75 Tahun Indonesia Merdeka
Oleh: Sayyid Ibadurrahman (Komunitas Remaja Kuy Hijrah)
"Merdeka! Merdeka!"
Begitulah teriakan para Master Ceremony (MC) mengawali acara tasyakuran kemerdekaan.
Memangnya negeri ini sudah benar-benar merdeka? Mau sekolah yang bagus aja mesti bayar mahal, pengen punya rumah di lingkungan aman, asri dan besar, juga harus bayar keamanan bulanan yang mahal juga. Mau keluar rumah agak malam dikit aja, telp dari ibu berdering terus nanyain kabar kapan pulang, takut ada begal katanya. Hmmm bener-bener serba mahal tapi gak menjamin kita bisa aman.
Merdeka masak gini?
Masih kulihat anyak orang miskin dimana-mana, hampir ditiap lampu merah, ada saja anak-anak jalanan yang mengamen, mengemis atau sekedar duduk-duduk dipinggir jalan sambil menatap mobil yang lalu lalang. Pandangan kosong tanpa harapan dan cita-cita. Bagi mereka, bisa lolos dari kekerasan hari ini saja sudah cukup menyenangkan.
Asap rokok, asap kendaraan menjadi nafas mereka sehari-hari, badan yang kurus, baju yang kumal menandakan anak-anak Indonesia ini kekurangan gizi dan jauh dari kata sejahtera. Dimana peran negara yang katanya berjanji memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa jika anak-anak jalanan ini masih ada dimana-mana. Apakah bisa sekolah, hidup layak dan kesejahteraan hanyalah hak mereka yang berpunya? Orang miskin dianggap beban? Astaghfirullah
Didalam Islam tidak begini. Pemimpin adalah raa'in yaitu pengurus urusan umat
Rasulullah SAW bersabda, "Imam (kepala negara) itu laksana penggembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya."
Konsep kepemimpinan yang ditawarkan Rasulullah cukup sederhana, yakni laksana penggembala. Lihatlah, penggembala selalu bertanggung jawab agar hewan-hewan yang digembalakannya terpelihara dengan baik, cukup makan minum, sehat, gemuk, serta terjaga dari binatang-binatang buas.
Tak terbesit dalam benak kita adanya penggembala yang cuek dengan hewan-hewan piaraannya. Apalagi menargetkan agar hewan-hewan yang menjadi tanggung jawabnya itu haus, lapar, cedera, bahkan mati.
Sebab, dia bakal ditanya oleh tuannya tentang hewan-hewan yang digembalakannya itu. Jadi kepemimpinan, menurut sabda Nabi Saw. di atas, adalah konsep pemeliharaan urusan rakyat, tak memandang apakah dia rakyat yang kaya ataupun rakyat yang miskin. Justru rakyat yang miskin wajib didahulukan oleh negara dalam mengurusnya. Kepemimpinan itu tidak hanya berdimensi dunia, tetapi juga akhirat.
Selama masih ada kemiskinan hingga menyebabkan gizi buruk, masih banyak anak putus sekolah, masih tinggi angka kriminalitas, masih menumpuk hutang dinegeri ini maka, sejatinya negeri ini belum benar-benar merdeka. Karena merdeka itu adalah saat kita benar-benar bisa mandiri, terlepas dari hutang riba sehingga bisa berdaulat diatas negeri sendiri. Merdeka itu saat kita tidak menjadi hamba siapapun kecuali hanya menghamba kepada sang Pencipta Dialah Allah Swt. (reper/az)


Posting Komentar untuk "75 Tahun Indonesia Merdeka"