Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebaik-baik kebaikan dan Sejelek-Jelek Keburukan


Oleh: Mochamad Efendi

Apa sih ulama' itu gaes? orang yang punya ilmu yang luas dan mendalam atau orang yang takut pada Allah dan rasulNya. Ulama' berasal dari bahasa Arab yang artinya orang-orang berilmu, para sarjana' atau bisa diartikan pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Jadi ulama' tidak hanya sekedar orang yang berilmu tinggi, luas dan mendalam tapi dia harus mengkaitkan setiap pemikirannya dengan ajaran yang lurus dan mulia, Islam. Atau dengan kata lain,  ulama' adalah orang yang takut pada Allah dan rasulNya karena dia mengetahui lebih dari orang kebanyakan tentang Islam. Oleh karena itu, ulama' juga sering disebut pewaris para nabi dan rasul, karena nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada nabi lagi setelah itu. Karena keluasaan dan kedalanam ilmu agamanya, ulama' diharapkan mampu menyampaikan Islam dengan benar, tidak dimanipulasi atau modifikasi seolah-olah dari ajaran Islam yang benar, tapi ternyata menyesatkan.

Namun, gaes sering di alam demokrasi dalam sistem sekular, banyak orang yang berilmu, tapi tidak menyuarakan ilmunya sesuai dengan idealisme yang diyakini benar. Bahkan tidak sedikit dari mereka membela pemikiran sekular yang berasal dari pemahaman manusia yang lemah dengan mengabaikan bahkan meninggalkan ajaran Islam yang lurus dan mulia. Mereka menyembunyikan kebenaran dan mencari pembenaran atas kepentingannya.

Jabatan dan rasa takut akan kehilangan perhiasan dunia mendorong seseorang yang berilmu meninggalkan idealismenya sebagai ulama'. Agama hanya dipelajari sebagai pengetahuan saja, bukan untuk diyakini dan dipegang teguh untuk diperjuangkan.  Pemikiran pragmatis dan nilai manfaat dijadikan dasar kebenaran. Ancaman rezim membuat nyalinya ciut dan takut menyuarakan kebenaran. Ulama' semacam ini sering disebut ulama' su'.
Ulama' su' pandai bersilat lidah, memutar balikkan fakta dan mencari dasar pembenaran. Terlihat alim dalam lisannya namun semua yang dilakukan hanya untuk satu kepentingannya di dunia. Mereka menjilat penguasa agar mendapatkan kedudukan, jabatan dan kekayaan yang diinginkan. Apa yang disampaikan bukan untuk membela agama Allah, tapi untuk kepentingannya agar tetap diakui sebagai ulama' oleh penguasa meskipun harus membela kedzaliman.

Berbeda dengan ulama' yang lurus yang mengharap wajah Allah dan keridhoanNya.  Mereka hanya takut pada Allah dan rasulNya.  Apa yang disampaikan hanyalah kebenaran yang bersumber dari ajaran yang lurus, Islam. Dia tidak mengharapkan balasan berupa perhiasan dunia berupa jabatan, atau materi yang mengukuhkan kedudukan di dunia. Apa yang diharapkan adalah mencari ridho Allah. Apa disampaikan konsisten pada kebenaran meskipun kebenaran itu bertentangan dengan kepentingan penguasa. 

Gaes, menjadi ulama' yang lurus dalam sistem demokrasi sungguh berat karena sering harus berhadapan dengan kepentingan penguasa rezim yang menyimpang dari aturan Islam. Banyak peraturan, dalam sistem demokrasi yang didasarkan pada nafsu dan kepentingan manusa agar bisa terus berkuasa.  Sering peraturan tidak berpihak pada rakyat dan lebih membela kepentingan penguasaha atau pemilik modal yang menopang kekuasaan.
Dalam sistem demokrasi,  banyak sekali peraturan dalam bentuk RUU yang sering tidak sesuai dengan ajaran Islam.  Banyak sekali dibuat didasarkan pada kesepakatan bersama antara para pendiri satu negeri atau penguasa yang dianggap segala-galanya dan harga mati melebihi kebenaran hakiki dari Sang Pemilik Hidup dan Pencipta langit dan bumi. Tugas ulama' memang lebih berat untuk meluruskan pemikiran manusia yang bengkok dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia.

Ulama' yang tidak ikhlas dan didalam hatinya ada penyakit pasti akan memilih perhiasan dunia yang memang dipuruntukkan menguji manusia siapa diantara mereka yang lebih baik amal perbuatannya.  Ulama' yang munafik akan tergelincir pada sejelek-jelak keburukan.  Seperti yang dikhawatirkan Sayyidina Umar Bin Khoththob ra dari umat adalah para munafiqun yang berilmu.  Mereka bisa menyesatkan dan menjauhkan umat dari agama yang lurus, Islam.

Sebaliknya ulama' yang lurus dan berpegang teguh pada kebenaran Islam akan selamat dan berhak mendapatkan wanginya surga. Dialah sebaik-baiknya kebaikan ditengah persekusi dan fitnah akhir zaman yang membuat banyak orang melepaskan pegangan agama dan lebih memilih pemikiran manusia yang rapuh dan menyesatkan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
“ Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338).

Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama. (HR ad-Darimi). (reper/az)

Posting Komentar untuk "Sebaik-baik kebaikan dan Sejelek-Jelek Keburukan"