Berkarya Dalam Segala Suasana
Oleh: Kunjung S. (Komunitas Garis Bawah)
Untuk menunjukkan sebuah eksistensi manusia adalah dengan berkarya. Berkarya dari sebuah kemampuan terkecil untuk sebuah sumbangsih. Bisa dalam berbagai bentuk sesui kemampuanya.
Tahu tentunya J.K Rowling sang pengarang Harry Potter berkarya dalam kebimbangan, kegusaran, kepusingan kehidupanya karena karya tulisan-tulisanya tak laku-laku dijual. Dan dipuncak bimbang ketika dalam kereta api dia menemukan ide menulis tentang penyihir, karya yang hingga difilmkan dan terkenal di seantero dunia meraih kesuksesan.
Ada lagi Andrea Hirata penulis novel Laskar - Pelangi menulis ketika ingin memberi rasa terima kasih persembahan yang tak terhingga kepada gurunya. Ditulis hanya dalam tiga Minggu. Yang akhirnya novel itu besar difilmkan oleh sutradara Riri Reza terkenal di layar lebar.
Dan kisah penulis Habiburrahman El shirazy berhasil menyelesaikan tulisan Ayat-ayat Cinta saat dalam keadaan sakit dan karyanya menjadi novel best seller serta mendapatkan royalti yang tinggi. Belum lagi dengan kesuksesan dibuat menjadi film tenar menjadi box office di gedung-gedung film.
Kita tengok pula tokoh-tokoh nasional yang bisa merampungkan karyanya dari balik jeruji besi. Soekarno menghasilkan buku pematik semangat rakyat "Indonesia Menggugat". Diselesaikan di penjara Sukamiskin Bandung.
Tokoh nasional dan agamis Buya Hamka menyelesaikan "Tafsir Al-Azhar" saat dipenjara 1964. Moch Hatta juga menggarap sebuah karya "Indonesia Vrij" di sel penjara 1927 Casiusstraat Den Haag. Pramoedya Ananta Toer tokoh yang paling juga menghasilkan karya lumayan banyak dari balik penjara. Seperti Bumi Manusia, Rumah Kaca, Anak Semua Bangsa dan Jejak langkah.
Ada pula kisah dari narapidana biasa bukan tokoh tapi bisa menghasilkan karya. Enggar Saputro dari Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta tergabung Komunitas Pecinta Buku di Lapas (Kopiku Pas). Bisa berkarya dan dipamerkan dalam Pameran Literasi "Tinta di Balik Jeruji".
Berkarya dalam kondisi special juga datang dari tokoh luar negri Islam. Sayyid Qutb pakar tafsir, intelektual dan kritikus sastra saat dipenjara merampungkan kitab tafsir berjudul Fi Dzilalil Qur'an. Bahkan ulama lampau Ibnu Taimiyah juga keluar masuk penjara hingga dua belas kali bisa menghasilkan karya. Karya yang terkenal dari hasil tulisan balik jeruji yaitu kitab Ar-Raddu 'ala Al Ikhnai.
Berkarya dalam sebuah tekanan, kejaran, penindasan politik sang penguasapun dialami Syaikh Taqiyuddin An-nabbani. Karya beliau berupa kitab-kitab tanzhiriyah dan tanzhimiyah yang dimaksudkan mengajak kaum muslimin untuk melanjutkan kehidupan Islam. Dan berbagai karya buku lainya memuat pemikiran dan ijtihad beliau. Dan Mafahim Hizbut Tahrir salah satu karya beliau ditulis hanya dalam beberapa waktu saja.
Dan juga tokoh seperti Syaikh Abdul Qadim Zallum berkarya kitab "Demokrasi Sistem Kufur". karya yang sarat dengan kritik mendasar terhadap ide demokrasi. Padahal saat buku ini diterbitkan, ide demokrasi masih diagungkan sebagai sistem politik yang ideal. Buku ini juga menginspirasi penulis muslim lainya mengkritisi demokrasi. Sekali lagi beliau berkarya dalam tekanan penguasa.
Di era teknologi menjadikan manusia lebih produktif. Beda ketika kita melihat di era jauh dari teknologi Robert Einstein, Galileo Galilei, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi dan lain-lain bisa berkarya juga tanpa kemajuan teknologi seperti saat ini.
Kondisi saat inipun saya manfaatkan dengan semampu berkarya. Diranjang pesakitan dengan menunggu kesembuhan. Berkarya dengan setia ditemani racikan obat-obat tertata dimeja lipat. Karena berkarya adalah juga merupakan suatu dorongan lahir dan batin dari sekelas penulis biasa. Mari berkarya..!! (reper/az)


Posting Komentar untuk "Berkarya Dalam Segala Suasana"