Ta’aruf itu Yang Gimana Sih?
Oleh: Septa Yunis (Tim Muslimah Voice)
Beberapa hari lalu publik dihebohkan dengan pernikahan aktris cantik Dinda Haw dengan penyanyi tampan Rey Mbayang. Pernah nggak sih kita denger hubungan mereka? Hubungan mereka luput dari ekspos media. Karena meraka ternyata menjalani proses ta’aruf. Melangsungkan lamaran pada Kamis 9 Juli 2020, Dinda dan Rey mantap menggelar pernikahan sehari setelahnya.
Ngomongin soal ta’aruf nih, ta’aruf menjadi alternatif yang tepat untuk menuju gerbang pernikahan. Because, ta’aruf yang dimaksud di sini adalah proses saling mengenal antara dua orang lawan jenis yang ingin menikah. Jika di antara mereka berdua ada kecocokan maka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan namun jika tidak maka proses pun berhenti dan tidak berlanjut. Ketimbang pacaran yang jelas-jelas dosanya. Orang pacaran itu hanya jagain jodoh orang, rugi pake banget.
Islam tidak melarang ta’aruf, dalam sebuah hadits disebutkan, “Dari Anas bin Malik bahwa Al-Mughirah bin Syu’bah ingin menikah seorang wanita, maka Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – berkata kepadanya, “Pergi lalu lihatlah dia, sesungguhnya hal itu menimbulkan kasih sayang dan kedekatan antara kalian berdua.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no 1938 dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani – rahimahullah – dalam Shahih Ibnu Majah)
But, jaman now, ta’aruf banyak disalah artikan. Banyak yang beranggapan ta’aruf adalah pacaran Islami. Asli di dalam Islam itu nggak ada istilah pacaran Islami, apaun bentuk pacaran adalah haram, kecuali pacaran setelah menikah.
Tata cara ta’aruf yang sesuai syariat Islam, tidak boleh menerjang rambu-rambu Islam. Harus ada perantara atau Mak Comblang. Kita ingat kisah Ummu mukminin Khadijah, kisah cintanya dengan Rasulullah adalah kisah cinta paling romantis sepanjang jaman. Perantara Khadijah dan Rasulullah adalah Maysaroh. Dari perantara beliau lah kemudian pernikahan itu terjadi.
Naahh itu artinya, tanpa perantara tidak diperbolehkan. Nggak boleh dong jika ada laki-laki atau perempuan yang siap nikah kemudian menyukai lawan jenis, itu langsung ngomong ke yang bersangkutan, melainkan harus pergi ke keluarga, guru ngaji, atau kerabat yang dapat dipercaya untuk menyampaikan maksudnya.
So, ta’aruf itu bukan untuk menghalalkan jalan berdua, makan berdua, chat-chatan sampai larut malam, bukan seperti itu Esmeralda. Kita harus meluruskan di tengah-tengah masyarakat gimana ta’aruf yang sesungguhnya, biar nggak salah kaprah para muda mudi memahami istilah ta’aruf. Yang mana, selama ini banyak yang salah memahami. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Ta’aruf itu Yang Gimana Sih?"