Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Emang Sih, Berteman Kudu Pilih-Pilih


Oleh: Nahida Ilma Nafi'ah

"Klo temenan tuh sama siapa aja, nggak boleh pilih-pilih ya!"
Siapa hayo yang dulu pas kecil sering banget dinasehati kayak gitu? Mayoritas dari kita pasti pernah dinasehati kayak gitu. Entah satu dua kali aja, atau bahkan sangking sering nya sampai gak bisa di itung. Entah sama orangtua, guru, atau orang-orang dewasa disekitar kita. Nasehat yang sangat familiar.

Kita pas kecil ya nurut aja sih, dinasehati kayak gitu ya ngangguk aja, akhirnya deh kebiasaan itu kebawa ampe gede. Semuanya kita temenin ,entah kaya atau miskin, entah putih atau item,entah memberi pengaruh baik atau buruk ke kita kalau bahasa zaman sekarang nya mah entah toxic atau engga.

Gaes, hakiki nya mau temenan sama siapa aja itu kehendak dan pilihan kita. Udah gede ginimah tau lah ya gimana cara kerja kita memilih temen. Kita sendiri yang nentuin mau punya temen kayak gimana, mau temenan sama siapa aja, gimana standar temen kita. Jadi jelas nasehat, "klo temenan nggak boleh pilih-pilih" Itu jawabannya ya tergantung, tergantung dari mana sudut pandang kita, tergantung pilihan kita.  Seharusnya kita emang kudu pilih-pilih temen lho malah, Karena temen punya pengaruh besar juga dalam membentuk diri kita.

Sadar atau nggak sadar. 24/7 banyak waktu kita dihabisin bareng temen, kadang yang lebih mengerti seperti apa sifat kita sebenarnya pun ya temen, bukan ayah atau ibu.Banyak kejadian orang-orang yang lebih ndengerin apa kata temen daripada apa kata orang tua, ya karena temen itu gampang solidnya, jadi bisa jadi gede banget pengaruh temen tuh.

"Allah tidak memandang rupa dan hartamu, tetapi memandang hati dan amalmu." (HR.Muslim)

Bukan tentang keadaan fisik atau jumlah kekayaan yang membedakan nilai seseorang dimata Allah, tetapi adalah ketakwaan. Dan berkumpul dengan orang-orang yang dengannya ketakwaan kita bertambah itu menjadi penting.  Nah, jadiin standar allah melihat hamba-hamba nya sebagai standar kita berteman.

Nih ya, kalau emang temenannya sama orang-orang yang sukanya belanja aja, Jangan heran kalau pengeluaran perbulan bengkak. Temenannya sama orang-orang yang suka nonton film di bioskop atau maraton drama, Jangan heran kalau tiap hati kita diceritain film dan drama yang di tonton, terus lama kelamaan kita jdi ikutan nonton dan suka. Temenannya sama orang-orang yang suka belajar, Jangan heran kalau kita diajak belajar terus setiap saat. Temenannya sama orang-orang yang seneng mengkaji islam, Jangan heran kalau ketularan pengaruh positif nya entah dengan kita jadi sering diajak ke kajian-kajian atau kita dikit-dikit jadi tau wawasan islam lainnya dari pembicaraannya. Itulah contoh pengaruh yang tak ber-fisik namun nyata, membentuk pribadi dan selera yang lama-kelamaan jadi sebelas-duabelas, dan begitulah teori berteman berbagi kebahagiaan, dan keseruan mereka. Temen kita suka nonton, terus dia barusan nonton film terbaru.

Alhasil kalau kita berteman sama orangyang suka flim, setiap dia nonton film baru gak ayak mulut bisa exited nyeritain ulang apa yang dia tonton, yang secara ga langsung menyugesti kita perlahan untuk terjun juga di keseruan nonton flim.
Mencari temen yang bisa memberi pengaruh positif itu emang penting. Jadinya kita kudu punya prinsip dan standar dalam berteman. Untuk mendapatkannya makanya kita kudu pilih-pilih temen. Apalagi sekarang zaman istilah toxic friend, yang dimana kita nyaman aja seru-seruan dengan manfaat materi dunia yang tanpa tau itu baik untuk  kedepan apa enggak, dan ini lagi trend! Jadi harus lebih selektif.

Nah, kita sebagai remaja muslim harus punya standar tinggi untuk berteman. Bukan maksud tinggi temenan sama yang kulitnya putih,tinggi, body goals, pinter, wawasan luas doang. Bukan! maksud disini kita harus punya standar dimana kita langgengin kualitas ukhuwah/pertemanan sampai waktu yang tidak terbatas alias sampai akhirat. Surga jadi impian setiap manusia, maka dari itu cari temen yang emang menuntun kita kesana. Jangan bayangin pertemanan surga kek gini bakal monoton, malah banyak positifnya lho! Kita tetep nikmatin serunya masa muda dunia, tapi tetap sesuai kaidah syarat penghuni syurga, kek jadi reminder gitu.

Saling mengingatkan, saling tarik menarik supaya ga kelewatan nikmatin gemerlap seru masa muda, jadi pelan-pelan bisa selangkah dua langkah  bergandengan menuju jalan surga karena Temen tersebut bakal selalu saling ngajak kita kepada hal-hal yang mendekat kita kepada Allah, saling menguatkan kalau mulai goyah atau insecure, dan juga jadi pengingat yang menyadarkan kita bahwa kita punya dzat yang Maha Segala nya.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap. (HR Bukhari Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Huraira ra, dari Nabi sallallaahu 'alaihi wa sallam, bersabda:
"Ada tujuh orang yang akan Allah naungi di Naungan-Nya pada Hari ketika tidak ada naungan kecuali Naungan-Nya; seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Agung, seorang pria yang hatinya melekat pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berposisi tinggi tetapi dia menolak dan mengatakan: 'Saya takut kepada Allah', seseorang yang memberi amal dan menyembunyikannya, hingga tangan kirinya pun tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya dalam amal; dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata."

Sahabat kau bagai bintang
Hiasi malam dengan indah terangmu
Sahabat kau takkan hilang
Walau kau jauh tapi dekat hatiku. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Emang Sih, Berteman Kudu Pilih-Pilih"