Deviasi Syukur di Masyarakat
Oleh: Mia Fitriah Elkarimah
Ada satu logika hidup yang kerap kita gunakan secara terbalik dari yang semestinya, mungkin bisa disebut sebagai suatu deviasi; penyimpangan atau ketidakcocokan. Logika hidup yang saya maksudkan itu adalah, kesimpulan kita tentang konsep bersyukur, bahwa syarat untuk menjadi orang yang bersyukur adalah ketika kita mendapatkan nikmat, kita akan bersyukur. Artinya ada nikmat ada syukur. Jika Allah memberikan nikmat yang banyak baik itu prestasi, keberhasilan, karier, harta. Maka kesyukuran akan muncul dari orang tersebut.
Inilah sebuah kesimpulan yang muncul dari benak sebagian orang dan konsep ini terbalik. Karena di dalam Al-quran menyatakan bahwa jika orang yang bersyukur. Maka nikmat akan Allah berikan dan tambah lagi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”QS.Ibrāhīm [14]:7
Jadi kalau kita mendahulukan nikmat sebagai syarat bersyukur, sementara Al Quran mendahulukan syukur sebagai syarat untuk mendapatkan atau mendatangkan nikmat. Jadi konsep itu harus kita luruskan. Ada ungkapan bijak yang patut kita renungkan
"Bukan karena masalah yang membuat hidupmu tidak bahagia, tapi karena kamu tidak bahagia maka hidupmu bermasalah. Bukan karena keterbatasan yang membuat hidupmu terbatas, tapi karena kamu membatasi diri maka hidupmu terbatas. Bukan karena krisis nikmat yang membuat kamu kufur, tapi karena kamu kufur maka terjadi krisis nikmat. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Deviasi Syukur di Masyarakat "