Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibrah Hijrahnya Mush'ab bin Umair


Oleh: Kunjung S. (Komunitas Garis Bawah)

Mush'ab bin Umair adalah teladan bagi para pemuda Islam. Berasal dari keturunan bangsawan suku Quraisy, Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.

Mush'ab adalah pemuda yang terkenal di Makkah. Wajahnya yang tampan, pakaiannya serba mahal, dan badannya yang wangi, membuat Mus’ab selalu menjadi buah bibir perbincangan. Para gadis banyak yang ingin menjadi istrinya. Lahir dari keluarga terhormat, Mush’ab sudah biasa hidup dalam kemewahan dan bisa dikatakan sempurna hidupnya.

Rasulullah pun mengungkapkan tentang Mush'ab "Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim)

Ibunya yang kaya raya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makanan sudah ada di hadapannya. Para ahli sejarah juga mengatakan bahwa Mush'ab "Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum."

Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah, penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian. Tapi Allah memberikan cahaya hidayah yang dari dakwah Rasulullah Saw. Yang pada saat itu mendengar secara sembunyi-sembunyi.

Akhirnya Mush'ab berpikir dan mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran utusan dari Allah SWT yang seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang luhur semata. Akhirnya Mush'ab berikrar dan dengan penuh keyakinan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi Muhammad Saw yang ada di rumah al-Arqam dan menyatakan keislamannya.

Proses keislaman Mush'ab bukanya tanpa halangan. Hari dimulainya ujian bagi Mush’ab bin Umair datang. Ketika ia sedang beribadah kepada Allah swt, Utsmani bin Thalhah tanpa sengaja melihatnya yang kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua Mash’ab. Mulai saat itulah ujian dari Allah swt datang kepadanya. Ujian yang akan membuatnya teguh dan dijalan islam. Ujian ini menjadikan ia sebagai pemuda yang patut untuk di tauladani oleh pemuda sepanjang masa.

Ibunya yang mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, marah dan kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam untuk mogok makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agama Muhammad. Lalu Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung dan dihukum di tempat mereka.

Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus. Tapi Mush'ab tetap bersabar.

Makanan lezat tidak lagi dia jumpai, pakaian yang indah tak lagi menempel di badan kekarnya, Mash’ab yang dulunya di puji oleh semua orang kini hampir tidak ada yang bisa mengenalinya. Ketika Rasulullah melihat Mush'ab mengenakan kain burdah dan kasar, beliau menangis teringat kenikmatan yang didapatkan dahulu dibandingkan keadaan sekarang setelah hijrah.

Ada beberapa makna ibrah dari hijrahnya Mus'ab bin Umar yang bisa kita petik;

• Pertama, jika kita mau berpikir jernih maka akal akan bisa membedakan sebuah kebenaran yang datang dari Allah Swt sang pencipta. Dan membedakan dimana kejahiliyahan yang mungkin selama ini tertutup cahaya hidayah.

• Kedua, jangan menyia-nyiakan masa mudamu dan bertaqarub lah pada Allah SWT. Karena masa muda remaja adalah dimana mulai mengenal manisnya dunia. Banyak pada fase ini pemuda lalai kepada kematian. Apalagi kondisi kaya, fasilitas dijamin, mobil bagus, uang saku di rekening bertumpuk, tempat tinggal mewah dan merasa ibarat raja.

• Ketiga, Mush'ab walau ditentang orang tua dan keluarganya dalam berhijrah, dia tetap teguh dan kukuh dalam pendirian. Aplikasinya sekarang bisa semisal ketika kita dakwah dengan teguh mengatakan khilafah adalah sebagai bagian ajaran Islam. Walau pertentangan dari manapun tapi kita tetap teguh mengatakan kebenaran dengan berbagai resiko diasingkan, dicemooh dan dihujat.

• Keempat, kenikmatan Islam tidak bisa ditukar dengan dunia apapun. Harta melimpah, wanita super cantik, jabatan yang menggiurkan dan pujian sanjungan yang melenakan semata. Mush'ab bin Umair sudah memberikan ketauladanan yang patut kita contoh.

Dan sudah kita ketahui dari Sirah Nabawiyah tentang sepak terjang sahabat Mush'ab bin Umair dari kisah di kota Yastrib, Madinah. Dia adalah pembawa visi dan misi rahasia Islam disana amanah dari Rasul SAW.

Islam yang diemban sebagai poin utama dakwahnya, menjadi viral diperbincangkan dari pintu ke pintu di Yastrib. Hingga disebutkan, tidak ada satupun pintu-pintu rumah di Madinah melainkan di dalamnya membicarakan Islam. Terlepas mereka menerima atau menolak. Yang jelas, tidak lama setelah itu kehidupan Islam tunas dan tumbuh dan berkembang pesat di sana dan menjadi pusat peradaban Daulah Islamiyah.

Dan diakhir hayat Mush'ab gugur di perang Uhud sebagai pembawa Panji. Ketika Rasulullah melihat jasad Mush'ab bercucurlah air matanya. Tak sehelai kain yang bisa penuh menutupinya, andai ditaruh diatas kepala maka terbukalah kakinya begitu ditarik ke kaki maka terbukalah kepalanya.

Maka tak salah jika kita mengambil ibrah dari hijrahnya Mush'ab bin Umair. Terutama para pemuda anak gaul saat ini yang dengan bergelimpangan dunia kemewahan. Melakoni hidup dengan memilih jalan hijrah dan hidup menggapai ridho Allah SWT. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Ibrah Hijrahnya Mush'ab bin Umair"