Tanganku, Hanya Satu Yang Digenggam
Oleh: Solikha Ardini Rahmawati
Siapapun kalian, diluar sana yang memiliki dua orang tua, bersyukurlah. Menikmati kebersamaan, mendapat kasih sayang, dan tuntunan dari mereka sungguh luar biasa.
Mendapati sosok ayah yang tak pernah sekalipun mengeluh lelah. Bekerja dengan jerih payahnya, dan penuh tenaga untuk keluarga.
Aku pernah melihat senyum bangga dari bibir sang ayah ketika berhasil memberi sesuatu yang aku suka. Padahal, aku tau bagaimana penatnya pekerjaan yang ayah lakukan. Bagaimana lelahnya ayah berpikir mencukupi kebutuhan.
Hingga, aku tak lagi menemui senyuman itu. Ada, namun hanya dalam ingatanku. Sesekali nampak bahagia sekali ketika aku melihat seorang anak dengan tangan kiri digenggam hangat oleh ibunya, dan kanannya digenggam teguh sang ayah. Namun aku? Ternyata hanya satu dari tanganku yang mendapat genggaman.
Yaa, aku tau, banyak dari kita yang rindu pada sosok ayah, tapi rindu yang sesungguhnya akan terasa ketika ayah tak lagi bisa berdiri dihadapan kita. Ayah mendahului di salah satu pintu kehidupan selanjutnya.
Apakah kita ingat? Bagaimana ayah sungguh tak mau melihat kita terluka. Lalu, apakah kita tega, ketika ayah mendapat siksa atas dosa kita? Kita berbahagia dengan kemaksiatan di dunia, terlupa bahwa dosa itu mengalir menemui sang ayah. Meminta tanggung jawab atas didikan yang seharusnya sudah kita terima.
Maka, teruslah rindu ayah. Agar kita selalu menunjukkan bakti padanya. Walaupun kini, bakti kita tak lagi berupa patuh pada kata-katanya, tak lagi pada menyuguhkan teh di mejanya, atau lulus dengan nilai bagus agar ayah bangga. Namun, bakti kita dibuat lebih sederhana dari itu semua. Yaitu dengan menjadi anak yang dapat menuntun ke Syurga.
Bukan masalah walau kini hanya tangan ibu yang bisa kugenggam. Kelak, genggaman ayah juga akan kurasa, bahkan lebih bahagia karena bergenggaman menapaki Syurga-Nya. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Tanganku, Hanya Satu Yang Digenggam"