Bangga Bicara Tentang Khilafah Di Nusantara
Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom (Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)
Pada tahun1912, Khalifah Utsmani Sultan Muhammad Wahidudin mengimbau kepada Sultan Hamengku Buwono VII, Gusti Raden Mas Murtedjo, agar mendorong abdi ngarso dalem keraton Ngajogjakarta Hadiningrat, Kyai Muhammad Darwisy (KH. Ahmad Dahlan) agar mendirikan sebuah Jami’yyah yang bergerak dalam dunia pendidikan colonial yang anti –Islam. KH. Ahmad Dahlan pun bersama para santrinya mendirikan Persjarikatan Moehammadijah. (https://al-waie.id/afkar/hubungan-khilafah-dan-nusantara/amp/)
Kemudian Hamengku Buwono juga ikut berkata, “Mereka yang membenci Khilafah adalah buta sejarah. Cikal bakal gelar Khalifatullah disandang pertama kali oleh pendiri Kesultanan Demak Raden Patah Tahun1749 M. Kehalifahan Utsmani menganugrahi gelar “Khalifatullah Ing Tanah Jawa” kepada Raden Patah untuk melegitismasi kedudukannya sebagai wakil Kekhalifahan Islam di Jawa”
Bahkan para tokoh besar juga berbicara tentang khilafah masa lalu salah satunya adalah Said Aqil Siradj mengatakan “ Khilafah merupakan sunatullah yang harus terwujud baik secara syar’I maupun aqli. Salah besar jika khalifah disamakan dengan presiden.” Tapi mungkin sekarang beliau sudah melupakan kata-kata ini, karena ada banyak hal yang membuat seseorang berpaling dari bahasan khilafah ini.
Akhir-akhir ini film documenter karya anak bangsa negeri ini sedang menjadi perbincangan hangat, bagaimana tidak film garapan seorang creator dan pakar sejarah Nicko Pandawa berhasil menjadi trending topic di dunia twitter. Ditengah rasa gelisah dan hampa umat seperti mendapat aura semangat baru dengan adanya film “Jejak Khilafah dinusantara” dan triler dari film itu pun semakin membuat penasaran di setiap cuplikannya, teringat akan film garapan El-Musa beberapa tahun lalu, yang juga pernah membuat film documenter tentang jejak khilafah dinusantara.
Bukankah membuat film documenter lebih baik daripada seribu film yang dibuat didunia ini dengan banyak bumbu warna-warni meracuni pemikiran generasi. Dari film horror yang merusak akidah hingga film yang mengajarkan kebebasan. Mengapa satu film yang bercerita tentang kebenaran Islam harus diributkan? Mencari jejak khilafah dinusantara hanya merupakan bagian dari pengembalian jati diri seorang muslim yang bangga dengan keislamannya. Namun mereka terdiam takkala banyaknya film yang lulus sensor merusak generasi saat ini.
Menjadi kebanggaan tersendiri utamanya bagi rakyat Aceh yang memang sangat kental hubungannya dengan Turki Utsmani meski kini tiada lagi. Bukankah ini membuktikan bahwa khilfah pernah ada dan singgah ke nusantara untuk menyebarkan risalah kebenaran nan mulia dari sang pencipta. Ini baru satu bukti yang dipaparkan bagaimana lagi jika semua bukti itu terbuka ditengah umat, sungguh ini sangat mencemaskan mereka yang benar-benar takut khilafah akan segera tegak. Apalagi mereka para pengusung ideologi kapitalis yang akan segera runtuh tak lama lagi.
Meski di luar sana masih banyak orang yang berteriak menentang era khilafah itu akan segera muncul seperti bisyarah kenabian “Tsumma Takunu Khilafatan a’la Minhaj Nubbuwah (kemudian akan datang kembali khilafah dengan metode kenabian)” Yang akan menghapus semua derita umat yang sepanjang sejarahnya telah tertindas lama dan akan mengembalikan peradaban umat Islam ketempatnya. Dan mereka yang terus menentang semakin takut hari itu akan tiba. Dimana hari ini semakin jelas warna dan riakan ketika mereka menyangkal kebenaran khilafah itu ada dalam peranannya mengubah dunia.
Apa yang salah ketika umat mulai berbicara khilafah, mereka menyakini inilah solusi terakhir yang belum pernah diambil lagi oleh manusia saat ini. Kita sudah pernah hidup dalam sistem yang beraneka ragam adanya didunia ini, namun tak sekalipun semua sistem itu yang pro terhadap Islam. Bahkan sebaliknya mereka sangat membenci Islam, lalu kita sebagai muslim haruskah kemudian takut berbicara khilafah?
Apakah dunia ini sudah menawarkan kita kedamaian dan kenyamanan sehingga kita terlupa bahwa hakikahnya perjuangan hari ini adalah untuk menengakkan khilafah bagi seluruh umat. Bukankah khilafah datang dengan membawa kebaikan untuk alam semesta, lalu apa yang membuat kita tidak yakin untuk berbicara mengenai khilafah saat ini? Tidakkah cukup melihat airmata saudara kita yang sedang bertarung nyawa dilluar sana, merintih kesakitan tiada keadilan di dunia ini, hanya meminta kita untuk terus bisa berjuang menegakkah khilafah bagi mereka.
Lalu apa hujjah kita kelak ketika menghadapnya nanti? Siap kah kita diadilinya, dimintai pertanggungjawabannya atas kediaman kita selama ini? Maka jika kita tak punya jawaban itu, bersuaralah jangan menjadi setan bisu, saatnya khilafah mengubah dunia ini. Saatnya khilafah berbicara membuka mata dunia lewat sejarahnya nan agung. Mudah-mudahan kita kelak menjadi saksi atas tegaknya bisyarah kedua ini.
Imam Gazali mengatakan dalam kitabnya Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, hlm. 99 :
“Jelaslah bahwa kekuasaan itu penting demi keteraturan agama dan keteraturan dunia. Keteraturan dunia penting demi keteraturan agama. Sedangkan keteraturan agama penting demi keberhasilan mencapai kebahagiaan akhirat. Itulah tujuan yang pasti dari para nabi. Karena itu kewajiban adanya imam (khalifah) termasuk hal-hal yang penting dalam syariah yang tak ada jalan untuk ditinggalkan. Ketahuilah itu!”
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah : 208). Wallahu ‘Alam. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Bangga Bicara Tentang Khilafah Di Nusantara"