Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Remaja Nggak Main Tiktok, Terus Ngapain Dong?


Oleh: Hilyatiy Shofi

Kemajuan ilmu pengetahuan semakin mempermudah informasi dan budaya lain untuk masuk ke masyarakat. Hingga kita semua sadari bahwa dampak dari media globalisasi bukan hanya berpengaruh kepada masyarakat tetapi juga pada anak anak dan remaja.

Dampak buruk dari globalisasi ini justru sangat memprihatinkan. Pasalnya, dampak buruk ini tidak memilih kepada siapa ia akan singgah atau bahkan menetap. Orang tua, anak anak, dan lebih parah nya lagi para remaja.

Remaja sekarang adalah generasi penerus umat masa depan. Mereka adalah harapan, sinar matahari yang akan memberikan warna bagi masa depan umat.

Jika melihat fakta remaja di zaman sekarang, sebagian berfikir bahwa remaja zaman sekarang adalah remaja remaja yang penuh bakat, penuh kreativitas dan prestasi. Namun sebagian lain berpendapat bahwa remaja zaman sekarang justru amat sangat memprihatinkan dan membuat risau. Kedua pendapat ini tergantung dari tolak ukur apa kita memandang.
Namun sebagai muslimah sejati, kita selalu diarahkan untuk menilai segala sesuatu dengan cara pandang islam.
Karena Sang Pencipta telah mengatur segala nya didalam syariatNya.

Mulai penghujung April 2020, saat #dirumahaja sangat booming di akun sosial media, kita dapat melihat banyak nya perkembangan dan beberapa perbincangan viral yang semakin hari semakin berganti. Mulai dari ramainya pengguna aplikasi tiktok, rilis drama terbaru dan lain sebagainya meramaikan akun sosial media kita.

Hingga muncul slogan "jaman gini ga nge-tiktok? Jadul amat lu"  begitupun dengan viral nya drama korea, lagu lagu barat, challange2 unfaedah yang jika kita tidak mengetahui atau tidak melakukannya maka cap "JADUL" akan melekat pada diri kita. Belum lagi dengan standar kecantikan dan ketampanan harus sesuai dengan wajah wajah yang berkulit putih, apakah menjadi lumrah juga untuk menilai dan merubah ciptaan Sang Khaliq? Astaghfirullah.

Kenapa bisa demikian?

Bukankah seperti yang sudah tertera diatas (paragraf ke empat)  yang mengingatkan kembali bahwa standar penilaian dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim adalah hukum syara. Baik buruk suatu perbuatan harus sesuai dengan hukum syara. Lalu, kenapa justru sekarang berkebalikan? Ternyata, sadar tidak sadar pemikiran kita sudah teracuni oleh racun racun barat. Sehingga kita dengan mudahnya menganggap hal yang tidak pantas menjadi pantas, dengan gampang nya kita menilai dosa menjadi sebuah prestasi.

Bagaimana harusnya remaja bersikap?

Jika kita melihat sejarah Sang Penakluk (muhammad Al fatih) yang menaklukkan costantinopel di usia 21 tahun. Beliau di didik dan dibesarkan dengan harapan untuk menaklukkan costantinopel, jika kita berfikir, mungkin itu adalah suatu kemustahilan, bagaimana bisa? Diumur yang baru menginjak angka 21 justru costantinopel benar benar jatuh dalam genggaman beliau. Istilah mustahil? Iya.
Lihatlah perjuangan para sahabat nabi, dan para penakluk2 yang akhirnya menjadikan sesuatu yang mustahil itu sebagai sejarah emas bagi kaum muslimin.

Muhammad Al Fatih menjadi harapan bagi orang tua beliau untuk menaklukan costantinopel, Apa beda nya dengan kita?
Kita sebagai remaja muslim sekarang pun menjadi harapan besar bagi orang tua kita untuk menegakkan kembali daulah islam.
Kita berguru pada sejarah Muhammad Al Fatih dalam ketekunan beliau dalam belajar, kegigihan beliau dalam berjuang dan tekad kuat beliau. Jangan sampai hanya sebatas menjadi "pengagum kisahnya" saja tapi sikap serta perbuatan kita tidak mencerminkan sifat sifat beliau.
Naudzubillahimindzaalik.

Sosial media harusnya menjadi sarana baik bagi kita untuk bisa terus berkarya dengan dasar untuk menegakkan negara islam. Target kita sebagai remaja muslim haruslah lebih tinggi, yakni tidak hanya prestasi dunia namun prestasi yang membahagiakan didunia dan menjadi penyelamat kita di akhirat.

Karena amanah kita sebagai remaja  yang akan menjadi pemimpin umat masa depan tidaklah remeh dan ringan. Tekad kita harus kuat, usaha kita harus maksimal. Bukan hanya meninggalkan yang haram, kita pun harus bisa menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak berfaedah apalagi sesuatu yang buruk yang justru akan mendoktrin diri kita sendiri untuk berleha leha dalam perjuangan kita.

Pernah dengar istilah "jika ujung2 nya akan sama2 terbiasa, kenapa tidak membiasakan pada sesuatu yang baik saja?" Benar bukan? (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Remaja Nggak Main Tiktok, Terus Ngapain Dong?"