Demi Like, Remaja Putus Urat Malu?
Oleh: Mia Mulyati (Pelajar SMA)
Tiktok adalah sebuah aplikasi yang akhir-akhir ini digandrungi banyak kalangan.️ Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, kalangan artis, pelajar, pejabat, tukang buruh ️hingga pedagang kaki lima pun menggunakannya. Di dalamnya banyak sekali fitur-fitur menarik, yang tidak terdapat ️pada fitur kamera handphone kita. Canggih!
Apalagi pada masa pandemi ini. banyak sekali yang terjun langsung dalam membuat video-video untuk di-upload di medsos masing-masing.️ Mulai dari membuat tutorial, cara merias wajah, sampai berjoget-joget ke kiri ke kanan depan samping belakang sampai ada juga yang melakukan salto dan atraksi lainnya. Biasanya orang-orang melakukan itu hanya untuk meramaikan tantangan yang sedang viral di dunia maya, sering kali kita sebut dengan challenge. Challenge ini yang membuat para pengguna media sosial berbondong-bondong melakukan tantangan yang sedang viral tersebut.
Challenge ini bermacam-macam. Ada yang melakukan joget jari-jari, membuat make-up bergenre horor, ada juga challenge membuat beraneka ragam dan rasa makanan serta minuman. Bahkan ada juga yang melakukan jual beli harga diri dengan challenge membuka pakaian yang akhir-akhir ini banyak dilakukan dengan challenge menghilang. Dan parahnya lagi, remaja dan pelajar adalah pengguna paling banyak dan yang paling eksis dalam menggunakannya. Anak sekolah yang seharusnya belajar, ikut-ikutan dengan membuat berbagai macam konten beserta tantangannya.
Challenge yang bemunculan️ dengan pengikut yang banyak, biasanya tidak ada manfaatnya sama sekali. Misalnya, yang isinya menari meliukkan badan dan memperlihatkan auratnya kepada banyak orang dan membuat challenge yang susah bahkan membahayakan. Sangat miris sekali.️ Karena kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah perempuan. Para remaja yang sudah candu akan terus dan terus membuat, lagi dan lagi bermaksiat.
Sering kali kita lihat, di media sosial yang menjadi penggunanya yaitu para remaja ️muslim. Mereka memakai kerudung tetapi melakukan gerakan sambil meliukkan badan. Yang seharusnya menjadi pejuang Islam, dan penerus peradaban Islam. Bukan malah membuang waktunya melakukan kesia-siaan. Mereka tidak punya malu. Membuka aurat, dan merendahkan harga ️dirinya demi sebuah like dan keviralan yang mereka lakukan.
Harga diri merupakan harga paling berarti. Tidak bisa dibeli apalagi hanya demi sebuah like tidak berarti.
Semua peristiwa itu semata-mata remaja buta akan pelajaran agama. Mereka kurang tahu dan memahami mana yang seharusnya mereka kerjakan dan mereka tinggalkan. Di sekolah negeri khususnya, pelajaran pendidikan agama sangat minim sekali. Hanya ada dua jam dalam satu minggu. Tidak efisien dan juga kurang pemahaman. Pun tidak ada yang namanya sharing diskusi dan penguatan Nafsiyah. Jadinya para generasi peradaban Islam ini buta akan agama.
Ditambah lagi dengan orangtua yang kurang mendidik agama di rumahnya, malahan lepas tangan. Mereka sudah menyerahkan semua aktivitas pembelajaran dan pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Banyak orangtua menganggap bahwa mereka sudah menggaji guru untuk mengajarkan pada anak-anaknya. Padahal peran orangtua sangatlah penting, karena waktu yang di dapat lebih banyak dan lebih lama dibandingkan di sekolah bersama guru. Tapi apalah daya, para orangtuanya pun buta akan agama.
Karena nyatanya, agama dipisahkan dari kehidupan. Orang-orang menganggap bahwa agama️ tidak dapat mengurusi kehidupan secara umum. Oleh karena itu, mereka lepaskan urusan agama dari semua aspek kehidupan. Akibatnya, sekarang banyak remaja kehilangan ilmu agamanya. Buta mana yang halal dan haram. Buta mana pelanggaran agama dan buta mana kenyataan dan fatamorgana.
Allah subhanahu wa ta'ala telah perintahkan semua makhluk untuk beriman dan patuh terhadap apa yang sudah diperintahkan. Allah berfirman,
"Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut terhadap hisab yang buruk." (QS. Ar-Ra'du : 2)
Jadi, permasalah ini adalah faktor dari lingkungan yang kurang akan pengetahuan agama, dan juga lalai terhadap perintah Allah subhanahu wa ta'ala. Sama halnya, tidak diterapkannya agama dalam kehidupan. Akibatnya umat Islam sendiri asing terhadap ajaran-ajaran Islam yang seharusnya menjadi pedoman dan bahan bimbingan kehidupan. Peran pemerintah sangat ️dibutuhkan demi terciptanya kedamaian dan keselarasan dalam kehidupan. Wallahu a'lam bishshawwab. (reper/az)
Tiktok adalah sebuah aplikasi yang akhir-akhir ini digandrungi banyak kalangan.️ Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, kalangan artis, pelajar, pejabat, tukang buruh ️hingga pedagang kaki lima pun menggunakannya. Di dalamnya banyak sekali fitur-fitur menarik, yang tidak terdapat ️pada fitur kamera handphone kita. Canggih!
