menganggap remeh orang Aceh, bukan mereka tak mengerti politik. Mereka sangat paham politik adalah mengurusi urusan umat. Hanya saja saat ini rakyat Aceh sedang terlena, terbuai akan janji manis masa lalu yang pernah jaya. Padahal kenyataanya, semua kekajaan itu telah hilang dalam genggaman. Mereka tak sadar tertipu sama seperti mereka tak sadar bahwa Snock juga menipu kaum muslim Aceh hingga mengubah arah politik Aceh agar tak mampu bangkit lagi.

Pedih menerima kenyataan ini bagi yang sadar, namun saatnya bangkit. Sudahi keterpurukan ini, lelah sudah rasanya dijajah meski colonial Belanda tak ada lagi. Tapi kita masih dibawah cengkraman kapitalis yang sama bengis seperti colonial Belanda, dengan banyak investasi dan setelah harta umat dikeruk habis. Apa lagi yang tersisa buat umat negeri ini, hanya bangkai berlapis baja menggunung menjadi sarang tak berpenghuni.

Mungkin kita tak bisa lagi memiliki apa yang telah hilang dari genggaman kita, namun kita adalah bangsa yang besar. Sejarah telah menorehkan perjuangan nan gigih dari para pahlawan negeri ini. Ketika tua-muda, laki-laki dan perempuan ikut berjuang untuk melepaskan diri dari penjajah. Mereka tak pernah menyerah, meski harus diasingkan dari negeri tercinta. Namun darah para syuhada mengalir dinegeri ini, memanggilnya untuk pulang kembali agar tak lupa akan sejarahnya. Aceh pernah jaya, dan membantu Indonesia untuk merdeka, tapi tak cukup hanya disitu perjuangan kita belum berakhir. Saatnya kembali berjuang untuk menerapkan Islam secara kaffah seperti bisyarah Rasul yang kita rindukan saat ini. Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk Islam dan untuk Allah, mari mereguk kembali janji suci hidup mulia dengan Islam atau mati syahid. Wallahu ‘Alam. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Politik Orang Aceh Tak Pernah Receh"