Kesatria Paling Romantis
Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom (Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)
Biasanya seorang wanita mendambakan sisi seorang lelaki yang bisa menjadi kesatria baginya dan romantis. Bukan hanya disebuah drakor aja, yang ternyata ketika kita telisik lebih jauh di korea tidak seperti yang digambarkan di dramanya. Romantic, hal itu yang paling memalukan, maka tak heran kenapa di drama bisa seperti itu sedangkan dunia nyata hal itu masih tabu. Bahkan pacaran mereka tak seperti yang digambarkan disana, dunia nyata saat dating mereka sama-sama membayar biaya itu.
Dalam sajak puisi cinta sering kita mendengar bahwa ada sebuah kalimat yang bisa membuat para wanita itu meleleh. Yakni pada era tahun 2000-an biasanya sepasang muda-mudi selalu mengirimkan surat cinta dengan aroma yang wangi dan sedikit pantun dan puisi cinta. Hal ini yang jarang kita temui saat ini, tapi tidak semua seorang penyair itu romantic. Namun ada beberapa diantaranya yang melakukan hal itu.
Seorang wanita juga mendambakan seorang kesatria yang dapat melindunginya kapan saja, sering kita melihat film barat dan drama gambaran seperti itu seolah ada, namun itu hanya fiksi. Lelaki jaman now, sulit kita temui sisi kesatrianya, berbeda dengan jaman dahulu yang mudah kita kenali mereka. Karena biasanya para kesatria ini lahir di negeri-negeri yang banyak mengalami perang.
Namun tahukah kita bahwa pada masa dahulu Rasulullah mengabarkan ada sekelompok para kesatria yang dikabarkan oleh Allah pada saat perang badar. Mereka adalah para ahlu quwwah yang membaiat Rasulullah hingga terjadilah baiat aqabah kedua dan daulah pun tegak di Madinah. Mereka adalah kaum yang dimana sangat cinta kepada Rasulullah hingga ada sebuah kalimat yang sangat masyhur, jika diselami oleh para penyair maka sangat dalam akan maknanya yang luar biasa
Pada 8 Ramadhan tahun kedua hijriyah Rasulullah dan para sahabat keluar dari Madinah. Mereka bertarget untuk menghalangi kafilah dagang dari Abu Sufyan. Namun entah mengapa di perjalanan Rasulullah menyindir sekelompok orang dengan sindiran yang sangat mengena hingga salah seorang pemimpin kelompok tersebut mengatakan, “Wahai Rasul, apakah orang yang engkau maksud itu adalah kami” kata Saad, lalu Rasul menjawab “Benar”
Saad berkata “Kami sungguh-sungguh mengimani dan membenarkanmu. Kami bersaksi bahwa apa yang engkau datangkan adalah benar. Atas dasar itu, kami memberikan kepada engkau janji dan kebulatan tekad untuk selalu mendengar dan menaati engkau. Karena itu, lakukanlah wahai Rasulullah apa yang engkau inginkan, maka kami tetap bersama engkau. Demi Dzat yang mengutus engkau seandainya engkau mengajak kami menyeberangi lautan ini, lalu engkau terjun ke dalamnya, pasti kami akan turut bersama engkau. Tidak seorang pun dari kami yang akan berbalik dan kami tidak benci jika esok hari engkau mempertemukan kami dengan musuh kami. Sesungguhnya kami pasti sabar dalam peperangan, benar dalam pertemuan. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu sesuatu dari kami yang dapat menenangkan matamu. Berjalanlah bersama kami dengan naungan berkah Allah.” Belum selesai Sa’ad menyempurnakan ucapannya, tiba-tiba wajah Beliau Saw memancarkan kebahagiaan dan bersabda :
“Berjalanlah kalian dan bergembiralah, karena Allah swt telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok. Demi Allah sekarang seakan-akan aku melihat para kesatria” (Daulah Islam, Hal : 92-93)
Bait cinta yang sering kita dengari yaitu “Gunung akan kudaki, Lautan akan ku seberangi” dalam sebuah lirik lagu yang mahsyur kala era tahun 90-an itu, seolah ingin menggambarkan demi meraih cinta sang kekasih mereka rela melakukan apa saja untuknya. Hal inilah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah kala itu, mereka menunggu perintah sang Rasul tercinta. Maka dikatakan andai Rasul menyuruh mereka menyeberangi lautan dan terjun kedalamnya niscaya para sahabat ini akan melakukannya.
Cinta seperti inilah yang tak akan kita temui pada manusia manapun selain mereka yang saling mencintai karena Allah. Mereka ingin menenangkan Rasul dimana saat itu Rasul butuh sebuah keyakinan bahwa mereka akan terus bersama Rasulullah hingga akhir peperangan. Mereka menyerahkan dirinya hanya untuk Islam dibawah bimbingan Rasulullah. Para kesatria yang romantic ini didamba oleh seluruh wanita seluruh dunia andai masih hidup.
Sehingga Rasul mengatakan “seakan-akan aku melihat para kesatria”. Masyallah…betapa bahagianya mendengar hal itu. Seakan-akan bisa merasakan apa yang Rasulullah rasakan dan para sahabat masa itu. Dan Rasulullah tak pernah berbohong akan hal itu, beliau adalah “Al-Amin”, dan benar saja ketika kesatria ini wafat maka berguncanglah Arasy-Nya Allah, para malaikat turun menyambutnya.
Ini bukan cerita dongeng ala kerajaan Disney, inilah kisah nyata dari para sahabat sang kesatria romantic itu. Yang tidak akan pernah lagi dimasa setelahnya, jauh sebelum Islam datang para kesatria ini sudah bermunculan. Namun saat ini para kesatria layaknya dongeng menjadi impian para wanita. Mereka yang selalu mencoba menjadi seperfect apapun tidak akan menyamai sang kesatria Islam ini.
Ada seseorang yang mengidolakan superman hingga rela mengubah wajahnya dengan ribuan operasi, atau menjadi seorang pemuda setampan boneka Barbie. Barat terus menggambarkan kehebatan semu mereka dibalik superhero bertopeng dan celana ketatnya. Namun mereka lupa bahwa superhero Islam telah mendunia tak perlu diciptakan manusia citranya memang sudah terjamin dengan kehebatan Islam. Layaknya Sultan Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstatinopel, Thariq bin Jiyad, Shalahuddin al-Ayyubi sang pembebas palestina. Dan para ilmuan muslim lainnya, mereka semua lahir dari peradaban mulia yaitu Islam yang sangat disegani barat. Para kesatria ini masih hidup disisi Allah, mereka tidak mati selayaknya manusia biasa. Jasad mereka mukin terkubur namun jiwa mereka masih hidup. Wallahu ‘Alam. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Kesatria Paling Romantis"