Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Remaja Jadi 'Korban' Sinetron Cinta?


Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
(Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)

Saat ini pihak kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe, sedang menangani kasus seorang remaja berinisal AD (17) asal Gampong Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, yang berdasarkan informasi telah menusuk temannya sendiri berinisal MT (18) karena salah paham tentang berebut cewek. AD kini telah menjadi tahanan anak dibawah umur di Malpores Lhokseumawe, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto SIK, didampingi Kasat Reskrim Iptu Yoga Panji Prasetya SIK, kepada Serambinews.com, rabu (15/7/2020) menjelaskan penahanan seorang remaja atas nama AD berdasarkan perkara penusukan terhadap MT yang terjadi pada Minggu (12/7/2020) di seputaran Jalan Pabrik Perta Arun Gas (PAG), Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. (SerambiNews.com, 15/7/2020)

Gairah muda para remaja yang tengah dimabuk cinta sepertinya mulai tidak bisa melihat dengan jelas. Dimana tak bisa membedakan antara kawan dan lawan, dan tak bisa lagi mengendalikan rasanya. Inilah yang terlihat pada dua remaja tanggung yang ribut karena salah paham pada seorang wanita, entah bagaimana awalnya hingga terjadilah cekcok dan pelaku kalap mata hingga tega menusuk temannya.

Entah apa yang merasukinya membawa sebilah rencong, bukankah ini sesuatu yang memang sudah direncanakan? Walaupun mungkin awalnya hanya sekedar menakut-nakutinya, namun apalah daya setan lebih dulu membisikkan kata-kata yang mengandung amarah kian memuncak. Bahkan ayah korban yang berada tak jauh dari TKP pun tak sempat melihat hal itu. Sebegitu cepatnya hal itu terjadi, Membuat ayah korban sendiri tak menyangkanya.

Mungkinkan remaja ini korban sinetron atau drama? Sehingga berani melakukan hal itu pada temannya. Tidak dapat dipungkiri lagi, saat ini tontonan sudah menjadi tuntunan para remaja. Dari sinetron percintaan hingga bagaimana cara menjadi preman, pembangkang pada orangtua dan membolos sekolah, bahkan yang cara membunuh. Sangat miris sekali, namun itu hal yang sudah bisa diprediksikan oleh kaum kapitalis yang selalu mencari keuntungan dan merusak para generasi umat Islam.

Lihat saja bagaimana drama dan sinetron itu bertebaran di TV yang tak berbobot dan lulus sensor. Seolah berbanding terbalik dengan para guru dan orang tua yang mencoba mendidik anaknya dengan baik. Tapi malah mereka merusak pemikiran para remaja dan generasi ini hanya dengan kefanaan dunia ini melalui TVdan gadget. Sehingga membuat para remaja lebih mencintai dunia ini, bahkan tak takut akan dihisab. Mati seolah perkara lain yang penting hari ini bisa happy meski cara yang di pakai harus menyakiti orang lain. Keberhasilan besar bagi kaum kapitalis yang sudah membabat habis aqidah generasi Islam masa kini. Ini hanya satu kasus diantara kasus yang pernah terjadi di negeri ini, seolah hidup manusia kian tak berharga. Generasi kita benar-benar telah menjadi korban dari film-film yang tidak mendidik.

Dalam Islam mencintai seseorang itu adalah hal fitrah pada diri manusia, namun naluri ini tidak akan sampai menyebabkan seseorang itu mati kecuali hanya membuatnya gelisah. Naluri ini harus ditempatkan pada sesuatu yang benar yakni jalur pernikahan. Jika merasa belum mampu maka dianjurkan untuk berpuasa, karna puasa ibarat perisai. Namun yang terjadi sekarang sebaliknya anak-anak dipenuhi dengan tontonan percintaan dari kartun hingga film/sinetron. Tontonan ini membuat mereka berfikir lebih dewasa daripada umurnya, yakni bersikap seolah dirinya sudah dewasa. Padahal mereka belum siap untuk menjalani hidup ala remaja.

Islam jelas akan melarang hal-hal ini terjadi karena menjaga akidah itu adalah dasar pondasi awal. Sehingga apapun yang terjadi nantinya aqidah ini memilah apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk mendapatkan ridho Allah. Menonton memang hukumnya mubah, namun apabila menjadi lalai hingga lupa beribadah dan kemudian menjadi perubahan pada dirinya maka hal itu menjadi haram karena pengaruhnya yang besar.

Maka dibutuhkan sebuah intitusi besar yang mampu melindungi para generasi ini nantinya. Bukan lagi generasi kerupuk cengeng yang sekali di pijak langsung rapuh hancur berkeping. Untuk itu Islam nantinya akan mengawasi semua tayangan yang akan di konsumsi oleh para generasi bangsa ini yaitu yang tidak melenakan. Mungkin akan lebih banyak lagi kisah para nabi dan rasul para sahabat yang patut dicontoh keteladanannya. Yang akan menumbuhkan semangat untuk menghidupkan kualitas yang baik dalam menjalani kehidupan.

Dan kelak khilafah benar-benar akan menjaga pendidikan para generasi menjadi lebih berkualitas untuk kemajuan negeri dan peradaban dunia seperti tempo dulu. Bukan cerita kemegahannya yang dimanipulasi barat lalu diangkat jadi film kemudian diputar balikkan seolah Islam jahat dan kejam. Mereka ciptakan superhero khayalan yang sekarang dikagumi banyak anak-anak bahkan lagi-lagi menjadi korban.

Karena mereka nantinya akan didik menjadi penakluk kota Roma seperti bisyarah Rasulullah nan indah “Sebaik-baik panglimanya, sebaik-baik pasukannya”. Sungguh itu kelak yang akan terpatri dihati para remaja Islam yang sangat mencintai Allah dan Rasulnya. Itu menjadi cita-cita nan mulia ingin mereka wujudkan meski dengan berbagai resiko yang harus mereka terima. Namun inilah gambaran generasi masa depan yang di inginnkan oleh Islam, bukan yang dimabuk cinta dan korban drama. Wallahu’alam. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Remaja Jadi 'Korban' Sinetron Cinta?"