Generasi Zaman Now, Bangkitlah!
Oleh: Thya Uswanas (The Voice of Muslimah Papua Barat)
Kecanggihan media sosial saat ini banyak digunakan oleh sejumlah pihak untuk kegiatan yang menyeleweng, misalnya saja seperti halnya yang dilakukan oleh sejumlah pelajar yang juga tergabung dalam pemeran grup pornografi online. Hal ini terjadi di Jakarta Barat. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Teuku Arsya mengonfirmasi dan membenarkah hal itu pada Jumat 14 Agustus lalu. Ia mengatakan jika sejumlah pelajar tersebut kerap kali berpura-pura sedang belajar online di rumah (Padangkita.com 16/08/2020).
Miris melihat potret remaja hari ini yang sangat akrab dengan dunia pornografi. Hal ini dianggap seperti hal yang biasa dikalangan anak muda. Padahal jika ditelisik hal ini sangat berbahaya untuk perkembangan otak, dalam video edukasi mengenai Bahaya Pornografi yang dimuat dalam laman resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) RI dijelaskan bahwa pre frontal cortex atau bagian depan otak para pecandu pornografi akan rusak dan mengecil. Padahal, bagian otak tersebut memegang peranan penting dalam tubuh yang membuat beda antara manusia dengan hewan. (Kompas.com 25/3/2020)
Berikut ini beberapa kerugian lain yang bisa didapat oleh para pecandu pornografi:
1. Fungsi otak menurun, Jalur komunikasi di dalam otak terganggu. Dalam hal ini akan mengganggu fungsi otak seperti, emosi, pemusatan perhatian, pergerakan, kecerdasan dan pengambilan keputusan.
2. Seseorang mencontoh perilaku seperti yang dilihat dalam tayangan atau gambar pornografi.
3. Pada anak-anak, pornografi bisa membuat cemas dan sedih karena imajinasi mereka mengenai seksualistas tidak tercapai secara langsung.
4. Anak-anak juga bisa merasa jiji, syok, malu, marah, dan takut karena mereka masih terlalu muda untuk memperlajari hal-hal tersebut.
5. Sulit bermain dengan teman-teman karena fungsi kesenangan di otak sudah berbeda dengan anak seumuran lainnya.
6. Berperilaku kasar, di mana pada saat dewasa orang yang sudah kecanduan pornografi cenderung akan menganggap pasangannya sebagai objek seksual semata sehingga harga diri pasangananya dianggap rendah dan berhak melakukan apapun.
Sungguh menyedihkan, generasi muda seharusnya adalah sosok yang suka berkreasi, idealis, dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator. Generasi muda adalah penentu perjalanan suatu bangsa di masa berikutnya. Namun, faktanya sungguh bertolak belakang generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan malah merusak diri sendiri, Ini akibat dari arus liberalisasi yang memiliki 4 asas kebebasan yaitu bebas beragama, bebas berekspresi, bebas mengeluarkan pendapat dan bebas hak milik. Kebebasan untuk berekspresi inilah yang berdampak pada generasu muda hari ini yang dengan bebas melakukan apa yang dinginkannya tanpa memandang rambu-rambu syariat, belum lagi ditambah dengan penyebaran paham-paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, alhasil para generasi muda ini memahami bahwa islam tidak mengatur kehidupan mereka secaea keseluruhan dan menganggap islam hanya sebagai agama ritual saja.
Maju tidaknya suatu bangsa tergantung pada generasi mudanya. Bahkan generasi muda di akui perannya sebagai kekuatan yang mampu mendobrak kejumudan masyarakat. Kita bisa melihat sejarah, di tangan para pemudalah terjadi perubahan yang menumbangkan rezim ditaktor, mengganti orde lama menjadi orde baru hingga saat ini berada di era reformasi.
Terlepas apa yang mendasari mereka semua, namun kita mengakui bahwa generasi muda adalah agent of change. Gambaran remaja saat ini sungguh sangat jauh berbeda dengan gambaran remaja di masa pemerintahan islam (khilafah). Islam yang dulu pernah berjaya lebih dari 13 abad yang insyaallah akan bangkit kembali telah berhasil melahirkan generasi generasi muda yang cemerlang dan memiliki jiwa pejuang yang tercermin pada era kekhilafan seperti : Zubair bin Awwam, saat berusia 15 tahun ia pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah, di akui Rasulullah sebagai Hawarinya. Zaid bin Tsabit, usia 13 tahun menjadi penulis wahyu dan dalam 17 malam mampu menguasai bahasa suryani sehingga menjadi penerjemah Rasulullah, hafal Al Quran dan ikut kodifikasi Al Quran. Sultan muhammad Al Fatih, di usia 22 tahun mampu menaklukan konstatinopel ibukota byzantium di kala semua jenderal merasa putus asa. Dan masih banyak lagi generasi generasi muda di masa islam yang prestasinya tercatat dalam sejarah dengan tinta emas.
Mengapa terjadi perbedaan yang begitu jauh antara generasi muda saat ini dengan generasi muda di masa kejayaan islam? Islam memandang generasi muda amatlah penting, karena keberadaan nya sebagai generasi penerus. Bahkan Allah pun menggambarkan dalam Al Quran betapa penting nya generasi muda. Karenanya islam memandang bahwa semua pihak bertanggungjawab dalam pembentukan generasi muda, baik orang tua sebagai wadah pertama dan utama di rumah, lingkungan masyarakat tempat mereka tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat lainnya maupun negara yang bertanggung jawab melahirkan generasi islam sebagai bagian dari tugas negara melalui penerapan syariat islam dalam berbagai aspek kehidupan. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Generasi Zaman Now, Bangkitlah!"