Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dadiyo Tawon, Ojo Dadi Jangkrik. Gampang Diadu!


Oleh: Kunjung S. (Komunitas Garis Bawah)

"Jadilah lebah - jangan menjadi jangkrik yang mudah diadu" begitulah terjemahan judul tulisan diatas. Saya teringat masa kecil saya saat bermain jangkrik dan mengaitkan fenomena yang terjadi sekarang.

Adu Jangkrik populer di Jawa Tengah. Kalau di Jawa Barat yang popular adu domba sedangkan di Pulau Bali ada adu ayam. Dan tiap daerah nusantara beraneka variasi seni adat permainan.

Adu jangkrik sendiri banyak dimainkan anak-anak. Jangkrik aduan biasanya yang jantan, berwarna hitam dan ada hiasan kalung di lehernya. Biasanya lincah gerakanya dan suara lebih nyaring krik..krik..kriikk...

Permainan ini termasuk olahraga berdarah, tapi tak menyebabkan cidera. Jangkrik dimasukan dalam gelanggang berhadapan dan dipancing sebentar, dengan alat dari rumput maka dengan mudah jangkrik akan saling serang.

Falsafah adu jangkrik adalah gambaran fenomena masyarakat yang mudah emosi dan suka berkelahi. Juga gejala sosial seperti profokasi terhadap antar individu atau kelompok sebagai alat yang mudah diadu.

Akhir-akhir ini di negeri seluruh penjuru dunia, banyak terjadi kelompok-kelompok tertentu yang mudah diadu seperti adu jangkrik. Tak terkecuali di negeri kita, merasa paling benar, adigang-adigung dan disulut api sedikit terjadilah adu jangkrik.

Ada yang menarik dari ucapan tokoh Cak Choirul Anam mantan ketua GP Ansor Jawa Timur menanggapi kelompok yang ada sekarang, beliau berkata “Bansernya seperti jangkrik, mudah diadu. Saya ini lama memimpn GP Ansor, miris kalau melihat Banser jadi jangkrik,” (https://www.portal-islam.id/2020/08/cak-anam-bansernya-jadi-jangkrik-mudah.html?m=1)

Yang dikatakan Cak Anam memang benar adanya. Diberbagai daerah terjadi adu jangkrik yang merasuki kelompok persekusi, terakhir di kota Pasuruan. Konflik ketika dijadikan sebagai komoditas harus disikapi rasionalitas agar tak mudah diadu.

Maka dari itu jangan jadi jangkrik aduan, tetapi jadilah seperti lebah. Seorang manusia atau kelompok harus mengadopsi falsafah lebah. Tidak makan kecuali yang baik, menghasilkan yang bermanfaat, tidak merusak dan menjaga kehormatan diri ketika diserang.

Lebah makan dari menghisap saripati bunga, tau mana yang bersih dan tidak. Ibarat manusia atau kelompok harus tau mana yang halal dan haram. Lebah menghasilkan madu yang bermanfaat, ibaratkan kita memberikan hal-hal yang positif bukan keresahan dan keburukan.

Tangkai daun dan ranting pohon yang dihinggapi lebah tidak patah alias tidak rusak. Hewan kecil ini memberikan contoh dalam bergaul tidak menyakiti siapapun dan menjaga kedamaian. Lebah tidak mengganggu yang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Tetapi jika dizalimi ia akan siap menyengat pengganggunya.

Dari sini jelas semoga kita sebagai individu maupun kelompok jangan seperti jangkrik yang mudah diadu tetapi jadilah lebah yang banyak bermanfaat. Tabur benih saling mencintai, mengasihi dan keberkahan pada sesama umat manusia. Agar tercipta ukhuwah islamiah yang sejati dan indah. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Dadiyo Tawon, Ojo Dadi Jangkrik. Gampang Diadu!"