Hanya Katanya
Oleh: Dini Al Mufakkiratul Jaddiah Al Ayyubi
Suatu kejadian yang sangat epik untuk diceritakan dari generasi ke generasi, bahkan sampai dicatat dalam pembelajaran sekolah. Juga yang melahirkan kata ’17-an’ pada bulan Agustus bagi rakyat Indonesia. Apa yang membuat semua menjadi sangat legend? Yap, pasti sudah sangat familiar dengan kata Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Tepat pada tanggal 17 Agustus dari 75 tahun yang lalu, ada sebuah momentum yang penting bagi warga Indonesia juga dalam sejarah Proklamasi. Saat pertama kalinya perumusan naskah Proklamasi, persiapan-persiapan Kemerdekaan, dan pertama kalinya pula bendera Merah Putih dikibarkan. Ya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini dijanjikan, bahkan dibantu sendiri oleh Jepang. Dimana saat itu Jepang merupakan negara terakhir yang menjajah Indonesia. Jepang menyatakan Kemerdekaan untuk Indonesia karena berharap mendapat dukungan dari pemimpin dan rakyat Indonesia tersebut, karena saat itu Jepang sudah terdesak oleh pasukan Sekutu dan mulai kalah dalam Perang Dunia II.
Jepang saat itu mendirikan suatu gerakan yang bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan). Tidak lama sebelum dinyatakan resmi merdeka, gerakan ini dihentikan lalu diganti oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Semua ini diketuai oleh Ir. Soekarno, sekaligus menjadi Presiden pertama Indonesia.
Momentum epik ini pun masih tersimpan hingga sekarang, sudah jelas bila diberi hari peringatan agar selalu melekat dan teringat. Biasa disebut ’17-an’. Tapi apakah kondisi negara sampai saat ini masih dinyatakan merdeka? Apakah bahkan dari dulu kita sudah layak dikatakan merdeka?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merdeka adalah
1. Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya) berdiri sendiri.
2. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan.
3. Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, juga leluasa.
Sekarang, mari kita lihat apakah nasib warga negara Indonesia sekarang pantas dibilang merdeka? Its clear NO! Nyatanya masih banyak permasalahan-permasalahan yang menimpa negeri ini.
Mulai dari virus corona yang belum bisa diprediksi kapan akan melandai dan vaksin untuk virus Covid19 ini, lalu baru baru ini soal ancaman resesi indonesia, masalah kurikulum moderasi karangan Barat, juga masalah hutang yang bertambah banyak. Ingin dibilang MERDEKA?
Bahkan dari dulu kita sudah dilanda ketidakadilan yang membuat sengsara, undang undang yang tidak pantas diketokpalu, kesehatan juga pendidikan yang amburadul dan masih banyak lagi.
Jadi sebenarnya kata merdeka adalah kiasan atau kata indah agar menganggap bahwa negeri ini telah merdeka, negara ini telah bebas oleh penjajahan, perbudakan, hutang, dan lain lain. Dan kenyataannya semua adalah ‘KATANYA’. Realita tak sama dengan statusnya. Pathetic..
Lalu apa yang harus dilakukan oleh kita? Kita sebagai generasi muda jangan bersikap tak acuh oleh permasalahan yang ada. Jangan hanya memahami apa arti kemerdekaan itu, tetapi juga mengamati dan berusaha memperbaiki kondisi Indonesia yang jauh dari kata merdeka!.
Kapan ingin peduli dengan keresahan keresahan yang menimpa? Kapan kita ingin menjadi seorang problem solver diatas semua kerusakan ini? (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Hanya Katanya"