Apalagi pada masa pandemi ini. banyak sekali yang terjun langsung dalam membuat video-video untuk di-upload di medsos masing-masing.️ Mulai dari membuat tutorial, cara merias wajah, sampai berjoget-joget ke kiri ke kanan depan samping belakang sampai ada juga yang melakukan salto dan atraksi lainnya. Biasanya orang-orang melakukan itu hanya untuk meramaikan tantangan yang sedang viral di dunia maya, sering kali kita sebut dengan challenge. Challenge ini yang membuat para pengguna media sosial berbondong-bondong melakukan tantangan yang sedang viral tersebut.
Challenge ini bermacam-macam. Ada yang melakukan joget jari-jari, membuat make-up bergenre horor, ada juga challenge membuat beraneka ragam dan rasa makanan serta minuman. Bahkan ada juga yang melakukan jual beli harga diri dengan challenge membuka pakaian yang akhir-akhir ini banyak dilakukan dengan challenge menghilang. Dan parahnya lagi, remaja dan pelajar adalah pengguna paling banyak dan yang paling eksis dalam menggunakannya. Anak sekolah yang seharusnya belajar, ikut-ikutan dengan membuat berbagai macam konten beserta tantangannya.
Challenge yang bemunculan️ dengan pengikut yang banyak, biasanya tidak ada manfaatnya sama sekali. Misalnya, yang isinya menari meliukkan badan dan memperlihatkan auratnya kepada banyak orang dan membuat challenge yang susah bahkan membahayakan. Sangat miris sekali.️ Karena kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah perempuan. Para remaja yang sudah candu akan terus dan terus membuat, lagi dan lagi bermaksiat.
Sering kali kita lihat, di media sosial yang menjadi penggunanya yaitu para remaja ️muslim. Mereka memakai kerudung tetapi melakukan gerakan sambil meliukkan badan. Yang seharusnya menjadi pejuang Islam, dan penerus peradaban Islam. Bukan malah membuang waktunya melakukan kesia-siaan. Mereka tidak punya malu. Membuka aurat, dan merendahkan harga ️dirinya demi sebuah like dan keviralan yang mereka lakukan.
Harga diri merupakan harga paling berarti. Tidak bisa dibeli apalagi hanya demi sebuah like tidak berarti.
Semua peristiwa itu semata-mata remaja buta akan pelajaran agama. Mereka kurang tahu dan memahami mana yang seharusnya mereka kerjakan dan mereka tinggalkan. Di sekolah negeri khususnya, pelajaran pendidikan agama sangat minim sekali. Hanya ada dua jam dalam satu minggu. Tidak efisien dan juga kurang pemahaman. Pun tidak ada yang namanya sharing diskusi dan penguatan Nafsiyah. Jadinya para generasi peradaban Islam ini buta akan agama.
Ditambah lagi dengan orangtua yang kurang mendidik agama di rumahnya, malahan lepas tangan. Mereka sudah menyerahkan semua aktivitas pembelajaran dan pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Banyak orangtua menganggap bahwa mereka sudah menggaji guru untuk mengajarkan pada anak-anaknya. Padahal peran orangtua sangatlah penting, karena waktu yang di dapat lebih banyak dan lebih lama dibandingkan di sekolah bersama guru. Tapi apalah daya, para orangtuanya pun buta akan agama.
Karena nyatanya, agama dipisahkan dari kehidupan. Orang-orang menganggap bahwa agama️ tidak dapat mengurusi kehidupan secara umum. Oleh karena itu, mereka lepaskan urusan agama dari semua aspek kehidupan. Akibatnya, sekarang banyak remaja kehilangan ilmu agamanya. Buta mana yang halal dan haram. Buta mana pelanggaran agama dan buta mana kenyataan dan fatamorgana.
Allah subhanahu wa ta'ala telah perintahkan semua makhluk untuk beriman dan patuh terhadap apa yang sudah diperintahkan. Allah berfirman,
"Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut terhadap hisab yang buruk." (QS. Ar-Ra'du : 2)
Jadi, permasalah ini adalah faktor dari lingkungan yang kurang akan pengetahuan agama, dan juga lalai terhadap perintah Allah subhanahu wa ta'ala. Sama halnya, tidak diterapkannya agama dalam kehidupan. Akibatnya umat Islam sendiri asing terhadap ajaran-ajaran Islam yang seharusnya menjadi pedoman dan bahan bimbingan kehidupan. Peran pemerintah sangat ️dibutuhkan demi terciptanya kedamaian dan keselarasan dalam kehidupan. Wallahu a'lam bishshawwab. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Demi Like, Remaja Putus Urat Malu?"