Terbelenggu dalam Cinta yang Salah
Oleh: Siska Julia Rahman
Cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Sebab, karena cinta lah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Namun, bagaimana jika cinta itu disalurkan dengan cara yang salah? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran.
Berbagai data tentang aktivitas pacaran anak muda saat ini dapat kita lihat dari berbagai sumber. Dilansir dari kompas.com, jumat (10/7/2020), 37 pasangan anak muda di bawah umur diduga menggelar pesta seks di kamar hotel dan ditemukan barang bukti sekotak kondom dan obat kuat. Puluhan pasang anak muda ini terjaring dari berbagai tempat di kota Jambi, di antaranya hotel Ceriah, Bintang Timur, Sarinah, Mayang Sari.
Dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada 2017, sebanyak 32,5 persen kelompok umur 20-29 tahun telah terinveksi HIV AIDS karena telah aktif secara seksual sejak remaja yang dipicu oleh terjadinya kontak seksual dalam aktivitas berpacaran dan di perkuat oleh hasil survei bahwa sebanyak 45% wanita dan 44% pria di Indonesia mulai berpacaran pada umur 15-17 tahun atau di masa remaja. Ada lima tahapan kontak seksual pada remaja, yaitu sentuhan, pacaran tanpa berciuman, berciuman, meraba bagian sensitif, dan hubungan seksual. Untuk persentase perilaku pacaran remaja Indonesia, kebanyakan wanita dan pria mengaku saat berpacaran melakukan aktivitas berpegangan tangan (64% wanita dan 75% pria), berpelukan (17% wanita dan 33% pria), cium bibir (30% wanita dan 50% pria) dan meraba/diraba (5% wanita dan 22% pria), (Indonesiabaik.id).
Tidakkah kita gelisah dan ngeri melihat data ini? Bukankah ini bukti akan hancurnya generasi bangsa hari ini. Tahukah kita, bahwa tegak dan kokohnya suatu bangsa sangat tergantung pada generasi mudanya. Hancurnya generasi muda menjadi awal runtuh dan hancurnya sebuah negara.
Beradab atau tidaknya suatu bangsa dapat dilihat dari perilaku dan moralitas pemudanya. Semakin buruk adab dan perilakunya maka akan semakin hancur bangsa dan negaranya. Menyikapi berbagai potret suram generasi hari ini, akan timbul pertanyaan, siapa yang harus bertanggung jawab?
Inilah akibat dari sistem pemisahan agama dari kehidupan. Jauhnya remaja dan generasi hari ini dari agamanya yaitu Al-quran dan sunnah menjadi sumber hancurnya moral dan akhlak mereka. Di dalam Islam pria dan wanita dilarang berkhlwat atau berdua-duaan untuk mencegah terjadinya perzinahan, dan aktivitas pacaran adalah salah satu pintu menuju perzinahaan.
Dalil keharaman pacaran antara lain, pertama, adanya ayat yang mengharamkan zina dan juga segala aktivitas yang mendekati zina, seperti berpelukan dan berciuman. Firman Allah SWT (yang artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra’ [17] : 32). Pada ayat ini Allah SWT telah melarang mendekati zina dan zinanya itu sendiri. Menurut Imam Ibnu Katsir yang dimaksud mendekati zina adalah segala aktivitas yang menjadi sebab atau pendorong terjadinya zina. (asbab wa dawa’I azzina). (Tafsir Ibnu Katsir, Juz III, hlm. 503).
Kedua, dalil yang mengharamkan khalwat, yakni berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan di tempat sepi. Sabda Nabi SAW, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang perempuan, kecuali perempuan itu disertai mahramnya.” (HR. Bukhari no 4935; Muslim no 1341).
Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita kembali kepada aturan yang Allah buat untuk mengatur manusia, karena Allah lah yang lebih tahu ciptaannya dan juga peran negara sangat penting untuk penerapan hukum Islam agar bisa berjalan. Wallahu a’lam bishawab. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Terbelenggu dalam Cinta yang Salah"