Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islam It’s Okey, Demokrasi Not Be Oke


Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
(Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)

Betapa mirisnya negeri ini, kaya raya berlimpah ruah harta dari alam semesta namun tidak sama dirasakan oleh masyarakatnya. Mereka hidup miskin terlunta, mengais rezeki dengan berbagai cara, siapa peduli itu halal dan haram ketika semua orang juga menutup mata pada mereka. Namun lihatlah para koruptor negeri ini, melenggang kesana-kemari tak ada yang ditakutinya karena semua bisa dibeli.

Ada berapa banyak koruptor di negeri ini, adakah para pencuri itu dipenjara dan membuat mereka jera serta mengembalikan asset negara? Tidak bukan, lalu mereka yang berada diatas tampuk kekuasaan pernahkah memikirkan kami rakyat jelata ini? Menahan lapar, takut keluar karena semakin hari corona mengganas akibat new normal, lalu katanya Dia tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Rasanya aku ingin tertawa saja, menahan sesak didada juga sambil geleng kepala tak habis-habisnya adegan komedi ini.

Belum lagi selama ini harus belajar berjauhan dari teman, hanya bisa belajar lewat online, entah sampai kapan. Membayangkan kehidupan mereka yang lebih miris dari kalangan bawah, bapaknya terpaksa mencuri supaya anaknya bisa belajar daring, ada yang jual diri demi bisa membeli kuota, dan ada yang terpaksa sekolah sendiri karena tak punya HP canggih. Serta para ibu yang hilang kesabaran mendidik anaknya dirumah, akhirnya demo minta sekolah dibuka tak peduli sedang corona.

Selama sekolah libur berapa anak sekolah yang hamil diluar nikah, berapa banyak yang melakukan zina karena nonton sinetron ala dewasa. Hal itu biasa bagi mereka yang memang suka mengumbar nafsu dengan kata cinta, meraup keuntungan meski harus merusak anak yang baru beranjak remaja. Tapi melarang pernikahan dini karena katanya merampas hak anak-anak, lalu jika anak menjadi korban pelecehan seksual bahkan dalam keluarganya bagaimana? Seolah inses, LGBTQ hal biasa, padahal sangat menjijikan.

Ketika rupiah melemah dan harga emas meninggi, kita Cuma bisa gigit jari melihat Freeport masih dicuri. Tak juga kita melihat Papua itu mendapat sedikit percikan dari gunung emas yang semakin dikeruk dalam. Masih juga Papua tertinggal jauh dari banyak hal, bahkan untuk air bersih saja mereka mencari ke negeri tetangganya. Padahal mereka masih saudara kita yang tinggal jauh dari kemiskinan, pendidikan dan segalanya.

Betapa kejamnya hidup dalam sistem demokrasi ini, kita dipaksa untuk menerima. Padahal kita tahu ini salah, kita sudah merdeka tapi nyatanya masih saja kita jadi budak negara adidaya. Yang ketika kita dirampok, Cuma bisa diam saja tanpa bisa melakukan apapun. Sebentar lagi perayaan kemerdekaan tapi rasanya semakin harinya, semakin kita merasa hampa. Belum lagi resesi pasti menimpa menyusul mereka yang sudah duluan merasakannya. Mengapa kita tak berdiri sendiri, dibawah kaki langit mencengkram kuat hingga tak ada yang mampu mengoyahkan. Mengapa masih mengambil kapitalis ini yang menghancurkan kita perlahan tapi pasti? Bukankah saatnya membuang sistem busuk ini kedalam tempat sampah.

Demokrasi itu tidak oke di negeri yang mayoritas kebanyakan muslim ini, tapi dia hanya cocok di negerinya sendiri, itu pun dia sudah mulai tua, kakinya sudah tiga karna tak sanggup lagi berjalan dengan sempurna. Matanya mulai rabun dan telinganya mulai pekak, sehingga tak dapat melihat lagi mana yang harusnya dipertahankan dan dibuang. Karena baginya selama masih mendapat keuntungan tak masalah apapun caranya bagi mereka semua sah saja.

Cuma Islam yang Oke untuk diterapkan diseluruh negeri ini, yang akan menyelesaikan semua permasalahan umat seperti saat ini. Yang sudah pernah mempraktekkannya tempo dulu, meraih suksesnya hingga keluar negeri, dan itu diakui oleh mereka yang pernah langsung merasakannya. Keadilannya yang luar biasa, kepemimpinannya yang langsung dicontoh pada sang Rasul tercinta. Dimana Islam merangkul manusia manapun tanpa ada perbedaan apapun, karena baginya tak berhak untuk memukul jika tak bersalah.

Islam akan memberikan hukuman setimpal kepada para pencuri dengan memotong tangannya, dan mengembalikan semua harta yang dicurinya. Juga akan mencambuk para penzina yang belum menikah dan merajam yang sudah menikah, agar penyakit masyarakat itu tidak menular seperti AIDS/HIV menyebar. Dan akan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak di masa pandemic dan memberi fasilitas yang sangat dibutuhkan. Serta akan menyantuni mereka yang kehilangan pekerjaannya selama pandemic semua kebutuhannya akan di penuhi.

Dan para penjabat negara yang lalai akan tugasnya akan diberhentikan dan diganti dengan yang lainnya meski hanya punya kesalahan sedikit saja. Karena para pemimpin ingin memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Bukan hanya diperhatikan tapi juga akan disayang agar kemudian cinta pemimpin dan rakyat nantinya disambut dengan harapan yang baik. Dimana mereka saling berkerja dan mengoreksi demi kebaikan bersama, agar pemimpin tak terjerumus dalam permainan kekuasaan, namun ia juga butuh kritikan dan saran. Dalam Islam ketika pemimpin bersalah maka dia akan meminta maaf kepada rakyat dan mundur dari jabatannya secara sukarela.

Maka tidak ada kenikmatan lain yang bisa kita dapatkan selain Islam diterapkan dengan kaffah di muka bumi ini. Jangan menunggu negeri ini hancur seperti prediski manusia yang kadang juga bisa meleset. Karena ketika Allah berkehendak, maka tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini bisa menolaknya. Dan sungguh kabar gembira akan datangnya bisyarah Rasul semakin dekat.

Cuma orang-orang yang tak mau berfikir, ketika Islam ditawarkan jadi solusi setiap permasalahan umat dan negara tapi ditolak mentah-mentah. Orang kafir saja yakin ketika Islam tegak maka mereka tak punya tempat lagi negeri ini, konon lagi yang amat sangat benci kepada Islam dan memusuhinya. Namun mereka yang sama merindukan Islam kembali hadir seperti dahulu saat Muhammad Al-Fatih membebaskan Konstatinopel, maka tak diragukan lagi mereka para ahli zimmi yang merasa terlindungi oleh Islam. Semoga kita bisa menyaksikan peradaban agung nan mulia ini lagi.. Insyaallah. Wallahu A’lam. (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Islam It’s Okey, Demokrasi Not Be Oke"